Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Rabu, 17 Oktober 2012

Budidaya tanaman kedelai pada tanah oxisol


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Peningkatan produksi pertanian terutama tanaman pangan merupakan tujuan utama dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional. Adopsi teknologi pertanian telah tumbuh dan berkembang sejak tahun 1950, untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Salah satu faktor penghambat potensi produksi adalah kondisi tanah seperti bahan organik dan sifat kimia dan mineral tanah (Havlin, Beaton, Tisdale, Nelson, 1999). Oxisol adalah salah satu tanah bereaksi masam yang mengandung banyak sekali mineral P sekunder, seperti Al-P, Fe-P, dan oksida – hidroksida Fe/ Al karena tanah ini telah mengalami pelapukan lanjut. Tanah oxisols sebagian besar terdapat pada daerah dengan ketinggian 400 sampai 1200 m dpl dengan bentuk wilayah berbukit sampai bergunung dan pada umumnya berlereng curam. pH tanah Oxisol termasuk rendah sehingga muatan positif mendominasi muatan koloid tanah. Muatan positif berperan dalam adsorpsi dan pertukaran anion pada patahan mineral. Pemupukan yang berat pada Oxisol menjadi masalah utama dalam mengelola tanah ini untuk produksi tanaman pangan. Pelepasan P (desorpsi P) dari P yang terjerap terjadi melalui pelarutan mineral P dan mineralisasi P-organik. Kandungan bahan organik Oxisol sangat rendah dan menjadi masalah yang memicu terjadinya sorpsi P yang lebih besar. Oleh karena itu penambahan bahan organik pada pengelolaan Oxisol perlu dilakukan.
 Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan berbagai kedelai yang kita kenal sekarang (Glycine max (L) Merril). Berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara). Di Indonesia, yang dibudidayakan mulai abad ke-17 sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Penyebaran tanaman kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo menyebar ke daerah Mansyuria: Jepang (Asia Timur) dan ke negara-negara lain di Amerika dan Afrika.
 Kacang kedelai yang diolah menjadi tepung kedelai secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok manfaat utama, yaitu: olahan dalam bentuk protein kedelai dan minyak kedelai. Dalam bentuk protein kedelai dapat digunakan sebagai bahan industri makanan yang diolah menjadi: susu, vetsin, kue-kue, permen dan daging nabati serta sebagai bahan industri bukan makanan seperti : kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil. Sedangkan olahan dalam bentuk minyak kedelai digunakan sebagai bahan industri makanan dan non makanan. Industri makanan dari minyak kedelai yang digunakan sebagai bahan industri makanan berbentuk gliserida sebagai bahan untuk pembuatan minyak goreng, margarin dan bahan lemak lainnya. Sedangkan dalam bentuk lecithin dibuat antara lain: margarin, kue, tinta, kosmetika, insectisida dan farmasi.
Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5 - 300 m dpl. Sedangkan varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 hingga 600 m dpl. Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan. Sedangkan untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100-200 mm/bulan (Prihatman, 2000).
Melihat syarat tumbuh tanaman kedelai dan keadaan tanah oxisols, budidaya tanaman kedelai di tanah oxisols kurang tepat. Oleh karena itu, pada makalah ini kami membahas tentang pengelolaan tanah oxisols agar cocok untuk tanaman kedelai.

1.2  Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengelolaan budidaya tanaman kedelai pada lahan oxisols.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tanah merupakan media tempat tumbuh tanaman. Untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang baik serta memberikan produksi yang tinggi, maka dibutuhkan tanah-tanah yang mempunyai kesuburan fisika, kimia serta biologi tanah yang baik. Namun, untuk sekarang ini lahan di daerah tropis masih memiliki produktivitas yang rendah karena pengolahan yang intensif dan tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah-tanah yang mengalami degradasi fisika, kimia, dan biologi. Sementara kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Untuk memperluas areal pertanaman agar produksi meningkat maka saat ini banyak dipergunakan lahan-lahan yang mempunyai kesuburan marginal. Salah satu diantaranya yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai lahan tanaman adalah tanah Oxisol (R. E. Putri, 2011).
Klasifikasi tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara membedakan sifat-sifat tanah satu sama lain, dan mengelompokkan tanah ke dalam kelas-kelas tertentu berdasarkan atas kesamaan sifat yang dimiliki. Dalam mengelompokkan tanah diperlukan sifat dan ciri tanah yang dapat diamati di lapangan dan di laboratorium. Sumberdaya lahan mencakup dua pengertian yaitu: Sumberdaya dapat diartikan sesuatu benda/bahan yang dapat dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sumberdaya dapat berkonotasi waktu, tempat dan ekonomi. Sedangkan lahan (dari bahasa Sunda) = land, adalah bagian bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian tanah, lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi dan vegetasi yang menutupinya, yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (I. M. Mega, dkk., 2010).
Oxisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut dan banyak terdapat di daerah tropis atau sub tropis. Biasanya dijumpai pada permukaan tanah yang telah berumur tua atau tanah yang terbentuk dari bahan-bahan sedimen tua. Umumnya tanah oxisol berada pada kondisi iklim yang cukup basah untuk merombak hasil pelapukan yang menghasilkan konsentrasi residu sesquioksida dan mineral liat kaolinit. Konsep oxisol tidaklah semata-mata berdasarkan pada pertimbangan sifat kimia tanah, yang walaupun derajat pelapukan kimia yang ekstrim, tetapi juga dipengaruhi dari umur pelapukannya (M. Munir, 1996).
Tanah oxisol sebagian besar terdapat pada daerah dengan ketinggian 400 sampai 1200 m dpl dengan bentuk wilayah berbukit sampai bergunung yang umumnya berlereng curam. Kandungan bahan organik dan kesuburan tanah rendah serta peka terhadap erosi (Pusat Penelitian Tanah dalam Busyra B.S, 2000).
Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan utama yang menyehatkan karena mengandung protein tinggi dan memiliki kadar kolesterol yang rendah. Kebutuhan akan komoditi kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun baik sebagai bahan pangan utama, pakan ternak maupun sebagai bahan baku industri skala besar (pabrikan) hingga skala kecil (rumah tangga) (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2012).
Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok bagi kedelai adalah bila cocok bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai lebih baik daripada jagung. Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan. Sedangkan untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100-200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki tanaman kedelai antara 21-34 oC, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman kedelai 23-27 oC. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 oC. Saat panen kedelai yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik dari pada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air tetap tersedia. Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur dan agak asam pun kedelai dapat tumbuh dengan baik, asal tidak tergenang air yang akan menyebabkan busuknya akar (Tim Penulis, 2011).
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Sifat Fisika, Kimia, dan Biologi Tanah Oxisols.
Mengingat oxisol dicirikan oleh adanya horison oksik, tidak mempunyai horizon argilik atau spondik, maka dalam penentuan sifat fisik, kimia dan morfologi akan dititik beratkan pada sift-sifat horizon oksik sampai pada kedalaman 150 cm dari permukaan tanah
1.    Sifat-sifat Fisik
Tekstur oxisol sedang hingga halus, umumnya memiliki kandungan debu yang sangat rendah, rasio antara debu (berukuran 2 – 20 m) terhadap lempung/ liat pada suatu sampel tanah berada di bawah 0.15, walaupun oksida besi telah dihilangkan sebelum dilakukan penganalisaan terhadap ukuran partikel. Rendahnya kandungan debu ini disebabkan karena oxisol telah mengalami pelapukan lanjut sehingga memiliki mineral mudah lapuk yang rendah, di mana debu termasuk mineral yang masih mudah dilapuk.
Bulk density biasanya rendah, berkisar antara 1 hingga 1.3 gr/cm3, tergantung pada kandungan pasirnya, di mana ditentukan juga oleh volume pori yang dikandung. Sifat kemampuan menahan air relatif rendah jika dibandingkan dengan tanah lain yang memiliki kandungan liat yang sama (berarti mempunyai drainase yang baik). Bahkan banyak liat oxisol berperilaku seperti tanah yang memiliki tekstur pasir bila ditinjau dari kurva pF nya. Hal ini disebabkan karena mineral liat yang dikandung oxisol didominasi oleh tipe 1:1 (kaolin) yang mempunyai sifat menahan air yang lebih rendah dibanding dengan mineral liat tipe 2:1 (montmorilonit).
Kecepatan infiltrasi oxisol berlangsung relatif cepat jika dibanding dengan tanah yang mempunyai jenis mineral liat lain, sehingga hampir semua air yang dikandungnya pada tekanan air kurang dari 1 bar.
Keadaan seperti ini akan menjadi bermasalah pada daerah-daerah yang kurang hujan karena dapat menimbulkan keadaan kekeringan bagi tanaman yang berakar dangkal. Pada musim kemarau oxisol menunjukkan konsistensi tanah gembur.                         
2.    Sifat-sifat Kimia
Tanah oxisol mempunyai Kejenuhan Basa (KB) yang rendah, kandungan sesquioksida (Fe, Al dan Si oksida) yang tinggi serta Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang rendah. Seperti diketahui bahwa oxisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut dan berumur tua, sehingga telah terjadi pencucian unsur-unsur basa yang intensif pada bagian profil tanah. Pada beberapa great group dari oxisol (seperti eutraquox, eutrotorrox, dan lain-lain) mempunyai KB yang cukup tinggi pada kedalaman 125 cm (KB > 35 %). Sumber-sumber basa tersebut ada kemungkinan berasal dari lereng bagian atas yang merupakan tanah yang kaya akan unsur-unsur basa, seperti misalnya batu kapur.
Demikian juga halnya sebagai akibat dari pelapukan yang lanjut tersebut, terbentuk mineral liat tipe 1:1, yang mempunyai nilai KTK rendah. Rendahnya KTK juga dipengaruhi oleh rendahnya kandungan bahan organik yang secara umum terdapat pada oxisol. Adapun pada beberapa sub group dari oxisol yang mempunyai kandungan bahan organik tinggi (≥/16 kg/m2 sampai kedalaman 100 cm), hal ini disebabkan karena adanya aktivitas vegetasi di permukaan tanah yang cukup tinggi, seperti misalnya wilayah bervegetasi hutan atau padang rumput.
Oxisol memiliki reaksi tanah yang sangat masam hingga netral. Oxisol pada great group acraquox, acrotorrox, acrustox, acroperox, acrudox, mempunyai pH (KCI) ≥/ 5. pH di sini merupakan bukan kemasaman aktual (yang dinyatakan dalam pH H2O), tetapi kemasaman cadangan yang lebih tinggi dari kemasaman aktual.
3.2 Keunggulan dan Kelemahan Tanah Oxisols
Di lihat dari kesuburan alami,tanah oxisol yang telah mengalami  pelapukan lanjut di daerah kering biasanya tidak digunakan dalam pengolahan tanah untuk pertanian jika tanah-tanh dari order lain masing tersedia dalam memenuhi kebutuhan pangan.Hal ini karena oxisol mempunyai sifat-sifat khusus dan perlu penanganan yang tepat dalam pengolahannya.Sifat –sifat tersebut meliputi  cadangan unsur hara yang sangat rendah,kesuburan alami sangat rendah, kemasaman aktual yang tinggi, dan permeabilitas tinggi bserta tahan terhadap erosi.
Meskipun secara kesuburan alami rendah ,oxisol merupakan cadangan tanah yang banyak jumlahnya dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pemanfaatan oxisol di antaranya untuk perladangan, pertanian subsisten, pengembalan dengan intensitas rendah dan perkebunan yang intesif ,seperti perkebunan tebu , nanas ,pisang, kopi serta beberapa oxisol pada daerah basah digunakan untuk padi/sawah (Buol,1993)
Beberapa prinsip atau alternatif pengolahan oxisol dalam pemanfaatannya:
1) Permukaan tanah harus dalam kondisi tertutup oleh tanaman penutup tanah, Dlaam hal iniberarti pernukaan tanah tidak boleh gundul. Gundulnya permukaan tanah menywbabkan erosi, mengintensifkan pelapukan, terutama yang dipengaruhi oleh iklim serta curah hujan dapat mengakibatkan reduksi pada horizon oksik menjadi hidroksida bsi atau A1,sehingga mempengaruhi sifat fisik dan kimia yang semakin menrun.
2) Jika untuk tanaman pangan termasuk  tebu pengolahan tidak hanya dilakukan pengmupukan an organik atau pengapuran tetapi  juga dibutuhkan adanya pemasukan bahan organik yang cukup besar untuk mempertahankan kondisi tanah.Tampa bahan organik dengan memperhatikan funsinya maka pertumbuhan tanaman tidak optimal,sehingga produksi rendah .Bahan organik dapat bersumber dari tempat lain tetapi dapat juga dari daerah setempat artinya sumber bahan organik berasal dari cover crop yang ditanam sebagai tanaman penutup.
3) Potensial untuk komiditi perkebunan dengan tetap adanya cover crop serta bahan organik dalam fungsinya untuk mempetahankan kelembaban di dalam tanah serta meningkatkan retensi terhadap air. Tanaman perkebunan mempunyai sistem perakaran yang dalam sehingga sedikit sekali pengaruhnya terhadap tanah,misalnya vanyak unsur- unsur hara yang diambil oleh tanaman berasal dari lapisan bawah profil.
4) Jika oxisol terdapat pada daerah yang agak tinggi dapat dihutankan(bila sebelumnya bukan hutan) untuk meningkatkan konservasi air,yaitu sebagai cadangan air bagi daerah-daerah di bawahnya serta bimasnya dapat menjadikan daur hara/mineral.
Tekstur oxisol adalah sedang hingga halus, strukturnya relatif baik untuk pertumbuhan tanaman, bulk density biasanya sedang-tinggi. keadaan ini menyebabkan oxisol mempunyai kemampuan menahan air yang rendah, infiltrasi berlangsung relatif cepat. Jika oxisol terdapat pada daerah yang mempunyai curah hujan rendah (daerah kering) maka besar pengaruhnya bagi pertumbuhan tanaman, terutama pada tanaman dengan sistem perakaran dangkal, karena tanaman akan mengalami stres air, walaupun secara struktur dapat mendukung dalam penetrasi akar terhadap tanah serta pori udara yang memadai.
   Karena oxisol merupakan tanah yang berumur tua dan telah mengalami pelapukan lanjut, maka tanah tersebut mempunyai sifat kimia yang kurang baik bagi pertumbuhan tanaman, di antaranya KTK rendah, kandungan unsur mikro/hara yang rendah, reaksi tanah yang sangat masam hingga netral, tingginya sesquioksida serta didominasi oleh mineral liat tipe 1:1 (jika dibanding dengan mineral liat tipe lainnya). Keadaan ini menyebabkan pengelolaan yang tepat jika akan dimanfaatkan untuk pertanian, karena tidak hanya dilakukan penyediaan unsur hara yang diperlukan tanaman, tetapi juga upaya untuk memperbaiki sifat-sifat kimianya, di antaranya dengan pengapuran serta dengan pemberian bahan organik.

3.3 Pengolahan Tanah Oxisols untuk Budidaya Tanaman Kedelai
Permasalahan yang sering muncul pada pertanaman kedelai di tanah masam adalah kegagalan membentuk bintil akar (Lie, 1969) yang merupakan organ untuk menambat nitrogen udara. Hal ini seringmenjadikan kebutuhan nitrogen tanaman tidaktercukupi sehingga berakihat rendahnya hasil tanaman.Di samping itu kemasaman tanah sering diikuti oleh kekahatan unsur-unsur hara sepertiCa, Mg, K, P, Cu, Mo dan B serta keracunan Al, Fe dan Mn (Notohadiprawiro, 1983).
Untuk mengelola tanah oxisol perlu dilakukan modifikasi nilai ZPC agar menjadi lebih rendah. Apabila titik muatan nol tanah mnenurun maka muatan koloid tanah menjadi lebih negatif. Dengan perubahan titik muatan nol tersebut maka pola erapan fosfat di dalam tanah diharapkan juga akan berubah, sehingga pelepasan P lebih besar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan bahan amelioran yang mampu meningkatkan muatan negatif ke dalam tanah, sehingga diharapkan ZPC lebih rendah dari pH aktual tanah (Uehara dan Gillman, 1981). Pemberian bahan – bahan yang mempunyai titik muatan nol rendah seperti bahan organik dapat menurunkan ZPC tanah (Van Ranst et al, 1998; Ali dan Sufardi, 1999).
Pupuk Kandang merupakan salah satu dari sekian banyak jenis pupuk organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah seperti kandungan bahan organik, stabilitas agregat dan infiltrasi air.
Menurut McCalla (1975) pengaruh pupuk kandang terhadap tanah adalah:
1.        Memperbaiki kemampuan tanah menyimpan air
2.        Memperbaiki struktur tanah
3.        Meningkatkan kapasitas tukar kation
4.        Mempengaruhi kemantapan agregat tanah
5.        Menyediakan unsur – unsur hara yang dibutuhkan tanaman
6.        Menghasilkan banyak CO2 dan asam – asam organik yang membantu mineralisasi
7.        Menaikkan suhu tanah
Peranan pupuk kandang sebagai bahan organik dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah. Kapasitas Tukar Kation yang tinggi mampu memegang unsur inorganik yang diberikan dan meningkatkan daya sangga dari tanah, sehingga tanaman dapat terhindar dari beberapa tekanan seperti kemasaman tanah dan keracunan hara. Pupuk kandang juga meningkatkan daya sangga dari tanah, sehingga tanaman dapat terhindar dari beberapa tekanan seperti kemasaman tanah dan keracunan hara. Pupuk kandang juga meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara dan efisiensi penyerapan fosfat serta berperan sebagai komplek jerapan anion. Hasil penelitian Pratt dan Laag (1981) dan Klepper et al (1998) dalam Slattery et al (2002) menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi dalam jumlah besar (150 ton/ha) mampu meningkatkan P – tersedia pada tanah yang memiliki serapan P yang tinggi.
Ali dan Sufardi (1999) meunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sampai taraf 8 ton/ha dapat menurunkan status titik muatan nol yang diikuti oleh meningkatnya pH- H2O, jumlah muatan negatif dan KTK setelah 45 hari inkubasi. Selanjutnya Ali dan Sufardi melaporkan bahwa pemberian pupuk kandang juga meningkatkan serapan hara N dan P serta produksi tanaman kedelai.



BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1.        Oxisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut dan banyak terdapat di daerah tropis atau sub tropis.
2.         Sifat fisik tanah oxisols antara lain adalah Tekstur oxisol sedang hingga halus, umumnya memiliki kandungan debu yang sangat rendah, rasio antara debu (berukuran 2 – 20 m), bulk density biasanya rendah, berkisar antara 1 hingga 1.3 gr/cm3 , kecepatan infiltrasi oxisol berlangsung relatif cepat. Sedangkan sifat kimiany antara lain tanah oxisol mempunyai Kejenuhan Basa (KB) yang rendah, kandungan sesquioksida (Fe, Al dan Si oksida) yang tinggi serta Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang rendah.
3.         Keunggulan dari tanah oxisols adalah oxisol merupakan cadangan tanah yang banyak jumlahnya dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sedangkan kekurangannya dalah oxisol mempunyai kemampuan menahan air yang rendah, infiltrasi berlangsung relatif cepat, mempunyai sifat kimia yang kurang baik bagi pertumbuhan tanaman, di antaranya KTK rendah, kandungan unsur mikro/hara yang rendah, reaksi tanah yang sangat masam hingga netral, tingginya sesquioksida serta didominasi oleh mineral liat tipe 1:1.
4.         Budidaya tanaman kedelai pada lahan oksisol membutuhkan teknik pengolahan tanah yang baik seperti irigasi menggunakan teknik tetes dan sprinkler serta pemberian pupuk kandang untuk perbaikan nutrisi.

5.2 Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan lahan oxisols untuk budidaya tanaman pangan khususnya kedelai dengan tetap memperhatikan lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA

Ali, S. A dan Sufardi. 1999. Pengaruh Beberapa Amandemen Tanah Terhadap Muatan Koloid dan Sifat Fisikokimia Tanah Typic Haplohumults (ultisols). Tanah Tropika (12): 169-177

Busyra. 2000. Pengaruh Cara Pengelolaan Lahan terhadap Perubahan Sifat-Sifat Tanah Oxisol dan Hasil Kedelai di Das Singkarak. Stigma Volume 8 (3): 200-204.

Damanik, Zafrullah. 2005. Pengaruh Bahan Gambut dan Pupuk Kandang Terhadap Ciri Kimia tanah oxisol pelaihari serta pertumbuhan jagung (Zea mays). Institut Pertanian Bogor

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2012. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Tanaman Kedelai.

Mega, I. M., dkk.2010. Buku Ajar Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan. Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya).

Putri, R.E. 2011. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Limbah Cair Kelapa Sawit terhadap Beberapa Sifat Tanah Oxisol dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max (L) Merril). Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Tim Penulis. 2011. Kedelai (Glycine max L). Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan








0 komentar:

Poskan Komentar