Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

Pemangkasan tanaman kelapa sawit

BAB.1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia sebagai penghasil  kelapa sawit setelah Malaysia. Pada tahun 2004 dari data yang dihasilkan luas total perkebunan  kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 5 067 058 ha. Setiap tahunnya dapat  diproduksi Crude Palm Oil (CPO) sebesar 6.5 juta ton. Luas lahan kelapa sawit yang ada di Indonesia yang merupakan lahan efektif hanya ± 25 %, sisanya merupakan gawangan yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Untuk meningkatkan daya guna lahan tersebut sangat memungkinkan dilakukan budidaya tanaman diantara gawangan kelapa  sawit, mengingat masih meluasnya pertumbuhan gulma pada gawangan areal perkebunan kelapa sawit.
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup  penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup  cerah karena keunggulan yang banyak di dalam melakukan budidaya. Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil  olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah karet dan kopi. Sehingga tanaman karet sangat diperhatikan dalam hal meningkatkan devisa bagi negara Indonesia dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat.
Pada tahun 2008,didapat data menjelaskan tentang luas areal pertanaman kelapa sawit Indonesia yang telah menghasilkan sekitar 6,6 juta Ha dengan total produksi sekitar 17,6 juta ton CPO.  Terdiri dari Perkebunan Rakyat seluas 2,6 juta ha dengan produksi 5.895.000 ton  CPO, Perkebunan Besar Nasional seluas 687 ribu Ha dengan produksi  2.313.000 ton CPO, dan Perkebunan Besar Swasta seluas 3,4 juta Ha dengan  produksi 9.254.000 ton CPO. Sedangkan untuk luas areal pertanaman kelapa  sawit Indonesia tahun 2008 yang belum menghasilkan seluas 2,8 juta Ha.
Biasanya tanaman kelapa sawit mempunyai masa produktif secara umum lebih kurang 25 tahun, lalu setelah itu tanaman sawit harus diremajakan dengan cara diganti tanaman yang baru. Bila tidak, produksi buah di dalam tanaman kelapa sawit akan banyak berkurang dan pohon sudah terlalu tinggi untuk dapat dipanen. Dari  peremajaan akan dihasilkan sejumlah biomassa, tapi yang paling penting adalah pelepah dan batang. Mengembalikan biomassa ke areal perkebunan kembali  membutuhkan waktu yang lama. Biomassa yang tetap berada pada areal  perkebunan setelah peremajaan tersebut dapat menjadi sumber hara bagi tanaman  baru. Satu diantara berbagai sumber unsur hara pada areal pertanaman kelapa  sawit berasal dari limbah batang kelapa sawit. Supaya unsur hara dapat tersedia  bagi tanaman, maka batang kelapa sawit yang sudah ditebang perlu terdegradasi  terlebih dahulu. Oleh sebab itu maka proses pemangkasan pada daun sangat penting dalam peningkatan produksi tanaman kelapa sawit.

1.2  Tujuan
1. Agar tajuk pada tanaman dapat menghasilkan fotosintat yang optial, karena pengelolaan  tajuk yang tepat merupakan aspek kunci maksimalisasi produksi kelapa sawit. Efisiensi tajuk merubah radiasi sinar matahari menjadi karbohidrat. Pasokan karbohidrat untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman di tentukan oleh ukuran luas permukaan hijau daun.
2. Mempermudah panen.
3. Pengamatan buah matang lebih mudah.
4. Mengurangi brondolan buah yang terjepit pada pelepah daun / ketiak daun.
5. Memungkinkan buah bertambah besar.
6. Mengurangi terangkutnya brndolan.
7. Memperlancar penyerbukan alami.
8.Melakukan sanitasi kebun guna mencegah cendawan Marasmius dan menghindari pertumbuhan tanaman pakis.

BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Tanaman Kelapa Sawit
Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai menjadi tanaman minyak yang paling penting di dunia.  Produksi minyak sawit terutama didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di Malaysia dan Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak sawit (Frank,2013). Tanaman ini dapat tumbuh di luar daerah asalnya, termasuk Indonesia. Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional (Syahputra,2011).
Produksi minyak sawit telah terbukti menjadi kuat mesin pertumbuhan ekonomi (Lane,2012). Pulp buah dan kacang yang menyediakan sawit dan minyak inti, masing-masing kelapa sawit dibuat yang unggul penghasil minyak tanaman. Buah sawit (Elaeis guineensis) adalah sumber dari kedua minyak sawit (diekstraksi dari buah kelapa) dan minyak inti sawit (diekstrak dari biji buah) (Mukherjee,2009).
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menghasilkan minyak nabati sehingga diandalkan untuk meningkatkan ekspor dan penerimaan devisa negara. Dibandingkan komoditi lain seperti kelapa, kacang tanah dan kedelai, kelapa sawit adalah penyumbang minyak nabati terbesar di dunia (Pambudi,2010). Untuk masa umur ekonomis pada tanaman kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu perolehan manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang ikut menentukan bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011).
 Agar memenuhi peningkatan permintaan untuk minyak sawit, perbaikan tanaman dalam budidaya diperlukan. bibit kelapa sawit dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu benih atau bibit liar, bibit unggul dan bibit kultur jaringan. Bibit yang berasal dari kultur jaringan dianggap lebih praktis dan mutunya lebih dapat dipercaya. Namun, belum semua perkebunan kelapa sawit dapat memproduksinya (Hartawan, R, 2008). Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah beriklim tropis  dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22-330C (Ebrahimi,2013). Perbanyakan klonal kelapa sawit melalui kultur jaringan telah dikembangkan untuk perbanyakan massal bahan tanam elit. Meskipun cara ini digunakan dalam industri kelapa sawit sat ini akan tetapi, tingkat embriogenesis rendah dan proporsi tanaman kultur jaringan yang berasal dipamerkan kelainan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami molekul peristiwa yang terjadi selama somatik embriogenesis dan kultur in vitro untuk meningkatkan produksi skala dan efisiensi biaya dari proses kultur jaringan. Biasanya untuk kombinasi media  yang baik adalah media bungkil kelapa  sawit dan dedak padi yang difermentasi adalah untuk mengurangi penggunaan bungkil kelapa sawit dengan melihat pengaruh kombinasi media sehingga diketahui kombinasi terbaik untuk produksi maggot tertinggi (Arief,2012).
Ultisols dan Oxisols merupakan tanah yang berpelapukan lanjut atau sudah tua, dan di Indonesia banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat (Kasno,2011). Tanah sedikit mengandung unsur hara tetapi memiliki kadar air yang cukup tinggi. Sehingga cocok untuk melakukan kebun kelapa sawit karena memiliki kemampuan tumbuh yang baik, memiliki daya adaptif yang cepat terhadap lingkungan (Adriadi,2012).
Adapun untuk meningkatkan produksi dari tanaman kelapa sawit dengan memperhatikan cara pemeliharaan dari budidaya salah satunya adalah pemagkasan. Karena pemangkasan sangat penting dalam peningkatan produksi salah satunya adlah tanaman kelapa sawit. Biasanya pemangkasan dilakukan dengan memperhatikan umur tanaman dan baian daun yang tidak bermanfaat lagi.

2.2 Pengertian pemangkasan
Pengertian dari pemangkasan atau disebut juga penunasan yaitu  proses pembuangan daun-daun tua atau yang tidak produktif  pada tanaman salah satunya adalah kelapa sawit. Pada tanaman muda sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan, kecuali dengan maksud mengurangi penguapan oleh daun pada saat tanaman akan dipindahkan dari pembibitan ke areal perkebunan.
Pemangkasan pada tanaman kelapa sawit  dilakukan sejak pada tanaman belum menghasilkan dan diteruskan hingga tanaman sudah menghasilkan dengan tujuan untuk mempengaruhi produksi dari kelapa sawit tersebut. Pemangkasan daun juga dapat mengurangi bahaya pohon tumbang karena tiupan angin (Pahan,2004). Teknik pemangkasan dilakukan secara teratur sesuai dengan perkembangan atau umur tanaman yang ada (Setyamidjaja,2006). Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman secara umum adalah adalah sebagai berikut :
·      Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses penyerbukan secara alami
·      Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit pada pelepah daun.
·      Membantu dan memudahkan pada waktu panen
·      Mengurangi perkembangan epifir
·      Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar, terutama proses fotosintesis dan respirasi.
Macam-macam pemangkasan pada umumnya terdapat 3 macam sesuai dengan tujuan. Adapun macam akan dijelaskan sebagai berikut:
1.    Pemangkasan pasir, adalah proses pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman dengan persyaratan tanaman berumur 16-20 bulan dengan tujuan agar untuk membuang daun-daun kering dan buah buah pertama yang busuk sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
2.    Pemangkasan produksi adalah proses pemangkasan yang dilakukan pada tanaman dengan syarat umur 20-28 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah buah yang busuk.
3.    Pemangkasan pemeliharaan, adalah proses pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi dengan tujuan membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus sependek mungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.
2.3 Pemangkasan Kelapa Sawit
Pruning atau pemangkasan pada tanaman kelapa sawit adalah proses pembuangan pelepah- pelepah yang sudah tidak produktif / pelepah kering pada tanaman kelapa sawit. Pruning / pemangkasan merupakan termasuk dalam kegiatan persiapan panen dengan tujuan agar tidak mengganggu proses pemanenan pula.  Pemangkasan daun pada tanaman kelapa sawit harus dilakukan, karena tidak mudah rontok, meskipun sudah tua atau kering, terkadang baru rontok setelah beberapa tahun kemudian (Vidanarko,2011). Tujuan dari pemangkasan pada tanama elapa sawit yaitu menentukan bilangan pelepah yang perlu ditinggalkan di atas pokok supaya sentiasa mencukupi untuk memberi keluasan daun yang optimum. Kerana daun pada umumnya memainkan peranan penting untuk efisiensi distribusi fotosintat melalui proses fotosintesis ke bagian tanaman.
Pemangkasan daun pada kelapa sawit bertujuan untuk memperoleh pohon yang bersih dengan jumlah daun yang optimal dalam satu pohon serta memudahkan pamanenan (Setyamidjaja,2006). Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur/tingkat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan perlu dilakukan untuk menjaga jumlah pelepah yang optimal yang berguna  untuk tempat munculnya bunga & pemasakan buah. Pruning/pemangkasan dilakukan setelah dilakukan kastrasi & tanaman sudah mulai memasuki tahap awal panen.Pemangkasna dimulai sejak masa tnaaman belum menghasilkan (TBM) hingga masa tanaamn menghasilkan (TM) (Vidanarko,2011) Teknis pruning/pemangkasan dilakukan dengan teknik yang benar sebagai berikut :
·           Memangkas pelepah searah dengan arah spiral / letak alur pelepah. Supaya hasil dari pangkasan terlihat rapi.
·           Memangkas pelepah yang tidak produktif, dengan ciri-ciri :
·       Pelepah yang sudah tua dan kering
·       Pelepah sudah tidak dijadikan pelepah songgo ( minimal songgo 2).
·           Memangkas pelepah secara mepet & tepat pada bagian bawah pangkal pelepah. Pelepah harus dipangkas mepet dengan tujuan untuk mencegah tersangkutnya brondolan pada pelepah.
·           Menyusun pelepah hasil sisa pangkasan di Gawangan Mati atau disusun di antara pokok tanaman & dipotong menjadi 3 bagian.


DAFTAR PUSTAKA

Adriadi, A. dkk. 2012. Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais quineensis jacq.) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 1 (2): 108-115.
                           
Arief, M., dkk. 2012. Pengaruh Kombinasi Media Bungkil Kelapa Sawit dan Dedak Padi Yang Difermentasi Terhadap Produksi Maggot Black Soldier Fly (Hermetia Illucens) Sebagai Sumber Protein Pakan Ikan. Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 4 (1) : 34.

Ebrahimi, M, dkk. 2013. Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) Frond Feeding of            Goats in the Humid Tropics. Animal and Veterinary, 12 (4) : 431-438.

Frank, N. EG. el all. 2013. Breeding oil palm (Elaeis guineensis jacq.) for fusarium wilt tolerance: an overview of research programmes and seed production potentialitiees in Cameroon. International Journal of Agricultural Sciences 3 (5) :513-520.

Hartawan, R. 2008. Variabilitas Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis    guineensis Jacq.) asal Benih Unggul dan Liar. Media Akademik 2 (1) :     34-43.

Kasno, A., dan Nurjaya. 2011. Pengaruh Pupuk Kiserit Terhadap Pertumbuhan Kelapa Sawit Dan Produktivitas Tanah. Littri 17 (4): 133-134.

Krisnohardi, A. 2011. Analisis Pengembangan Lahan Gambut Untuk Tanaman Kelapa Sawit Kabupaten Kubu Raya . J. Tek. Perkebunan & Psdl (1):1-7.

Lane, Lee.2012. Economic growth, climate change, confusion and rent seeking: The case of palm oil. Journal of Oil Palm & The Environment (3):1-8.

Mukherjee, dkk. 2009. Health Effects of Palm Oil. J Hum Ecol 26 (3):197-203.

Pahan, I. 2004. Paduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta: Penerbar Swadaya.

 

Pambudi, D., dan Hermawan, B. 2010. Hubungan antara Beberapa Karakteristik Fisik Lahan dan Produksi Kelapa Sawit. Akta Agrosia 13 (1) : 35-39.

Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Jogyakarta: Kanisius.

 

Syahputra, E., dkk. 2011. Weeds Assessment Di Perkebunan Kelapa Sawit Lahan Gambut. J. Tek. Perkebunan & PSDL (1):37-42.

 

Vidanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka




1 komentar:

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar