Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 18 Juni 2013

alsintan budidaya cabai

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Suatu usaha tani pada umumnya meliputi aspek budaya bercocok tanam dan memelihara ternak guna memenuhi kebutuhan manusia semenjak zaman dahulu. Bahkan kebudayaan bertani adalah kebudayaan manusia yang paling tua. Sebelumnya, manusia hanya mahluk yang memenuhi kebutuhannya dengan cara berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan dari alam dan hutan untuk dikonsumsi.
Seiring dengan peningkatan peradaban, pertanian pun juga ikut berkembang menjadi system yang lebih kompleks. Kompleksitas system pertanian yang ada berdasarkan dari berbagai macam pola budidaya atau bertanam disuatu lahan misalnya sistem ladang, tegal pekarangan, sistem sawah dan perkebunan. Sistem yang ada sangat variatif mulai dari yang paling sederhana dan padat karya sampai dengan sistem yang canggih dan padat modal. Teknologi hadir di lingkup pertaniasebagai katalisator atau zat mempercepat pencapaian produktivitas  yang dicita-citakan. Tehnologi pertanian adalah penerapan ilmu pengetahuan atau perangkat modern dalam pelaksanaan mendayagunakan sumber daya alam serta sumber daya pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Lambat laun teknologi pertanian merupakan barang umum yang pasti dikenal oleh petani setidaknya dalam bentuk alat dan mesin pertanian ataupun mekanisasi pertanian. Petani sadar bahwa untuk mengejar target berproduksi optimal sesuai dengan tuntutan keluarga akan laba tinggi dan tuntutan pasar akan suplai besar-besaran dan kontinyu tidak bisa hanya bergantung dengan alam. Mereka memerlukan teknologi untuk memperlancar pencapaian visi itu.
Perkembangan teknologi selaras dengan peningkatan kebutuhan hidup manusia yang jumlahnya tersu meledak meningkat memaksa alam untuk memenuhi tuntutan itu semua. Alam dikuras habis-habisan. Tanpa disadari lingkungan alam memiliki daya dukung dengan ambang batas toleransi yang terus diabaikan manusia. Akibatnya lingkungan rusak dan imbasnya juga akan pada manusia. Berangkat dari kesadaran itu maka muncullah tuntutan adanya sistem pertanian berkelanjutanDefinisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia.
Inovasi pembangunan pertanian dan perdesaan perlu mempertimbangkan sumberdaya dan kebutuhan pengguna. Salah satu dasar yang dijadikan pertimbangan adalah potensi sumberdaya alam dan manusia.. Sumber daya pertanian yang dimiliki para petani tidak lain adalah faktor – faktor produksi atau masukan dalam suatu proses produksi. Sumberdaya pertanian yang tersedia di tiap agroekosistem berbeda, agar program-program yang akan dilaksanakan perlu mempertimbangkan ciri spesifikasi pedesaan, terutama didasarkan atas potensi sumberdaya pertanian yang tersedia.
Salah satu permasalahan mendasar di bidang pertanian, dan teknologi pertanian adalah keterbatatasan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang layak. permasalahan sumber daya manusia ini tentu saja memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap munculnya permasalahan-permasalahan lain.  begitu juga sebaliknya, jika permasalahan sumber daya manusia ini dapat diatasi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dalam bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan maka permasalahan yang lain akan dapat diatasi dengan lebih baik. 
Sebagian besar sumberdaya manusia yang mendukung sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan masih rendah kualitasnya.  Bagian tersebesar yaitu petani mempunyai tingkat pendidikan formal yang rendah atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar.  Hal ini menyebabkan kemampuan dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif sangat terbatas.  Rendahnya tingkat pendidikan tersebut juga berakibat pada rendahnya kemampuan petani, peternak, nelayan maupun petani hutan dalam mengelola usahanya sehingga usahanya tidak dapat berkembang dengan baik dan rata-rata pendapatan menjadi rendah. Sementara itu dalam tingkat penyuluh ditemui bahwa jumlah penyuluh yang ada sangat terbatas jumlah dan kualitasnya.  Rata-rata usia penyuluh juga sudah lebih dari 45 tahun.  Sistem dan kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan belum baik sehingga belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi profesi seorang penyuluh.
Salah satu sentra usaha tani yang dapat dikatakan lemah dibidang alsintan adalah sentra usaha cabai. Cabe  merupakan salah satu komoditas usaha tani yang unggulan bangsa yang sering dijadikan bahan pembicaraan para elit politik. Sebagai salah satu komoditas perisa atau bumbu yang unggul dan memiliki daya tarik diseluruh dunia, optimalisasi cabai di Indonesia masih belum begitu maksimal. Komoditas cabai merupakan komoditas bumbu paling primadona di pasar regional sampai pasar internasional. Di pasar dalam negri Indonesia saja kuantitas cabai mengalami defisit, akibatnya pemerintah sengaja mengimpor cabai dari luar seperti Taiwan untuk memenuhi tingginya demand akan cabai. Biasanya masyarakat menyebut cabai TW untuk cabai hasil import tersebut. Hal ini sangat menyedihkan mengingat  julukan Indonesia sebagai negara agraris juga menjadi perhatian dunia dan  notabennya adalah negeri subur beriklim tropis  berslogan “tongkat kayu ditanam jadi tanaman”. Indonesia dengan segenap potensi lingkungannya sangat pantas untuk menjadi sentral eksportir cabai dunia. Namun rupa-rupanya sektor percabaian Indonesia belum tergarap dengan bagus.
Salah satu faktor penghambat perkembangan usaha tani cabai adalah lemahnya teknologi pertanian dalam bentuk alat dan mesin pertanian yang terjangkau dan bisa diadopsi oleh petani rakyat. Untuk mendukung pengembangan tanaman cabai di Indonesia diperlukan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman, sehingga mendorong meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor cabai tersebut.
1.2  Rumusan masalah
Adapun beberapa masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1        Bagaimanakah aplikasi alat dan mesin pertanian pra panen pada tanaman cabai?
2        Bagaimanakan aplikasi alat dan mesin pertanian pasca panen pada tanaman cabai?
1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1        Untuk mengetahui aplikasi alat dan mesin pertanian pra panen pada tanaman cabai
2        Untuk mengetahui aplikasi alat dan mesin pertanian pasca panen pada tanaman cabai
1.4  Manfaat
Mahasisiwa mengerti lebih dalam mengenai alat dan mesin pertanian pra panen, alat dan mesin pertanian pasca panen dan juga aplikasi alat dan mesian pertanian pada tanaman cabai


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Alat dan mesin pertanian pra-pasca panen
2.1.1 Alat mesin pengolahan tanah
Pengolahan tanah di lahan pertanaman cabai pada umumnya sama dengan lahan budidaya pada umumnya. Pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk mempersiapkan lahan bagi pertumbuhan tanaman cabai dengan cara menciptakan kondisi tanah yang siap tanam. Pengolahan tanah lahan cabai dibagi menjadi  2 yakni
1.      Pengolahan tanah pertama atau pembajakan
Pengolahan tanah pertama atau pembajakan pada lahan pertanaman cabai biasanya menggunakan handtraktor atupun traktor yang telah terpasangkan dnegan piringan. Alat dan Mesin pengolahan tanah pembajakan adalah alat-alat dan mesin yang pertama sekali digunakan untuk pengolahan tanah yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Alat-alat dan mesin tersebut dikenal ada beberapa macam, yaitu : 1. bajak singkal (moldboard plow), 2. bajak piring (disk plow), 3. bajak pisau berputar (rotary plow), 4. bajak chisel (chisel plow), 5. bajak subsoil (subsoil plow), 6. bajak raksasa (giant plow). Dalam pengolahan lahan primer tanamn cabai menggunakan traktor tangan dengan sambungan bajak singkal. Traktor tangan adalah traktor yang mempunyai poros roda tunggal dan dilengkapi motor penggerak satu silinder dengan daya antara 3-12 hp.
2.      Pengolahan tanah kedua atau penggaruan
Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah pembajakan. Dengan pengolahan tanah kedua, tanah menjadi gembur dan rata, tata air diperbaiki, sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu dihancurkan dan dicampur dengan lapisan tanah atas, kadang-kadang diberilcan kepadatan tertentu pada permukaan tanah, dan mungkin juga dibuat guludaa atau alur untuk pertanaman. Contohnya; 1. Garu piringan, 2. Garu sisir, 3. Garu bergigi per4. Garu garu khusus ( pencacah gulma/seresah, garu pemotong putar, penggembur tanah). Pada lahan pertanaman cabai dilakukan dengan garu sisir.

2.1.2        Alat Mesin Pemeliharaan tanaman
Pemeiharaan tanaman cabe dapat membantu proses pertumbuhan tanaman sehingga tanaman akan menghasilkan pertumbuhan yang baik. Alat- alat mesin yang digunakan untuk proses pemeliharaan tanaman sangat banyak sekali.
Proses pemeliharaan meliputi kegiatan pengendalian OPT biasanya dengan perlakuan pemberian pestisida. Pestisida yang dipakai dalam budidaya tanaman umumnya berbentuk cairan dan ada pula yang berbentuk tepung, digunakan untuk mengendalikan gulma, hama dan penyakit tanaman. Untuk mengaplikasikannya pestisida cair digunakan alat penyemprot yang disebut sprayer, sedangkan untuk pestisida berbentuk tepung digunakan alat yang disebut duster. Sprayer adalah alat atau mesin untuk memecah suatu cairan atau larutan suspensi menjadi tetesan (butiran tetesan – droplest) yang besar ukurannya tertentu. Sprayer pada umumnya tersusun dari tangki, pipa laras, nozzle, pegangan, dan tali pundak, tuas pompa dan selang saluran larutan. Berikut ini contoh sprayer yang akan digunakan dilahan pertanaman cabai, dengan spesifikasi berat kosong  4,5 kg, kapasitas tangki 15 liter, tekanan maksimal 6 kg/ cm2, tekanan beroperasi normal 2 kg/ cm2 dan ukuran tinggi 530 mm, panjang 345mm, lebar 208mm.
2.1.3 Alat Mesin Pemanenan
Buah cabai dari setiap varietas cabai mempunyai perbedaan dalam jumlah dan bobot per satuan berat, yang berpengaruh terhadap rendemen biji. Perlakuan buah melalui penyimpanan buah beberapa hari setelah panen akan lebih memudahkan dalam prosesing benih secara manual. Panen untuk benih dilakukan saat benih mencapai masak fisiologis. Pemanenan dapat dilakukan dengan memetik buahnya atau dengan memotong seluruh tanamannya seperti halnya pada padi, kedelai dan kacang hijau. Namun pada cabai, pemanenan buahnya selama ini hanyalah dengan menggunakan alat tangan manusia yang sederhana dan murah.
Perontokan dapat dilakukan secara manual ataupun dengan menggunakan mesin perontok perontokan benih dapat dilakukan secara manual untuk buah yang jumlahnya sedikit. Untuk buah yang jumlahnya banyak dapat digunakan alat bantu seperti penggiling daging yang telah dimodifikasi, yaitu ujung pisau ditumpulkan untuk mengekstrak benih cabai.
Untuk dapat memisahkan benda asing yang relatif berat dan tidak terbawa oleh udara, maka dibuatlah clipper. Clipper merupakan suatu alat pembersih benih
yang telah dimodifikasi dan disebut air screen cleaner. Alat pengolahan benih Air Screen Cleaner yang menggunakan ayakan dan blower untuk memisahkan kotoran dan menyeragamkan benih sesuai dengan ukuran benih (Khalimah,2009). .Air Screen Cleaner pada intinya merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan benih dari kotoran-kotoran dan memisahkan benih yang tidak seragam serta memisahkan benih yang hampa. Proses pembersihan (cleaning) dapat diawali dengan pemisahan benih dari kotoran (sampah). Alat ini merupakan alat yang banyak digunakan untuk membersihkan benih dan dapat digunakan untuk semua jenis benih. Meskipun demikian apabila diperlukan benih dengan persyaratan tingkat kemurnian yang lebih tinggi, maka masih diperlukan alat lain. Alat ini dapat digunakan untuk memisahkan benih berdasarkan ukuran, bentuk, dan berat jenis benihSaringan yang digunakan pada alat ini terdiri atas satu set ayakan dengan bentuk lubang dan ukuran yang berbeda-beda, tergantung pada bentuk dan ukuran materi yang tercampur serta bentuk benih yang akan dibersihkan. Sementara, aliran udara yang dialirkan hanya dapat membuang benda asing materi yang ringan (Kuswanto,2002).

Gambar 1. Clipper
Setelah bersih dari kotoran, benih memasuki proses sortasi dan up-grading, yaitu memisahkan benih dari benih kecil, benih varietas lain, benih gulma, serta benih yang berviabilitas rendah (benih kecil, benih pecah dan tidak seragam). Jika dalam proses pembersihannya menggunakan mesin ASC, maka proses pembersihan, sortasi dan up-grading sudah sekaligus diselesaikan. Karena adanya mekanisme kombinasi antara ayakan atau saringan dan hembusan udara yang berfungsi untuk memisahkan antara benih-benih yang tidak seragam ukurannya dan benih hampa serta pemisah dari kotoran-kotoran (Progoharbowo,2002).
Meskipun demikian, alat ini belum dapat digunakan untuk memisahkan benih berdasarkan panjang benih. Sehingga masih diperlukan alat lain yang dapat memisahkan benih berdasarkan panjang benih. Pada saat menggunakan air screen cleaner ini, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :
  • Kecepatan aliran udara yang dialirkan kedalam alat.
  • Kombinasi, susunan, dan ukuran saringan yang digunakan.
  • Kecepatan gerakan saringan.

2.2 Alat dan Mesin Pasca Panen
2.2.1 Pembersihan dan sortir
            Pengertian pascapanen hasil pertanian adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan (pemanenan) hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan sampai siap untuk dipasarkan Hasil utama pertanian adalah hasil pertanian yang merupakan produk utama untuk tujuan usaha pertanian dan diperoleh hasil melalui maupun tidak melalui proses pengolahan (Setyono.2008).
Perontokan benih dapat dilakukan secara manual untuk buah yang jumlahnya sedikit. Untuk buah yang jumlahnya banyak dapat digunakan alat bantu seperti penggiling daging yang telah dimodifikasi, yaitu ujung pisau ditumpulkan untuk mengekstrak benih cabai. Untuk itu benih perlu dibersihkan dengan menggunakan air yang mengalir. Dapat pula dilakukan perendaman buah, yaitu buah cabai yang sudah dibelah direndam dalam tong/ ember yang berisi air bersih, selama 1 malam. Setelah itu buah dicuci dengan air yang bersih. Tiap cara mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dari prosesing benih cabai dengan cara manual akan diperoleh benih dengan kualitas yang lebih baik, warna benih kuning jerami, kerusakan benih hampir tidak ada dan persentase daya kecambah lebih tinggi. Kelemahannya adalah waktu prosesing lebih lama dibandingkan dengan prosesing benih dengan menggunakan bantuan alat. Setelah pengeringan dilakukan sortasi benih, yaitu pemilihan benih yang berukuran normal dan bernas. Benih yang hampa, rusak, dan yang berwarna hitam atau coklat dibuang.
Untuk menghindari adanya penyakit atau hama yang terbawa dari lapangan atau selama dalam penyimpanan, benih dapat diberi perlakukan pestisida yang berbahan aktif Metalaxyl dengan konsentrasi 0,2%. Untuk penyimpanan jangka panjang, sebaiknya benih dikeringkan sampai kadar airnya mencapai 7 – 8 %. Benih disimpan dalam kantung almunium foil atau dalam wadah yang terbuat dari kaca atau metal. Tempat penyimpanan benih harus tertutup sangat rapat agar udara tidak dapat masuk ke dalam wadah tersebut.

2.2.2 Penyimpanan dan penggudangan
Jika kadar air benih awal sudah baik dan konstan, yaitu lebih kurang 7%, maka untuk penyimpanan jangka menengah (medium) benih ditempatkan di  “Cold Storage” dengan kelembaban 15 – 50%. Dua faktor yang menentukan kualitas dan daya tahan benih di tempat penyimpanan benih (gudang benih) adalah kadar air benih dan suhu gudang penyimpanan “suhu rendah”. Untuk penyimpanan benih jangka menengah (18 – 24 bulan), suhu yang diperlukan adalah 16 – 20 0C, dan kelembaban 50%. Dalam proses penggudangan buah cabe dimasukkan kedalam kotak box supaya buah tidak rusak pada saat pengiriman.


Gambar 3. Cold Storage
2.2.3 Prosesing
Proses pembersihan benih ini dapat dilakukan melalui beberapa metode sebagai berikut.
a)       Screen Cleaning 
Dalam metode ini, pemisahan materi yang tercampur dengan benih dilakukan dengan menggunakan ayakan yang dibuat dari lempeng logam atau kawat dengan ukuran dan bentuk lubang yang berbeda-beda (bulat, lonjong, persegi empat, dan segi tiga) tergantung pada benih yang akan diproses. Pada pemilihan ayakan yang akan digunakan, perlu diperhatikan ukuran dan bentuk lubang ayakan yang harus lebih kecil dari pada ukuran benih yang akan dibersihkan. Dengan demikian, benda asing yang berukuran lebih kecil dari pada benih akan dapat lolos ayakan, sedangkan benih akan tertinggal di ayakan. Adapun ayakan yang digunakan dalam pemisahan tersebut dibagi menjadi 2 jenis yakni Metal dan Wiremesh
Perlakuan berikutnya adalah melakukan penyortiran, sortir dilakukan denngan manual, Proses sortasi dilakukan oleh manusia. Dalam proses sortasi dibedakan menurut warna dan besar ukuran biji. Proses penyortiran dianggap sangat penting karena dapat menentukan kualitas yang di dapat. Jika dalam proses penyortiran buah yang warnanya berbeda ikut tercampur maka dapat merusak kualitas biji yang akan disimpan.
Pengeringan buah cabai  dapat dilakukan menggunakan bantuan sinar matahari secara langsung. Pengeringan juga di lakukan menggunakan alat berupa oven besar yang dapat menyerap kadar air. Sehingga proses pengeringan dapat berjalan cepat. Dalam proses pengeringan hindari tumpukan buah terlalu tinggi karena akan memudahkan buah berjamur sehing-ga kualitas menurun. Lama pen-jemuran tergantung cuaca bila sinar matahari cukup maka diperlukan 5-7 hari. Buah diangggap kering bila kadar airnya di bawah 10% atau warna buah menjadi coklat kehitaman dan keras.
Pengemasan dilakukan menggunakan box atau plastik yang kedap air, hal ini bertujuan untuk tetap mempertahankan keawetan biji cabe, dari fungi yang dapat menyebabkan pembusukan biji cabe setelah dilakukan pengemasan hal berikut yang perlu dilakukan adalah melakukan penyimpanan. penyimpan sebaiknya ditempatkan pada ruangan yang dingin dan di kemas dalam box atau pun plastik yang kedap udara. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan keawetan buah agar terhidar dari serangan fungi yang dapat menyebabkan kerusakan buah.


BAB 3. PEMBAHASAN
3.1  Aplikasi Alat Dan Mesin Pertanian Pra Panen Pada Tanaman Cabai
Persiapan Lahan Tanam sangat pernting untuk cabai, dan dapat dilakukan dengan pengolahan tanah. Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal untuk lahan pertanaman cabai adalah antara 5.5 - 6.8.
Usaha budidaya cabai memerlukan intensifikasi dalam hal alat dan mesin pertanian. Alat dan mesin pertanian pada tanaman cabai sangatlah kompleks mulai dari alat pra panen mencakup pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan, alat dan mesin pasca panen meliputi pembersihan, sortasi, penyimpanan dan prosesing. Alat pengolahan tanah primer yang digunakan dalam budidaya cabai adalah Dalam pengolahan lahan primer tanamn cabai menggunakan traktor tangan dengan sambungan bajak singkal. Traktor tangan adalah traktor yang mempunyai poros roda tunggal dan dilengkapi motor penggerak satu silinder dengan daya antara 3-12 hp. Contoh handtraktor adalah Hand Traktor Quick G1000, dari Indoensia yang dibandrol seharga Rp.19.600.000,-  dengan spesifikasi sebagai berikut :
1.      Merk  QUICK  G 1000
  1. Kecepatan 1 maju
  2. Sistim transmisi (chain – gear)
  3. Sistim penggerak (kopling utama) v belt (2 buah)
  4. Sistim pembelok (kopling kemudi) dog cluth
  5. Isi minyak pelumas 5,5 liter
  6. Dimensi traktor dengan panjang 2730 mm, lebar 1140 mm, tinggi 1370 mm
  7. Berat 300 Kg (Berat traktor termasuk roda besi dan diesel. Apabila menggunakan roda karet berat = 250 Kg)
  8. Mesin penggerak dengan merk KUBOTA, type 4 langkah, model rd 85 di-1, menghasilkan tenaga rata-rata 7, 5 / 2200 hp / rpm dan tenaga maxsimum 8, 5 / 2400 hp / rpm, menggunakan bahan bakar solar, dengan sistim starting engkoldan sistim pendingin radiator
  9. Isi bahan bakar 9,5 liter
  10. Berat 86 kg

Gambar 7. Hand Traktor
Handtraktor ini nantinya akan digandengkan dengan bajak singkal searah. Bajak singkal merupakan peralatan pertanian untuk pengolahan tanah yang digandengkan dengan sumber tenaga penggerak/penarik seperti traktor pertanian. Bajak singkal berfungsi untuk memotong, membalikkan, pemecahan tanah serta pembenaman sisa-sisa tanaman kedalam tanah, dan digunakan untuk tahapan kegiatan pengolahan tanah pertama. Bajak singkal dirancang dalam beberapa bentuk untuk tujuan agar diperoleh kesesuaian antara kondisi tanah dengan tujuan pembajakan. Aneka ragam rancangan yang dijumpai selain pada bentuk mata bajak, juga di bagian perlengkapannya. Adapun bagian-bagian dari  bajak singkal adalah
1.      Mata bajak atau pisau bajak adalah bagian bajak singkal yang berfungsi untuk memotong tanah dan mengarahkan lempengan tanah hasil pemotongan ke bagian daun singkal.
2.      Daun singkal adalah bagian yang menerima lempengan tanah dan membalik serta memecahkan lempengan tanah tersebut.
3.      Pelurus samping berfungsi menahan tekanan samping dari lempengan tanah pada bajak singkal dan menjaga kestabilan jalannya bajak singkal sewaktu proses pembajakan.
4.      Rangka bajak singkal berfungsi menyatukan bagian-bagian bajak dan penyambung  ke sumber penggerak.
5.      Penggandeng adalah bagian dari bajak singkal yang menggandengkan bajak dengan traktor pertanian.
6.      Pengatur kedalaman pengolahan tanah. Pengatur kedalaman berbentuk ulir pengatur atau roda pengatur, untuk mengontrol kedalaman hasil pembajakan tanah.
7.      Poros silang, berbentuk batang kendali merupakan bagian dari bajak singkal yang berfungsi mengatur daun singkal sehingga dapat mengatur lebar hasil pembajakan dan mengatur arah lemparan tanah pada arah yang berlawanan.

Gambar 8. Bajak Singkal 1 arah di lahan pertanaman cabai
Pada lahan pertanaman cabai dilakukan juga pengolahan tanah sekunder yakni dengan menggunakan garu sisir. Pengolahan tanah sekunder digunakan untuk memperhalus bongkahan di lahan tanam. Garu sisir adalah alat penyisir tanah sehingga bongkahan tanah bisa menjadi lebih rata dan halus. Penyisiran tanah dengan garu sisir karena alat ini memiliki paku-paku sisir. Spesifikasi alat ini cukup sederhana, yakni cukup terdiri dari sisir penggaruk tanah yang tajam, kerangka kuat dan batang tarik dengan ujung yang langsung berfungsi sebagai pegangan. Kebetulan gambar garu tersebut digunakan secara mekanis bukanlah yang bisa tersambung dengan traktor, karena pada garu ini tidak disediakan titik gandengan.

Gambar 9. Garu Sisir di lahan pertanaman cabai

Selain pengolahan tanah juga ada pemeliharaan tanaman yang tetap memerlukan penambahan alsintan. Salah satu alat dan mesin pertanian yang digunakan saat pemeliharaan tanaman adalah knapsack sprayer. Sprayer pada umumnya tersusun dari tangki, pipa laras, nozzle, pegangan, dan tali pundak, tuas pompa dan selang saluran larutan. Berikut ini contoh sprayer yang akan digunakan dilahan pertanaman cabai, dengan spesifikasi 
berat kosong  4,5 kg, kapasitas tangki 15 liter, tekanan maksimal 6 kg/cm2, tekanan beroperasi normal 2 kg/cm2 dan ukuran tinggi 530 mm, panjang 345 mm, lebar 208 mm. Sprayer ini digunakan untuk penyemprotan pestisida. Pestisida pada tanaman cabai biasanya yang digunakan adalah Skor, Ditan, konvidor, dan Dimolis. Aplikasi penyemprotan ini menunggu sampai tanaman menunjukan gejala serangan yang serius.
  

Gambar 10. Sprayer Knapsack otomatis
            Selain Sprayer ada alat untuk menyiram pertanaman cabai yakni gembor. Gembor adalah alat tradisional yang dibuat seperti tabung dengan ujung muka seperti sower yang memiliki lubang kecil-kecil. Dari ujung lubang inilah akan keluar air dengan rata untuk menyiram tanaman.

Gambar 11. Gembor

Selain pemeliharaan, dalam pra panen juga melingkupi aspek panen. Pada budidaya cabai, p
emanenan dapat dilakukan dengan memetik buahnya tidak dengan memotong seluruh tanamannya seperti halnya pada padi, kedelai dan kacang hijau. Pada cabai, pemanenan buahnya selama ini hanyalah dengan menggunakan alat tangan manusia yang sederhana dan murah. Alat untuk memanen buah cabai ada, namun tidak banyak diapliaksikan. Alat ini adalah gunting panen. Gunting panen adalah alat sepertihalnya gunting yang digunakan khusus untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas buah cabai saat panen.

                                               Gambar 12  Saat memanen cabai dengan gunting

4.2 Aplikasi Alat dan Mesin Pertanian Pasca Panen pada Tanaman Cabai
            Selain aspek pra panen, pengolahan buah cabai juga banyak dipakai saat pasca panen. Alat dan mesin pertanian justru lebih bervariatif saat penggunaannya mencapai fase pasca panen. Hal ini karena apabila tidak segera diolah komoditas pasca panen itu akan segera rusak, karena cabai adalah komoditas yang bersifat perishable  (mudah rusak). Berikut ini adalah alat dan mesin pertanian yang digunakan saat pasca panen
Tabel 1. Alat dan mesin pertanian pasca panen
Spesifikasi
Keterangan
Conveyor Pemilah Buah (sortasi) adalah alat yang digunakan untuk memilah ataupun sortasi buah cabai dengan cara menjalankannya kedalam sabuk conveyor.
Panjang : 1550 mm

Lebar : 1200 mm
Tinggi : 1200 cm
Hopper : mild steel.
motor : 1/ 2 pk.
transmisi : gear box.
kapasitas : 150kg/ jam.
Mesin Pencuci Buah Cabe adalah alat yang digunakan untuk mencuci buah cabai secara lebih mudah dan lebih cepat dengan hasil cucian yang bersih namun tidak merusak struktur cabai
Panjang : 720 mm:

Lebar : 660 mm
Tinggi : 800 cm
Daya : 370 Watt
Berat : 36 Kg
kapasitas : 90 L
Mesin Giling Cabe adalah mesin penggiling buah cabai menjadi bubur halur yang sering ditemukan diusaha produksi saos cabai
Panjang : 580 mm


Lebar : 290 mm
Tinggi : 780 mm
Kapasitas : 10- 30 kg/ jam
Penggerak : Motor bensin 5.5 Hp
BBM : Bensin
Mini Dryer Stainless Stell adalah alat pengering hasil olahan cabai, biasanya bahan yang dikeringkan adalah bubur cabai sampai menajdi tepung bubur cabai
Panjang : 1200 mm

Lebar : 900 mm

Tinggi : 1700 mm
Kapasitas: 100- 200 kg/ proses
Pemanas : Kompor
BBM : Gas LPG/ Minyak Tanah
Mesin Pengayak Bubuk/Tepung adalah mesin yang digunakan untuk mengayak atau menyering tepung cabai pasca pengeringan dengan diameter butiran awal yang masih tidak seragam sehingga didapatkan tepung yang berukuran butiran sama, seragam dan relatif kecil
Panjang : 1000 mm

Lebar : 1000 mm
Tinggi : 800 mm
Kapasitas: 200-300 kg/jam
Penggerak: E.Motor 1 HP


BAB 4PENUTUP
4.1.Kesimpulan
Alat dan mesin pertanian adalah teknologi pertanian yang sudah banyak diterapkan oleh petani guna membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas hasil panen, oleh pihak industri guna memperlancar pengolahan pasca panen. Sektor pertanian cabai, mulai dari hulu (pra panen) sampai dengan hilir (pasca panen) sebenarnya harus dilengkapi dengan alat dan mesin pertanian yang berkualitas dan jumlahnya memadai. Untuk usaha pra panen cabai cukup menggunakan handtraktor, bajak singkal, garu sisir, knapsack sprayer, gunting, gembor. Uhtuk usaha pasca panen cabai menggunakan alat mesin pengayak bubuk/tepungmesin giling cabemini dryer stainless stellmesin pencuci buah cabe dan conveyor pemilah buah

4.2.Saran
Sebaiknya sentra produksi cabai  yang ada di Indonesi didukung oleh masyarakat dan pemerintah secara finansial dan non finansial, dengan salah satu bentuk dukungan yakni ikut mensukseskan penyediaan alat dan mesin pertanian yang berkualitas dan berkuantitas secara layak dan memadai.

DAFTAR PUSTAKA

Awang maharijayaSumberdaya Manusia Dalam Revitalisasi Pertanian. Dalam WWWWord press.com diakses pada tanggal 23 Mei 2012.

Budi Harsono. Pertanian. Dalam WWW.Lablink.or.id  Diaskes pada tanggal 23 Mei 2012

Khalimah,Siti.2009. Pengaruh Bentuk Benih Terhadap Efisiensi Pemilahan Dengan Blower Aspirator.Http: Kholimahblogspot.com.Diakses pada tanggal 17 Mei 2013.

Kuswanto,Haendrato.2002. Teknologi Pemprosesan Pengemasan dan Penyimanan Benih.Yogyakarta: Kanisius.

Progoharbowo,Imam Pranoto, Harry Santoso. 2002. Pemilihan Jalur Pengolahan Guna Meningkatkan Mutu Fisik Dan Fisiologik Benih Kedelai (Glycine Max Lokod ).Agronomy.18 (1).

Setyono,Agus.2008. Perbaikan Teknologi Penanganan Pascapanen Padi Untuk  Mendukung Peningkatan Mutu Benih Padi. Sosialisasi Inovasi Teknologi Mekanisasi Pertanian. 28 Agustus 2008.


















0 komentar:

Posting Komentar