Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

Morfologi tanaman kelapa sawit

BAB.1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Untuk penjelasan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) adalah salah satu tanaman perkebunan yang ada di Indonesia merupakan memiliki masa depan yang cukup cerah karena terdapat keunggulan di dalamnya. Tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia  namun kedatangan kelapa sawit ke Indonesia merupakan komoditi yang penting terhadap ekspor di Indonesia. Hasil dari minyak kelapa sawit menjadikan komoditi ini sebagai sumber devisa bagi negara Indonesia.
            Asal mula tanaman kelapa sawit, belu di ketahui,tetapi beberapa sumber menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit berasal dari dua negara asal yaitu Amerika Selatan (Elaeis melanococca atau Elaeis oleivera ) dan di negara Afrika  (spesies Elaeis guineen sis). Spesiesyang dijelaskan ni mulai menyebar ke seluruh dunia beriklim tropis, salah satunya Indonesia. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman pengahasil minyak nabati tertinggi, karena minyak yang di hasilkan memiliki keunggulan jika di bandingkan dengan minyak hasil olahan lainnya yaitu memiliki kadar kolesterol yang rendah bahkan non kolestrol.Apa lagi dengan tingkat konsumsi minyak sawit makin lama semakin meningkat, dan permintaan konsumen pun makin lama semakin banyak,sehingga dibutuhkan bahan baku untuk mencukupi kebutuhan yang ada.
Saat ini untuk pelaku usaha tani kelapa sawit di Indonesia yaituperusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan Negara dan perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit rakyat umumnya dikelola dengan model kemitraan dengan perusahaan besarswasta dan perkebunan Negara. Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan umum yang dihadapi dalam budidaya tanaman kelapa sawit adalah rendahnya produktivitas dan mutu produksinya. Penyebab rendah tingkat produktivitas perkebunan sawit rakyat adalah karena teknologi produksi yang digunakan masih relative sederhana dalam budidaya seperti pembibitan sampai dengan panennya. Oleh sebab itu maka dibutuhkan teknologi yang mendukung untuk menciptakan produksi kelapa sawit yang tinggi.
Saat ini tanaman kelapa sawit dibudidayakan pada lahan-lahan marginal yang relatif berada di luar jawa. Karena tanaman kelapa sawit merupakakn tanaman relative toleran terhadap kondisi lahan yang marginal. Sebagai salah satu tanaman penghasil minyak nabati, tanaman kelapa sawit memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan tanaman kelapa sawit memiliki banyak keunggulan dibanding dengan tanaman penghasil minyak nabati pada tanaman-tanaman lainnya.Oleh sebab itu maka sebagai mahasiswa pertanian pengetahuan tentang tanaman kelapa sawit dapat mendukung peningkatan produksi kelapa sawit sangat penting untuk dipelajari. Mengingat pentingnya pengetahuan tentang tanaman kelapa sawit dalam mendukung produksinya, maka diperlukan mengetahui bagian bagian morfologi pada tanaman kelapa sawit.

1.2 Tujuan
Pada acara Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Pangan dan Perkebunan mengenai morfologi tanaman kelapa sawit terdapat beberapa tujuan yang ingim dicapai antara lain :
1. Mengenal dan mengidentifikasi identifikasi tanaman kelapa sawit.
2. Memberikan pengalaman dan wawasan keilmuan bagi mahasiswa mengenai kelapa sawit.


BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kelapa Sawit
Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai menjadi tanaman minyak yang paling penting di dunia.  Produksi minyak sawit terutama didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di Malaysia dan Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak sawit (Frank,2013).  Produksi minyak sawit telah terbukti menjadi kuat mesin pertumbuhan ekonomi ( Lane,2012).
Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan saat ini terdiri dari dua jenis yang umum di tanam yaitu E. guineensis dan E. oleifera. Antara 2 jenis tersebut mempunyai fungsi dan keunggulan di dalamnya. Jenis  E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi sedangkan  E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. Jenis  E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik yang ada. Kelapa sawit Elaeis guinensis Jacq merupakan tumbuhan tropis yang berasal dari Afrika Barat. Tanaman ini dapat tumbuh di luar daerah asalnya, termasuk Indonesia. Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional (Syahputra,2011).
Masa umur ekonomis kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu perolehan manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang ikut menentukan bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011). Untuk mendapatkan tanaman kelapa sawit yang baik dan produksi yang maksimal, maka sebelum melakukan budidaya maka harus mengetahui klasifikasi dan morfologi dari tanaman sawit begitu pula syarat tumbuh tanaman kelapa sawit yang benar. Dengan mengetahui klasifikasi tanaman kelapa sawit maka dapat memahami macam-macam jenis kelapa sawit dari varietas unggul yang dapat dibudidayakan. Dengan mengetahui morfologi tanamann kelapa sawit maka dapat memahami spesifikasi setiap bagian yang dimiliki tanaman kelapa sawit. Untuk tanaman kelapa sawit memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Divisi               : Embryophyta Siphonagama
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Monocotyledonae
Famili              : Arecaceae
Sub famili        : Cocoideae
Genus              : Elaeis
Spesies            : E.guineensis. Jacq, E.oleifera (HBK) Cortes, E.odora.

2.2 Syarat tumbuh tanaman kelapa sawit
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai sekitar 15 °LU-15 °LS. Untuk ketinggian pertanaman kelapa sawit yang baik berkisar antara 0-500m dpl. Tanaman kelapa sawit menghendaki curah hujan sekitar 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan kelapa sawit sekitar 29-30 °C. Intensitas penyinaran matahari yang baik tanaman kelapa sawit sekitar 5-7 jam/hari.
Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 % untuk pertumbuhan tanaman. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Untuk nilai pH yang optimum di dalam tanah adalah 5,0–5,5. Respon tanaman terhadap pemberian pupuk tergantung pada keadaan tanaman dan ketersediaan hara di dalam tanah, Semakin besar respon tanaman, semakin banyak unsur hara dalam tanah (pupuk) yang dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi (Arsyad,2012).
Tanah sedikit mengandung unsur hara tetapi memiliki kadar air yang cukup tinggi. Sehingga cocok untuk melakukan kebun kelapa sawit karena memiliki kemampuan tumbuh yang baik, memiliki daya adaptif yang cepat terhadap lingkungan (Adriadi,2012). Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari  sekitar 15°. Kemampuan tanah dalam meyediakan hara mempunyai perbedaan yang sangat menyolok dan tergantung pada jumlah hara yang tersedia, adanya proses fiksasi dan mobilisasi, serta kemudahan hara tersedia untuk mencapai zona perakaran tanaman (Arsyad,2012). Minyak sawit ditanam sebagai industri tanaman perkebunan, sering (terutama di Indonesia) pada hutan hujan baru dibersihkan atau hutan rawa gambut bukan pada lahan yang sudah terdegradasi atau bekas lahan pertanian (Mukherjee,2009).

2.3 Jenis Dari Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan tebal tipisnya cangkang dan daging buah tanaman kelapa sawit, yang dijelaskan sebagai berikut:
1.    Dura
Jenis dura memiliki ciri-ciri yaitu: tebal cangkangnya sekitar 2-8 mm, kemudian tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar cangkang. Pada daging buah relatif tipis, daging biji besar dengan kandungan minyak rendah, banyak digunakan sebagai induk betina dalam program pemuliaan.
2.    Pisifera
Jenis pisifera memiliki ciri-ciri yaitu: tebal cangkangnya sangat tipis (bahkan hampir tidak ada), kemudian daging buah lebih tebal dari pada daging buah jenis Dura, daging biji sangat tipis, tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis lain, dengan persilangan diperoleh jenis Tenera. Pisifera tidak dapat digunakan sebagai bahan untuk tanaman komersial, tetapi digunakan sebagai induk jantan.
3.    Tenera
Jenis tenera ciri-ciri antara lain: tebal cangkangnya tipis 0,5-4 mm, terdapat lingkaran serabut disekeliling tempurung, daging buah ini sangat tebal, tandan buah lebih banyak (tetapi ukurannya lebih kecil), merupakan hasil persilangan Dura dengan Pisifera. Jenis tenera merupakan yang paling banyak ditanam dalam perkebunan dengan skala besar di sekitar. Umumnya jenis ini menghasilkan lebih banyak tandan buah.
Kelapa sawit memiliki karakteristik tertentu sesuai dangan orijinnya. Persilangan antara Dura (D) dan Pisifera (P) menghasilkan bahan tanaman komersial jenis Tenera (T atau DP). Karakteristik Tenera merupakan rekombinasi antara sifat sifat Dura dan Pisifera. Tetua Dura yang digunakan sebagai materi dasar persilangan sebagian besar berasal dari Dura Deli sedangkan tetua Pisifera berasal dari berbagai orijin (Raisawati,2010).

2.4 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan penyumbang devisa terbesar bagi negara Indonesia dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya. Setiap tanaman memiliki morfologi yang berbeda-beda cirinya dan fungsinya yang dijual. Sehingga pada budidaya tanaman kelapa sawit memerlukan pengetahuan awal terlebih dahulu mulai dari morfologinya sebelum melakukan budidaya. Tanaman kelapa sawit secara morfologi terdiri atas bagian vegetatif (akar, batang, dan daun) dan bagian generatif (bunga dan buah). Morfologi tanaman sawit adalah sabagai berikut:
a.    Akar
Kelapa sawit termasuk tanaman yang mempunyai perakaran yang dangkal (akar serabut), sehingga mudah mengalami cekaman kekeringan. Adapun penyebab tanaman mengalami kekeringan diantaranya transpirasi tinggi dan diikuti dengan ketersediaan air tanah yang terbatas pada saat musim kemarau (Maryani,2012). Pada tanaman kelapa sawit yaitu akar serabut, yang terdiri atas akar primer, sekunder, tersier, dan kuartieryang mana setiap bagian tersebut memiliki fungsi.
Untuk akar primer dapat tumbuh vertikal (radicle) maupun mendatar  (adventitious roots) dan berdiameter sekitar 6-10 mm. Akar sekunder, yaitu akar yang tumbuh dari akar primer, arah tumbuhnya mendatar maupun ke bawah, berdiameter sekitar 2-4 mm. Sedangkan pada akar tertiera adalah akar yang tumbuh dari akar sekunder. Arah tumbuhnya mendatar ke samping, dengan panjang sekitar 0.7-1.2 mm. Dan pada akar kuartier yaitu akar cabang dari akar tersier berdiameter 0,2-0,8 mm dan panjang sekitar 2cm. Akar tersier dan kuarter berada 2-2,5 m dari pangkal pokok atau luar piringan dan berada di dekat pemukaan tanah. Pada akar tanaman kelapa sawit tidak berbuku, kemudian ujungnya  meruncing, dan berwarna putih atau kekuningan.
b. Batang
Batang pada kelapa sawit memiliki ciri yaitu tidak memiliki kambium dan umumnya tidak  bercabang. Pada pertumbuhan awal setelah pafe muda terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (Sunarko,2007). Batang tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai struktur pendukung tajuk (daun, bunga, dan  buah). Kemudian fungsi lainnya adalah sebagai sistem pembuluh yang mengangkut unsur hara dan makanan bagi  tanaman. Tinggi tanaman biasanya bertambah secara optimal sekitar 35-75 cm/tahun sesuai dengan keadaan lingkungan jika mendukung. Umur ekonomis  tanaman sangat dipengaruhi oleh pertambahan tinggi batang/tahun. Semakin rendah pertambahan tinggi batang, semakin panjang umur ekonomis tanaman kelapa sawit.
c. Daun
Daun merupakan pusat produksi energi dan bahan makanan bagi tanaman. Bentuk daun, jumlah daun dan susunannya sangat berpengaruhi terhadap tangkap sinar mantahari (Vidanarko,2011). Pada daun tanaman kelapa sawit memiliki ciri yaitu membentuk susunan daun majemuk, bersirip  genap, dan bertulang sejajar. Daun-daun kelapa sawit disanggah oleh pelepah yang panjangnya kurang lebih 9 meter. Jumlah anak daun di setiap pelepah sekitar 250-300 helai sesuai dengan jenis tanaman kelapa sawit.  Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Duduk pelepah daun pada  batang tersusun dalam satu susunan yang melingkari batang dan membentuk  spiral. Pohon kelapa sawit yang normal biasanya memiliki sekitar 40-50 pelepah daun. Pertumbuhan pelepah daun pada tanaman muda yang berumur 5-6 tahun mencapai 30-40 helai, sedangkan pada tanaman yang  lebih tua antara 20-25 helai. Semakin pendek pelepah daun maka semakin banyak populasi kelapa sawit yang dapat ditanam persatuan luas sehingga semakin tinggi prokdutivitas hasilnya per satuan luas tanaman.
d. Bunga
Tanaman kelapa sawit akan mulai berbunga pada umur sekitar 12-14 bulan. Bunga tanaman kelapa sawit termasuk monocious yang berarti bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon tetapi tidak pada tandan yang sama. Tanaman kelapa sawit dapat menyerbuk silang ataupun menyerbuk sendiri karena memiliki daun jantan dan betina. Biasanya bunganya muncul dari ketiak daun. Setiap ketiak daun hanya menghasilkan satu infloresen (bungan majemuk). Biasanya, beberapa bakal infloresen melakukan gugur pada fase-fase awal perkembangannya sehinga pada individu tanaman terlihat beberapa ketiak daun tidak menghasilkan infloresen.
f. Biji
Setiap jenis kelapa sawit biasanya memiliki ukuran dan bobot biji yang berbeda. Jenis biji dura panjangnya sekitar 2-3 cm dan bobot rata-rata mencapai 4 gram, sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. Biji dura deli memiliki bobot 13 gram per biji, dan biji tenera afrika rata-rata memiliki bobot 2 gram per biji. Biji kelapa sawit umumnya memiliki periode  dorman (masa non-aktif). Perkecambahannya dapat berlangsung lebih dari 6 bulan dengan keberhasilan sekitar 50%. Agar perkecambahan dapat berlangsung lebih cepat dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, biji kelapa sawit memerlukan pre-treatment.
e. Buah
Buah kelapa sawit termasuk buah batu dengan ciri yang terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian luar (epicarpium) disebut kulit luar, lapisan tengah (mesocarpium) atau disebut daging buah, mengandung minyak kelapa sawit yang disebut Crude Palm Oil (CPO), dan lapisan dalam (endocarpium) disebut inti, mengandung minyak  inti yang disebut PKO atau Palm Kernel Oil.
Proses pembentukan buah sejak pada saat penyerbukan sampai buah matang kurang lebih 6 bulan. Dalam 1 tandan terdapat lebih dari 2000 buah (Risza,1994). Biasanya buah ini yang digunakan untuk di olah menjadi minyak nabati yang digunakan oelh manusia. Buah sawit (Elaeis guineensis) adalah sumber dari kedua minyak sawit (diekstraksi dari buah kelapa) dan minyak inti sawit (diekstrak dari biji buah) (Mukherjee,2009).
Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Tempurung kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif. Arang aktif dapat dibuat dengan melalui proses karbonisasi pada suhu 550oC selama kurang lebih tiga jam. Karakteristik arang aktif yang dihasilkan melalui proses tersebut memenuhi SII, kecuali kadar abu. Tingkat keaktifan arang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari daya serap iodnya sebesar 28,9% (Kurniati,2008).

 DAFTAR PUSTAKA

Adriadi, A., dkk. 2012. Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais quineensis jacq.) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 1 (2): 108-115.

Arsyad, A., dkk.2012. Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Potensi Produksi Untuk Meningkatkan Hasil Tandan Buah Segar (Tbs) Pada Lahan Marginal Kumpeh. Penelitian Universitas Jambi Seri Sains 14 (1): 29-36.

Frank, N. EG., el all.2013. Breeding oil palm (Elaeis guineensis jacq.) for fusarium wilt tolerance: an overview of research programmes and seed production potentialitiees in Cameroon. International Journal of Agricultural Sciences 3 (5) :513-520.

Krisnohardi, A. 2011. Analisis Pengembangan Lahan Gambut Untuk Tanaman Kelapa Sawit Kabupaten Kubu Raya . J. Tek. Perkebunan & Psdl 1 (1):1-7.

Kurniati, E. 2008. Pemanfaatan Cangkang Kelapa Sawit Sebagai Arang Aktif. Ilmu Teknik 8 (2): 96-103.

Lane, Lee.2012. Economic growth, climate change, confusion and rent seeking: The case of palm oil. Journal of Oil Palm & The Environment 1 (3):1-8.

Maryani, A. T. 2012. Pengaruh Volume Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Di Pembibitan Utama. Jurnal Agroekoteknologi 1(2): 64-75.

Mukherjee, S., dan Mitra, A. 2009. Health Effects of Palm Oil. J Hum Ecol 26 (3): 197-203.

Raisawati, T. 2010. Monitoring Keragaan Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan Utama. Akta Agrosia 13 (1) : 29-34.

Risza, S. 1994. Kelapa Sawit, Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta: Kanisius.


Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya & Pengolahan Kelapa Sawit. Tanggerang: Agromedia Pustaka.


Syahputra, E. dkk. 2011. Weeds Assessment Di Perkebunan Kelapa Sawit Lahan Gambut. J. Tek. Perkebunan & PSDL 1 (1): 37-42.


Vidanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka.


1 komentar:

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar