Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

PEMBUATAN PIRINGAN DAN PEMUPUKAN TANAMAN KELAPA SAWIT


BAB.1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi tanaman perkebunan yang sangat cerah di negara Indonesia dibandingkan yang lainnya karena keunggulan yang banyak di dalam melakukan budidaya. Tanaman kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil  olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi Indonesia setelah karet dan kopi.Sehingga produksi kelapa sawit yang ada di Indonesia sangat berperan dalam devisa negara. Negara Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia kedepannya jika budidaya kelapa sawit terus berkembang. Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit yang ada di Indonesia saat ini maka dilakukan kegiatan antara lain perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada dan intensifikasi tanaman kelapa sawit.
Minyak yang dihasilkan dari kelapa sawit merupakan sumber karotenoid alami yang paling besar. Kadar karotenoid dalam minyak kelapa sawit yang belum dimurnikan berkisar 500-700 ppm dan lebih dari 80%-nya adalah α dan β karoten. Dilihat dari kadar  aktivitas provitamin A, kadar karotenoid minyak sawit mempunyai aktivitas  10 kali lebih besar dibanding buah wortel dan 300 kali lebih besar dibanding  buah tomat.
Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit harus mengetahui pelaku usaha taninya. Pelaku usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari perusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan negara dan perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit rakyat umumnya dikelola dengan model kemitraan dengan perusahaan besar swasta dan perkebunan negara (inti – plasma).
            Khusus untuk budidaya kelapa sawit oleh rakyat permasalahan umum yang dihadapi antara lain yaitu rendahnya produktivitas dan mutu produksinya. Produktivitas kebun sawit rakyat rata-rata 16 ton untuk  tandan Buah Segar (TBS) per ha, sementara potensi produksi bila menggunakan bibit unggul sawit bisa mencapai 30 ton TBS/ha. Produktivitas CPO (Crude Palm Oil) perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton CPO per ha dan 0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha, sementara di perkebunan negara rata-rata menghasilkan 4,82 ton CPO per hektar dan 0,91 ton PKO per hektar, dan perkebunan swasta rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton PKO per hektar.
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat yaitu karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari pembibitan sampai dengan panennya. Sehingga hasil yang didapat petani relatif sedikit. Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat pada tanaman kelapa sawit, akan berpotensi untuk peningkatan produksi kelapa sawit baik yang dikelola oleh rakyat ataupun negara.

1.2 Tujuan
Pada acara Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Pangan dan Perkebunan mengenai pembuatan piringan dan pemupukan tanaman kelapa sawit terdapat beberapa tujuan yang ingim dicapai antara lain :
1. Untuk memahami dan menerapkan prinsip teknik pembuatan piringan kelapa sawit.
2. Untuk memberikan keterampilan bagi mahasiswa dalam pembuatan piringan kelapa sawit.


BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penjelasan dan Budidaya Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan yang berperan penting dalam peningkatan devisa negara selain komoditi kopi karet dan lainnya. Pada tanaman kelapa aswit juga penyerapan tenaga kerja dan peningkatan perekonomian di Indonesia. Hasil olahan kelapa sawit menjadi berbagai produk seperti minyak, mentega dan lainnya menempatkan kelapa sawit pada urutan teratas sektor perkebunan yang terpenting. Perkebunan kelapa sawit saat ini sangat berkembang pesat, sehingga kebutuhan akan bibit kelapa sawit sebagai bahan tanam semakin meningkat (Sembiring,2013). Tanaman kelapa sawit dapat dibagi menjadi bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif terdiri dari akar, batang dan daun, sedangkan bagian generatif adalah bunga dan buah.
Tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi 2 fase dalam budidaya. Fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Tanaman belum menghasilkan untuk komoditi kelapa sawit adalah tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan produksi secara maksimal. Tanaman TBM ini dibagi menjadi 3, yaitu (1) TBM 1 yaitu tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan), (2) TBM 2 yaitu tanaman pada tahun ke II (13024 bulan), dan (3) TBM 3 yaitu tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan).  Masa TBM merupakan masa pemeliharaan yang banyak memerlukan tenaga dan biaya karena pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari pembukaan lahan dan persiapan tanaman, selain itu pada masa ini sangat menentukan keberhasilan masa TM. Pemeliharaan TBM kelapa sawit sejak ditanam hingga berproduksi pertama kali meliputi:
1.        Konsolidasi tanaman,
2.        Pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit, dan lain-lain,
3.        Penyulaman,
4.        Pengendalian gulma
5.        Pemupukan,
6.        Pemeliharaan tanaman tanaman penutup tanah,
7.        Kastrasi/ablasi,
8.        Penyerbukan (polinasi),
9.        Pengendalian hama dan penyakit.
Dalam kegiatan pengendalian gulma pada lahan kelapa sawit dapat dilakukan secara manual dan atau kimia sesuai keadaan di lahan, namun di areal kelapa sawit biasanya pengendalian dilakukan secara kimia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi kompetisi antara gulma dengan tanaman pokok, yaitu kelapa sawit. Dalam hal ini dapat dilakukan piringan teknis dalam budidya pengendalian gulma pada komoditi kelapa sawit. Untuk meningkatkan produksi dari kelapa sawit dengan pemupukan dalam proses budidaya.
2.2 Pengertian Piringan
Pengendalian gulma umumnya proses budidya tanaman kelapa sawit adalah pengendalian gulma campuran pada piringan dan pasar pikul pada kelapa sawit (Barus,2003). Pengertian piringan adalah pekerjaan membasmi dan membersih rumput (gulma) yang tumbuh di piringan pokok termasuk tunggul dan kayu (Risza,2010). Piringan dilakukan di sekitar lahan tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk agar efisien diserap tanaman. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit. Karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma.  Piringan merupakan daerah yang berada di sekitar pokok kelapa sawit yang berbentuk lingkaran dengan diameter ± 4 m.. Pemeliharaan piringan juga bertujuan antara lain untuk:
·         Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,dan sinar matahari.
·         Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan bagi tanaman yang ditanam.
Sekali pun kelapa sawit termasuk tanaman keras. Pohon sawit tetap memerlukan perawatan dan pemupukan. Perawatan di sini adalah teknik piringan pada tanaman kelapa sawit agar buah dalam tandan tidak terganggu hama. Sehingga dengan dilakukan pembuatan piringan maka pemberian pupuk akan maksimal diserap bagi tanaman.
2.3 Teknis Piringan Kelapa Sawit
Dalam teknik pemeliharaan piringan baik secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Pemeliharaan piringan secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida, itu merupakan tekik yang sangat cepat tetapi mengandung banyak resiko. Dalam pembuatan piringan biasanya dilakukan secara manual terlebih dahulu setelah itu dilakukan secara chemis. Dengan manual biasanya untuk membentuk piringan pada pokok sesuai dengan diameter yang di tentukan,dengan membabat gulma yang tumbuh di sekitar piringan.
Setelah piringan pada setiap pokok sudah mulai terbentuk kemudian dilakukan secara chemis dengan menyemprot gulma yang tumbuh dengan larutan herbisida. Manfaat piringan ini selain untuk membebaskan persaingan dengan dengan tumbuhan lain dalam menyerap hara juga untuk memudahkan pemupukan (Risza, 1994). Lebar piringan menurut umur kelapa sawit yaitu :   
·      Tanaman umur 2-6 bulan lebar piringan jari jari 60 cm,
·      Tanaman umur 6-12 bulan lebar piringan jari jari 75 cm,
·      Tanaman umur 12-24 bulan lebar piringan jari jari 100 cm,
·      Tanaman umur 24-36 bulan lebar piringan jari jari 100-125 cm,
·      Tanaman umur lebih dari 24 bulan lebar piringan jari jari 200 cm.  

2.4 Pengertian Pemupukan
Biaya pupuk dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara intensif sekitar 50-70% dari biaya pemeliharaan dan 25% dari seluruh biaya produksi (Kasno,2011). Pengertian pupuk adalah semua bahan yang diberikan kepada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Selain jumlah pupuk majemuk yang diperlukan banyak juga sulit diperoleh dan mahal. Penggunaan pupuk anorganik terus-menerus juga dapat merusak lingkungan (Gusniawati,2012). Bahan yang diberikan ini dapat bermacam-macam, misalnya berupa pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dan pupuk buatan pabrik. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:
·      Blok tanaman yang akan dipupuk
·      Jumlah kebutuhan pupuk per blok
·      Permintaan kendaraan
·      Tempat pengeceran pupuk
·      Jenis dan jumlah peralatan pemupukan 
Peranan air pada tanaman sebagai pelarut berbagai senyawa molekul organik (unsur hara) dari dalam tanah kedalam tanaman, transportasi fotosintat dari sumber (source) ke limbung (sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan membukanya stomata, sebagai penyusun utama dari protoplasma serta pengatur suhu bagi tanaman. Apabila ketersediaan air tanah kurang bagi tanaman maka akibatnya air sebagai bahan baku fotosintesis, transportasi unsur hara ke daun akan terhambat sehingga akan berdampak pada produksi yang dihasilkan (Maryani,2012).

2.5 Teknis Pemupukan Kelapa sawit
Pemupukan dapat mendukung produktivitas tanaman kelapa sawit, mengingat kelapa sawit tergolong tanaman yang konsumtif terhadap unsur hara. Pemupukan pada kelapa sawit pada lahan petani, harus mempertimbangkan banyak faktor, diantaranya : jumlah hara yang diserap tanaman, hara yang dikembalikan, hara yang hilang dari zona perakaran, dan hara yang terangkut panen, serta kemampuan tanah menyediakan hara (Arsyad,2012). Kebanyakan tanaman yang menderit kekurangan unsur hara yaitu gizi menunjukkan berbagai gejala, beberapa pertumbuhan mempengaruhi serius, tetapi itu jarang bahwa kekurangan gizi membunuh tanaman (Luz,2008).
Pada tanaman muda akar serabut kelapa sawit berada di dalam piringan .Pada tanaman tua dimana kanopi tanaman sudah saling bersentuhan dan tumpukan pelepah sudah banyak,akar serabut kelapa banyak terdapat ditumpukan pelepah (Lumbangaol,2008). Pemupukan dilakukan dengan cara menaburkan pupuk dalam piringan yang dibuat melingkar di sekitar tanaman (Satrosayono,2007).
A. Metoda Pemupukan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memupuk tanaman kelapa sawit pada pirirngan sebagai berikut:
·           Bersihkan terlebih dahulu piringan dari rumput, alang-alang dan kotoran lain. Pada areal datar semua pupuk ditabur merata mulai 0,5 m dari pohon sampai pinggir piringan
·           Pada areal yang berteras, pupuk disebar pada piringan kurang lebih 2/3 dari dosis di bagian dalam teras dekat dinding bukit, sisanya (1/3 bagian) diberikan pada bagian luar teras.
B. Waktu Pemupukan
Adapun waktu yang terbaik untuk melakukan pemupukan adalah pada saat musim penghujan, yaitu pada saat keadaan tanah berada dalam kondisi sangat lembab, tetapi tidak sampai tergenang air. Dengan demikian, pupuk yang diberikan di masing-masing tanaman dapat segera larut dalam air, sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman.
C. Frekuensi Pemupukan
Pemupukan yang baik dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur kondisi tanaman. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak. Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.
d. Jenis dan Dosis Pupuk
Jenis pupuk untuk kelapa sawit dapat berupa pupuk tunggal, pupuk campuran, pupuk majemuk, dan pupuk organik. Pemilihan jenis pupuk, disarankan agar hati-hati karena banyak beredar di pasaran berbagai bentuk dan komposisi hara. Berbagai jenis pupuk diuraikan sebagai berikut.
·         Pupuk Tunggal
Pupuk tunggal merupakan pupuk yang mengandung satu jenis hara utama. Pupuk tunggal yang dipergunakan perkebunan kelapa sawit dalam memenuhi kebutuhan hara makro bagi tanaman kelapa sawit.
·         Pupuk Campuran
Untuk memenuhi kebutuhan hara secara khusus dan mengurangi biaya aplikasi, beberapa pupuk tunggal dapat dicampur menjadi pupuk campuran. Mereka mendalilkan bahwa nitrogen tanah dan ketersediaan air mungkin menjadi penyebab utama untuk variasi dalam hasil.
·         Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung beberapa unsur hara yang dikombinasikan dalam satu formulasi Keuntungan penggunaan pupuk majemuk adalah semua unsur hara utama diaplikasikan dalam satu rotasi pemupukan. Nitrogen tanah dan ketersediaan mungkin terjadi penyebab utama untuk variasi dalam hasil (Anuar,2008).
·         Pupuk Organik
Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas,mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Selain itu pupuk organik cair juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan dapat langsung digunakan oleh tanaman(Gusniwati,2012). Pemberian bahan organik sebagai pupuk memberikan pengaruh yang sangat kompleks bagi pertumbuhan tanaman, karena kemampuannya memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah (Arsyad.2012). Pemberian pupuk organik kascing merupakan satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah (Sembiring,2013).
Dengan kelangkaan dan meningkatnya biaya dari pupuk anorganik, pemupukan perkebunan kelapa sawit telah menjadi sangat mahal. Ini mengharuskan kebutuhan untuk melihat ke dalam untuk layak sumber-sumber alternatif sebagai pupuk untuk pemupukan kelapa sawit (Imoge, 2011).  Oleh karena itu, penyiaran pupuk pada tumpukan daun sepanjang baris alternatif memastikan peningkatan penyerapan pupuk karena akar lebih mampu menyerapnya (Ishola,2011). 



DAFTAR PUSTAKA

Anuar, A. R. et all. 2008. Spatial-Temporal Yield Trend of Oil Palm as Influenced by Nitrogen Fertilizer Management. American Journal of Applied Sciences 5 (10): 1376-1383.

Arsyad, Ar. dkk. 2012. Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Potensi Produksi Untuk Meningkatkan Hasil Tandan Buah Segar (Tbs) Pada Lahan Marginal Kumpeh. Penelitian Universitas Jambi Seri Sains 14 (1): 29-36.

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan, Efektivitas dan Efisiensi Aplikasi Herbisida. Yogyakarta: Kanisius.


Gusniawati, dkk. 2012. Kelapa Sawit (Elais Guineensis Jaqc. ) di Pembibitan Utama dengan Perbedaan Kombinasi Pupuk Cair Nutrifarm dan Npkmg. Agroteknologi 1 (1): 46-55.

Imoge, A. E. et all. 2011. Evaluation of some locally sourced phosphate rocks for oil palm production. Journal of Soil Science and Environmental Management. 2 (6): 153-158.

Ishola, T. A., et all.2011.  A new concept of Variable Rate Technology fertilizer applicator for oil palm. International journal of Agronomy and Plant Production 2 (5): 181-186.

Kusno, A., dan Nurjaya. 2011. Pengaruh Pupuk Kiserit Terhadap Pertumbuhan Kelapa Sawit dan Produktivitas Tanah.  Littri 17(4) : 133-139.

Lumbangaol, P. 2008. Rekomendasi Pupuk Kelapa Sawit.Sumatra: Rekomendasi kelapa sawit.

 

Luz, P. B., et all. 2008. Effect of Foliar and Substrate Fertilization on Lady Palm Seedling Growth and Development. Journal of Plant Nutrition (31): 1311–1318.

 

Maryani, At. 2012. Pengaruh Volume Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Di Pembibitan Utama. Agroteknologi 1 (2): 64-75.

Risza, S. 2010. Masa Depan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.


Risza, S. 1994. Kelapa Sawit, Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta: Kanisius.

 

Sembiring, E. L. 2013. Pengaruh Penggunaan Pupuk Kascing Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Dari Berbagai Sumber Asal Bibit Di Pembibitan Utama. Agroteknologi 1 (1) : 1-13.

Sastrosayono, S.2007. Budi Daya Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka.

 




1 komentar:

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar