Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Rabu, 28 November 2012

Fieltrip Jogya dan solo


I. PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang
Sektor pertanian merupakan bagian integral dari sistem pembangunan nasional dirasakan akan semakin penting dan strategis. Hal tersebut dikarenakan sektor pertanian tidak terlepas dan sejalan dengan arah perubahan dan dinamika lingkup nasional maupun internasional .
Dalam satu abad  terakhir jumlah penduduk dunia telah meningkat secara eksponensial dan diperkirakan mencapai angka 8,3 miliar menjelang tahun 2025. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan lahan untuk pemukiman dan aktifitas industri meningkat, sehingga memaksa manusia berusaha tani pada lahan yang marginal. Guna memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk dunia yang diproyeksikan terus meningkat ini, produksi rata-rata tanaman serealia harus meningkat setidaknya 80 persen hingga tahun 2025 ..
Di lain pihak, hampir seluruh lahan pertanian di dunia telah menurun secara drastis secara kualitas  ekosistem dikarenakan oleh sistem pertanian terdahulu yang disebut dengan sistem pertanian tradisional dan Revolusi Hijau atau sistem pertanian konvensional. Diperlukan suatu strategi pertanian khusus untuk bisa tetap bertahan agraris yakni pertanian berkelanjutan.
Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi 3 fungsi dasar pembangunan pertanian berkelanjutan. Fungsi tersebut adalah fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi ekologi. Fungsi tersebut direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.
Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input). Penggunaan input minimal dalam pendekatan berkelanjutan pada sistem pertanian digunakan dengan alasan bahwa pertanian itu sendiri memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal .
Tujuan dari sustainable agriculture adalah peningkatan daur ulang secara alami untuk memaksimalakan input menggunakan bahan-bahan organik. Konsep pertanian berbasis ekologi telah berkembang pesat sejalan meningkatnya taraf hidup dan kesadaran lingkungan. Sistem pertanian ekologis (sustainable agriculture) yang dikembangkan antara lain LISA (low input sustainable agriculture), pertanian ekologis terpadu (integrated ecological farming system), dan pertanian organik (organic farming system) (Zulkarnaen, 2009). Untuk lebih mengetahui tentang konsep pertanian berkelanjutan, maka diadakan kunjungan lapang di Jogjakarta dan Solo. Kunjungan lapang tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah makalah.

2.1 Tujuan
1.    Untuk mengetahui konsep sistem pertanian berkelanjutan.
2.    Untuk mengetahui indikator pertanian berkalanjutan ditinjau dari sisi ekonomi, ekologi  dan sosial
3.    Untuk mengetahui contoh penerapan sistem pertanian berkelanjutan.


II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sejarah Sistem Pertanian Berkelanjutan
Pertanian  merupakan basis negara agraris seperti Indonesia. Pertanian merupakan sentral utama penghidupan negara Indonesia. Pertanian tradisional adalah salah satu model pertanian yang masih sangat sederhana dan merupakan perkembangan pertanian yang masih sangat sederhana dengan pola masyarakat yang serba kurang menerima teknologi.  Pertanian tradisional merupakan buntut dari pertanian zaman prasejarah yang mulai mengalami peningkatan pola fikir dari sebelumnya huma (ladang berpindah) menjadi pertanian menetap.
Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak  memaksimalkan input yang ada. Sistem  pertanian tradisional salah satu contohnya adalah sistem  ladang berpindah. Sistem  dallang berpindah  telah tidak sejalan lagi  dengan  kebutuhan  lahan yang  semakin meningkat akibat  bertambahnya penduduk.
Sistem pertanian Revolusi Hijau juga  dikenal dengan sistem pertanian yang konvensional.  Program Revolusi hijau diusahakan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas baru yang melampaui daerah adaptasi dari varietas yang ada. Varietas tanaman yang dihasilkan adalah yang responsive terhadap pengairan dan pemupukan, adaptasi geografis yang luas, dan resisten terhadap hama dan penyakit. Gerakan ini diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi diFilipina (1960). Revolusi hijau menekankan pada tanaman serelia seperti padi, jagung, gandum, dan lain-lain.
Gagasan tersebut telah merubah wajah pertanian dunia, tak terkecuali wajah pertanian Indonesia. Perubahan yang nyata adalah bergesernya praktik budidaya tanaman dari praktik budidaya secara tradisional menjadi praktik budidaya yang modern dan semi-modern yang dicirikan dengan maraknya pemakaian input dan intensifnya eksploitasi lahan. Hal tersebut merupakan konsekwensi dari penanaman varietas unggul yang responsif terhadap pemupukan dan resisten terhadap penggunaan pestisida dan herbisida. Berubahnya wajah pertanian ini ternyata diikuti oleh berubahnya wajah lahan pertanian kita yang makin hari makin menjadi kritis sebagai dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik, pestisida, dan herbisida serta tindakan agronomi yang intensif dalam jangka panjang .
Data Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan tahun 1993 menunjukkan bahwa luas lahan bermasalah sudah mencapai sekitar 18,4 juta ha dengan rincian 7,5 juta ha potensial kritis; 6,0 juta semikritis; 4,9 juta ha kritis. Bila diasumsikan, laju penggundulan hutan sekitar 2-3 juta ha pertahun dan ditambah dengan lahan  bekas  tambang  maka  luas lahan  kritis di  Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 30-40 juta  hektar .
Keadaan tersebut akan semakin parah karena adanya konversi  lahan  ke nonpertanian, pengrusakan hutan yang mencapai 25  ha permenit atau 2 juta ha per tahun. Selain itu, pemakaian berbagai senyawa xenobiotika seperti  pestisida dan  fungisida berlangsung secara intensif dalam merusak lingkungan antara 300.000 - 600.000 hektar per tahun. Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan juga menyebabkan lahan menjadi kritis. Berdasarkan hasil kajian Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, sebagian lahan pertanian di Indonesia  memiliki kandungan C-organik kurang dari 1%. Hal  tersebut mengindikasikan bahwa anorganik  dengan dosis berapa pun tidak  akan  meningkatkan  produksi.
Adanya dinamika tersebut menyebabkan munculnya ide untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga generasi berikutnya dan tidak merusak alam. Dalam dalam dua dekade terakhir telah mulai diupayakan metode alternatif dalam melakukan praktik pertanian yang dinilai berwawasan lingkungan  dan berkelanjutan (environtmentally sound and sustainable agriculture). Salah satu caranya adalah menggunakan konsep pertanian berkelanjutan.
Pertanian berkelanjutan atau pembangunan pertanian berkelanjutan pertama kali menjadi pembicaraan dunia pada tahun 1987, tahun 1992 diterima sebagai agenda politik oleh semua negara di dunia sebagaimana dikemukakan dalam Agenda 21, Rio de Jeneiro. Dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi jangka panjang dapat dilakukan bila dikaitkan dengan masalah perlindungan lingkungan. Pertemuan Johanesberg, Afrika Selatan (2-4 September 2002) yang merupakan pertemuan puncak Pembangunan Berkelanjutan (”World Summit On Sustainable Development”) menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan pandangan dan penanganan jangka panjang dengan partisipasi penuh semua pihak. Secara jelas dinyatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan aspirasi generasi mendatang. Di bidang pertanian diterapkan dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan atau berwawasan lingkungan, yang dalam pelaksanaannya sudah termasuk aspek pertanian organik.

2.2 Ciri Pertanian Berkelanjutan
A. Fungsi Ekologi
1. Pengendalian Hama Alami: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu cara untuk mengendalikan hama adalah dengan cara metode  mengimpor musuh alami hama tertentu. Metode ini dikenal sekitar 1 abad laludi California. Di sana serangga bersisik (Icerya purchasi) dibasmi mengggunakan serangga  jenis kumbang  (Rodolia cardinalis). Kumbang Rodolia cardinalistelah berhasil memberantas hama serangga bersisik di berbagai belaahan dunia
Selain itu, contoh pengendalian hama menggunakan pemangsa alami juga terjadi pada kumbang badak atau dikenal dengan Oryctes rhonoceros. Kumbang badak diberantas dengan virus yang bersifat patogen (Espig, 1988).
2. Pestisida Alami: Pestisida alami sangat penting bagi  pertanian berkelanjutan. Pestisida alami mengandung senyawa kimia alami yang dapat mengusir hama tanaman budidaya. Contohnya adalah: ekstrak biji daun nimba (Azadirachta indica); ekstrak biji bunga krisan (Chrysanthemum cinerariifolium) efektif mengendalikan semut, aphid, ulat, dan kutu daun;  ekstrak biji bawang putih (Allium sativum) efektif  mengendalikan serangan aphid, ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) efektif mengendalikan  serangan rayap, bakteri Bacillus thuringiensis efektif  mengendalikan ulat Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis; cendawan Trichoderma sp. dapat menekan serangan Fusarium sp. Rhizoctonia sp., dan Phythium  sp. terhadap  tanaman  hortikultura.
3. Agroforestri: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu pola tanam yang digunakan adalah menggunakan pola tanam berbasis agroforestri. Pola tanam ini secara umum adalah pola tanam yang memadukan integrasi pohon hutan dengan ladang.  Fungsi ekologi pohon hutan dapat memberi manfaat berupa pengangkutan unsur hara, penambatan nitrogen, kenaikan bahan organik tanah, perbaikan strutuktur tanah, dan pengendalian erosi. Pohon dapat  mengembangkan sistem perakaran yang jauh lebih dalam dari tanaman musiman, sehingga  pohon dapat menyerap unsur hara yang tidak diserap oleh tanaman budidaya. Unsur hara  yang didapat oleh pohon hutan  dibawa kembali kedalam  daur biologi kedalam kayu pohon, daun, serta buah pohon. Salah satu pohon yang memiliki biomasa  terbesar adalah lamtoro. Penaman pohon lamtoro dalam sistem agroforestri dapat memberikan  dampak positif bagi sistem pertanian berkelanjutan .
 4. Skema Suksesi: Pada pertanian berkelanjutan, salah satu pola bertanamnya adalah meniru suksesi hutan. Metode suksesi biasanya dilakukan pada lahan yang keanekaragamanhayatinya kurang. Konsepnya adalah petani menanam suatu tanaman, kemudian tanaman tersebut tidak dipanen secara total dan membiarkan tanaman budidaya di tumbuhi ilalang dan semak belukar. Dengan adanya metode suksesi, keanekaragaman hayati akan bertambah, sehingga konsep keberlanjutan akan dapat diwujudkan.
 5. Keanekaragaman Tanaman: Ciri umum  dari pertanian  berkelanjutan adalah keanekaragaman  tanaman. Bahkan sistem yang berorientasi pasar pun akan menghasilkan beberapa produk. Salah satu sistem pertanian berkelanjutan yang berorientasi pasar adalah sistem pertanian drip di Meksiko. Dalam banyak hal, mencampurkan tanaman akan  meningkatkan pertumbuhan, bukan  menghalanginya. Penggunaan kacang-kacangan  sebagai  tanaman sela akan  meningkatkan  kesuburan  tanah. Di  Tomo  Acu misalnya, petani  menggunakan pohon  pengikat nitrogen  sebagai  pengganti tiang untuk  tanaman  merica yang merambat.Dengan berbagai jenis tanaman yang ditanam, hal ini akan menghindari kekurangan pangan  karena beragamnya  tanaman yang akan dipanen.
6. Rotasi Tanaman: Salah satu metode  pertanian berkelanjutan adalah menerapkan sistem rotasi tanam. Rotasi tanam dapat meningkatkan kandungan bahan mineral tanah. Rotasi tanam yang  disarankan adalah Rhizobium, Phaseolus sp, dan lain lain. Hal tersebut karena  kedua jenis tanaman  tersebut dapat menimbun N (.
7. Sistem Pengolahan Minimal: Pertanian berkelanjutan juga menggunakan metode sistem pengolahan minimal. Pada tanah yang memiliki  top soil tipis, atau pada tanah yang kemiringannya curam, sebisa  mungkin mengolah tanah  secara minimal untuk pengembalian atau peningkatan unsur hara .
 8. Daur Ulang Zat Hara: Daur ulang zat hara didaerah tropika  berlangsung cepat dan efisien. Kebanyakan hara terikat pada vegetasi hidup. Ketika vegetasi hidup itu mati, zat  hara akan di urai  oleh  mikroba dan  zathara  tersebut  dapat  digunakan  oleh  tanamanan. Pada konsep  pertanian berkelanjutan, hara di lahan pertanian lebih  banyak karena terdapat  pola  daur  ulang hara  dari  tumbuhan  yang telah  mati  lalu  dibiarkan. Dengan  hara yang lebih banyak, lahan dapat ditanami secara lebih intensif tanpa merusak kesuburan  lahan pertanian.
 9. Pengembalian Sisa Tanam: Salah  satu metode  pertanian berkelanjutan adalah pengembalian sisa tanaman. Pengembalian sisa-sisa tanaman dari musim panen pada tanah sedapat  mungkin harus  dilakukan. Dengan teknik pengembalian sisa tanaman pada tanah, sisa tanaman akakn cepat terombak melalui penguraianoleh jasad renik sehingga akan menjadi bahan organik tanah. Adanya bahan organik tanah akan meningkatkan kualitas tanah, sehingga tanaman budidaya akan  tumbuh lebih baik .       
 10. Penggunaan Pupuk Organik: Pupuk oraganik selalu digunakan pada sistem pertanian berkelanjutan. Pupuk organik  berasal dari serasah  tumbuhan atau sisa hewan yang telah  mati. Pupuk organik harus memiliki beberapa persyaratan yaitu: N harus mudah  diserap oleh tanaman dalam bentuk organik, pupuk tidak  meninggalkan asam organik  dalam  tanah, Pupuk sebaiknyamemiliki kandungan C yang tinggi seperti hidrat arang. Pupuk organik memiliki peran penting  untuk menggemburkan lapisan top soil. Pupuk organik dapat  meningkatkan pertumbuhan jasad renik yang baik untuk kesuburan tanah. Walaupun demikian, pupuk organik tidak bis diandalkan karenakandungan mineralnya sedikit .
11. Menggunakan Pupuk Hijau: Pupuk hijau diperlukan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Pupuk hijau didapat dengan menggunakan famili leguminosa. Tanaman dari famili leguminosa digunakan karena banyak mengandung N. Adanya N akan  mendorong zat renik untuk menguraikannya. Dalam hidupnya, zat  renik membutuhkan N  untuk hidup. Kandungan N yang tinggi (perbandingan C/N besar) melebihi tersedianya N yang diperlukan jasad renik, kelebihannya ini dimanfaatkan tanaman bagi peningkatan pertumbuhan dan perkembangannya.
12. Penggunaan Bioteknologi Tanah: Pada pertanian berkelajutan, penggunaan biologi tanah cukup menjanjikan. Dengan menggunakan bioteknolgi  tanah, penggunaan pupuk buatan akan dapat dikurangi juga meningkatkan  efisiensi input . Contoh bioteknologi  tanah adalah:
  1. Legin dan Rhizogin: Penggunaan Legin dan Rhizogin yang mampu mengurangi penggunaan pupuk Urea sebesar 50-75%
  2. Azolla: Penggunaan Azolla padapadi sawah  dapat menghemat pemakaian Urea hingga50%
  3. Azotobacter:Inokulassibakteri Azotobacter pada area pertanian biji-bijian  mampu menekan penggunaan urea  antara 60-70 kg ha-1.
  4. Azoxpirilium. Dengan inokulasi bakteri Azosprilium  pemakaian urea dapat dihemat  antara 50-100 kg ha-1.
  5. Ganggang Biru-hijau: Penggunaannya akan menghemat 100 kg ha-1 urea.
  6. Mikoriza: Mikoriza  dapat  melarutkan  fosfat, sehingga dapat menekan penggunaan pupuk TSP antara  70-90%.
13. Metode Konsevasi Tanah: Pada  pertanian berkelanjutan, fungsi ekologi sangat diperhatikan. Salah satunya dengan cara menjaga kesuburan tanah. Dalam konsep pertanian berkelanjutan dalam hal konservasi tanah, dikenal sebuah istilah  yaiutu using for immediate needs and saving for future use yang artinya adalah bahwa dalam mengelola dan pengelolaan tanah, dibutuhkan perhatian mengenai kebutuhan yang segera (sekarang) serta manfaatnya yang akan datang bagi generasi penerusnya . Cara pengkonversian tanah yang bisa dilakukan dalam sistem pertanian yang berkelanjutan adalah:
  1. Berdaya upaya agar permukaan tanah tetap tertutupi tanaman pelindung, sehingga kandungan organiknya dapat dipertahankan.
  2. Pembuatan sengkedan yang mengikuti kontur tanah agar tidak  terjadi  erosi.
  3. Segala tindakan atau perlakuan dalam melakukan pengolahan tanah seperti membajak, menggaru, menyimpan bedengan pembibitan, dan lain-lain harus sejajar dengan garis kontur tanah agar tidak terjadi erosi.
14. Metode Konservasi Air: Metode konservasi air dapat dilakukan dengan sistem pengaturan jadwal irigasi, atau dengan cara yang lebih mudah yaitu mengembangkan tanaman rerumputan yangg tidak mengganggu di sela-sela tanaman budidaya yang dapat berfungsi ganda yang dapat mencegah erosi serta menjadi  makanan ternak .
Salah satu tanaman rumput yang digunakan adalah Cynodon dactylon (bermuda grass), Pennisctum clanddestium (kikuyu grass), dan Pueraria phaseolides (Tropical kudzu). Penggunaan  tanaman rumput diatas sangat  beralasan  karena  tanaman rumput tersebut dapat tumbuh dengan  cepat sehingga dalam waktu  pendek  tanah dapat tertutup pleh rumput tersebut. Rumput tersebut  secara sistematis berfungsi  sebagai  pelindung permukaan  tanah dari tumbukan  butir-butir air  hujan dan  memperlabat  aliran  permukaan, sedangkan bagian  akar  rumput  dapat memperkuat  resistensi  tanah dan  membantu  melancarkan infiltrasi air kedalam tanah .


B. Fungsi Sosial
Pertanian berkelanjutan hadir sebagai salah satu jalan pemutus mata rantai kemiskinan utamanya yang ada di pedesaan. Stabilitas produksi yang terus meningkat dengan harga bahan hasil panen pertanian organik yang tinggi mulai menjajikan input bagi pedesaan miskin. Selain itu, pertanian berkelanjutan juga berkorelasi positif dengan peningkatan kesehatan masyarakat. Hal ini karena produk pertanian yang dihasilkan memiliki sertifikasi aman dimakan, baik dalam jangka waktu yang berkepanjangan, dan bebas pestisida, serta persenyawaan sintetis lainnya.
Pertanian berkelanjutan juga telah berisi campur tangan pemerintah dan para ahli lingkungan pertanian yang mulai tersadar untuk hidup optimal, baik optimal secara ekonomi ataupun optimal dalam menjaga lingkungan agar terus bisa hidup.  Selain itu sumber daya manusia yang digunakan sudah lebih dewasa, lebih terbuka sehingga lebih mengerti benar tentang alam dan bagaimana merawatnya tanpa harus mengabaikan aktivitas ekonomi usaha tani yang berorientasi profit. Pengetahuan didapatkan secara formal mauopun nonformal dari sharing para penuluh lapang.
C. Fungsi Ekonomi
Pendapatan aktual yang dituai memang lebih rendah ketimbang sistem pertanian yang lain hanya saja hal ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju perbaikan kualitas lahan-lahan. Sistem permodalan yang digunakan harus bersumber dari dana pribadi, ataupun pinjaman dari bank-bank negeri, koperasi pemerintahan ataupun lembaga penyedia jasa kredit resmi lainnya. Hal ini untuk menghindari terselenggaranya praktek pembungaan pinjaman yang salah. Selain itu diharapkan petani berkontribusi aktif mengikuti asuransi sehingga ketika hasil yang dituai belum maksimal masih tersedia uang untuk tetap betahan hidup. Daya saing ekonomis produk konvensional lebih tinggi. Hal ini karena orientasi pasar yang dituju pertama kali adalah konsumen tingkat atas yang mapan dalam hal membeli. Hasil panenan akan lebih terjual mahal seiring dengan laju kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan organik sebagai salah satu produk dari pertanian berkelanjutan.

 
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1989. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Isitimewa Yogyakarta.  Jakarta: Depdikbud Press.

Djojosumarto P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.

Elpig Gustaf. 1988. Ekologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Grandwohl Judith dan Greenberg  Russel. 1991. Menyelamatkan Hutan Tropika. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

IPB. 2002. Tahun 1963 Perguruan Tinggi  Menjawab Tantangan Masalah Pangan. Bogor : IPB Press.

Kartasapoetra A.G dkk.. 1985. Teknologi  Konesrvasi  Tanah  dan  Air. Jakarta: Rineka Cipta.

Soetriono dkk. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Jakarta : Bayumedia.

Sutejo Mul Mulyani. 1987. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta.

Tim Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000. Kebijakan Perlindungan Tanaman Hortikultura Dengan Orientasi Pasar Global. Jakarta : Departemen Pertanian

Zulkarnaen. 2009. Dasar-Dasar Hortikultura. Jakarta : Bumi aksara.



0 komentar:

Posting Komentar