Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 18 Juni 2013

Laporan Teknik Media Tanam Pada Tanaman Sawi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sawi (Brassica juncea L.) merupakan jenis tanaman sayuran daun yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah kubis dan brokoli. Selain itu, tanaman sawi juga mengandung mineral, vitamin, protein dan kalori. Sawim dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah yaitu 3-1.200 m dpl, namun tinggi tempat yang optimal adalah 100-500 m dpl. Sawi banyak dibudidayakan para petani di dataran rendah karena akan sedikit lebih menguntungkan (Haryanto dkk, 2008). Sawi dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun untuk pertumbuhan yang paling baik adalah jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol. Pada tanah- tanah yang mengandung liat perlu pengolahan lahan secara sempurna antara lain pengolahan  tanah yang cukup (Suhardi, 1990).  Tanah yang cocok untuk ditanami saei adalah tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organik (humus), tidak menggenang (becek), tata aerasi dalam tanah berjalan dengan baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Haryanto dkk, 2006).
Pada budidaya tanaman, khususnya sawi, baik pembibitan maupun penanaman dilahan media tanam merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Media Tumbuh di lahan atau tanah adalah tempat tumbuh tumbuhan di atas permukaan bumi. Di dalam tanah terdapat air, udara dan berbagai hara tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air yang beada dalam tanah sangat pentig untuk proses kimia, biologi dan fisika tanah. Sebagain air tanah terdapat dalam bentuk lapisan tipis yang dinamakan air kapiler. Air kapiler membentuk larutan tanah yang berfungsi seba-gai sumber unsur hata tumbuhan. Udara dalam tanah beasal dari udara atmosfir yang mengandung sekitar 21% Okigen, 78% nitrogen, dan 1% CO2 beserta gas lainnya. Semua gas tersebar dalam poripori tanah atau terlarut dalam tanah. Akar dan organisme tanah memerlukan oksigen untuk proses pernafasan (respirasi). Oksigen dalam tanah digunakan oleh se-mua mahluk hidup dalam tanah, baik organisme maupun mikroor-ganisme, sehingga konsentrasi oksigen dalam tanah akan lebih rendah dibandingakan dengan oksigen di atas permukaan tanah (atmosfir). Di dalam tanah terdapat nitrogen, fosfor, belerang, kalium, kalsium dan magnesium dalam jumlah yang relative banyak (unsur hara makro) dan terdapat sedikit besi, mangan, boron, seng dan tembaga (unsur hara mikro). Beberapa tumbuhan membutuhkan beberapa unsur lain seperti natrium, molibdenum, klor, flour, iod, silikon, strontium. Hara esensial (penting) sebagian besar terdapat dalam tanah. Nitogen merupakan unsur hra yang sangt penting bagi tumbuhan. Nitrogen merupakan ba-han baku untuk penyusunan protein dan asam amino tumbuhan. Nitoden diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan amonium. Fosfor dibentuk pada tanah mineral dan berbagai senyawa organik. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk ion fospat. Belerang ditemukan dalam tanah mineral. Belerang diserap oleh tumbuhan dalam bentuk sulfat. Kalium, kalsium dan magnesium merupakan logam. Pada saat ketiga logam tersebut di atas bereksi dengan air maka akan dibebaskan ion-ion kalium, kalsium dan magnesium (Nurwandani, 2008).
Media tumbuh tanaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman untuk mendapatakan hasil optimal. Media tumbuh yang baik diantaranya memilikinsifat fisik yang baik, gembur dan mempunyai kemampuan menahan air lama karena kondisi fisik tanah sangat penting untuk berlangsungnya kehidupan tanaman mulai dari bibit hingga dewasa (Fatimah dkk, 2008).
Sifat biologis tanah yang baik untuk pertumbuhan sawi adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik (humus) dan bermacam-macam unsur hara yang berguna untuk pertumbuhan tanaman, serta pada tanah terdapat jasad renik tanah atau organisme tanah pengurai bahan organik sehingga dengan demikian sifat biologis tanah yang baik akan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Cahyono, 2003).
Untuk memperoleh media yang baik salah satu upayanya adalah melalui pemupukan. Pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan ke tanaman dengan maksud menambah unsur hara yang diperlukan tanaman. Terdapat tiga aspek penting yang menentukan efisiensi dan efektivitas pemupukan yaitu dosis pupuk, waktu dan teknik aplikasi dan jenis pupuk. Pupuk selain dapat diberikan melalui tanah juga dapat diberikan melalui daun tanaman. Proses penyerapan hara yang diberikan lewat daun lebih cepat jika dibandingkan dengan pemupukan melalui tanah. Hilangnya pupuk karena tercuci, penguapan dan terfiksasi akan lebih kecil, karena pupuk dapat langsung diserap tanaman. (Sutejo, 1995). Selain itu, Sujatmika (1988) mengatakan bahwa keuntungan pemakaian pupuk daun adalah tanaman lebih cepat mengeluarkan tunas serta tanaman tidak mudah rusak dan pemupukan melalui daun pada musim kering lebih efisien, karena pupuk yang diberikan melalui daun sudah dalam keadaan siap diabsorpsi, sehingga langsung diserap oleh daun tanaman. Selain itu, pemupukan lewat daun tidak dipengaruhi oleh kondisi pH dan air tanah. Satu hal lagi yang menjadi keuntungan pupuk daun ialah adanya unsur-unsur mikro pada pupuk daun ( Nusifera, 2001).
Salah satu pupuk yang dianjurkan adalah pupuk organik. Penggunaan pupuk organic dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia. Baha organic merupakan alternative untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan efisiensi dari penggunaan pupuk kimia. Penggunaan bahan organic dapat membantu kehidupan mikroorganisme tanah. Pengomposan atau pemberian bahan organic pada media tanam sawi bertujuan untuk memperbaiki sifat kimia, fisik dan biologi pada tanah (Setiawan, 2009).
   Nilai pertanian dari suatu pupuk tidak menentu, karena bahan ini mudah berubah. Oleh karenanya macam dan jumlah pupuk yang diberikan harus dapat mengikuti berbagai macam perubahan karena, Tanah dan pupuk terjadi reaksi kimia dan biologis yang mempengaruhi mutu pupuk, serta iklim yang dapat mempengaruhi tanah, tanaman dan pupuk. Perlu diperhatikan. Bila ada kelebihan
atau kekurangan air, efisien penuh dari pemupukan sukar diharapkan. Sebetulnya, setiap faktor yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman akan menurunkan efensiansi pemupukan, dan akibatnya respons dari tanaman terhadap pemupukan
juga tergangu. Jika faktor-faktor lain tidak merupakan pembatas, maka jumlah pupuk dapat ditentukan dengan tingkat kepastian tertentu. Meskipun keadaannnya sangat kompleks, petunjuk-petunjuk tertentu dapat diikuti dalam menentukan macam atau jumlah pupuk yang harus di berikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.    Macam tanaman yang akan diusahakan: nilai ekonomi tanaman, kemampuan tanaman menyerap hara
2.    Keadaan kimia tanahsehubungan dengan jumlah hara tersedia
3.    Keadaan fisik tanah sehubungan dengan kadar air dan aerasi media (Hanum, 2008)



BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1    Hasil
Tabel 1. Pengamatan Sifat Fisik Media Tanam (Pasir Kasar/Pasir Halus/Debu/Lempung)
Kelompok
Perlakuan
Sifat Fisik Media Tanam
Sebelum pencampuran
Setelah pencampuran
Setelah ada tanaman
Saat panen
1
U1P0
U2P0

U3P0

U1P1
U2P1

U3P1
Pasir halus
Pasir halus

Pasir halus

Pasir halus
Pasir halus

Pasir halus
Pasir halus
Pasir halus

Pasir kasar

Pasir halus
Pasir halus

Pasir kasar
Lempung
Pasir halus
pasir kasar
lempung
pasir halus
pasir kasar

Lempung
Pasir halus
pasir kasar
lempung
pasir halus
pasir kasar


Tabel 2. Pengamatan Sifat Fisik Media Tanam Sebelum  Pencampuarn
Sifat Fisik
Perlakuan
U1P0
U2P0
U3P0
U1P1
U2P1
U3P1
WHC
Kapilaritas
Perkolasi
Kapasitas absorbsi
Plastisitas
Temperatur

Aerasi

Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat 
Agak baik
Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat
Agak baik
Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat
Agak baik
Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat
Agak baik
Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat
Agak baik
Sedang
Rendah
Cepat
Rendah

Sedang
Agak hangat
Agak baik

Tabel 3. Tabel Pengamatan Sifat Fisik Media Tanam Setelah Pencampuran
Sifat Fisik
Perlakuan
U1P0
U2P0
U3P0
U1P1
U2P1
U3P1
WHC

Kapilaritas

Perkolasi

Kapasitas absorbsi
Plastisitas

Temperatur

Aerasi

Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat 
Agak baik
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat
baik
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat baik

Tabel 4. Tabel Pengamatan Sifat Fisik Media Tanam Setelah Ada Tanaman Pencampuran
Sifat Fisik
Perlakuan
U1P0
U2P0
U3P0
U1P1
U2P1
U3P1
WHC

Kapilaritas

Perkolasi

Kapasitas absorbsi
Plastisitas

Temperatur

Aerasi

Sangat tinggi
Sangat besar
Sangat pelan
sangat
Tinggi
Tinggi

Sangat dingin
Sangat miskin
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat
baik
Sangat tinggi
Sangat besar
Sangat pelan
sangat
Tinggi
Tinggi

Sangat dingin
Sangat miskin
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat baik

Tabel 5. Tabel Pengamatan Sifat Fisik Media Tanam Saat Panen Tanaman
Sifat Fisik
Perlakuan
U1P0
U2P0
U3P0
U1P1
U2P1
U3P1
WHC

Kapilaritas

Perkolasi

Kapasitas absorbsi
Plastisitas

Temperatur

Aerasi

Sangat tinggi
Sangat besar
Sangat pelan
sangat
Tinggi
Tinggi

Sangat dingin
Sangat miskin
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat
baik
Sangat tinggi
Sangat besar
Sangat pelan
sangat
Tinggi
Tinggi

Sangat dingin
Sangat miskin
Sedang

Rendah

Cepat

Rendah

Rendah

Agak hangat
Agak baik
Sangat rendah
Sangat cepat
Sangat cepat
Sangat rendah
Tidak ada
Hangat

Sangat baik
Tabel 6. Pengamatan Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun
Kelompok
Perlakuan
Jumlah Daun (helai)
Tinggi Tanaman (cm)
Minggu Ke-
Minggu Ke-
0
1
2
3
4
0
1
2
3
4
1
U1P0
U2P0
U3P0
U1P1
U2P1
U3P1
5
5
5
5
5
5
6
5
5
5
6
6
5
5
6
4
6
5
6
8
7
5
11
9
6
8
8
6
13
10
5
5
5
5
5
5
9
9,5
11
7,5
8
10
13
12
12
10
12
12
15,8
15,5
16
10,5
21,2
15
17
16,5
18
12
21,5
16

Tabel Pengamatan pertumbuhan tanaman sawi
Kelompok
Perlakuan
Rata - Rata
Tinggi Tanaman (cm)
Jumlah Daun (helai)
1
U1P0
11, 96
6
U2P0
11,7
6
U3P0
12,4
6
U1P1
9
5
U2P1
13,54
8
U3P1
11,6
7

F. Grafik Pertumbuhan Tanaman sawi
3.2    Pembahasan
Media tanam adalah salah satu faktor yang dapat  menentukan baik buruknya pertumbuhan bibit, oleh karena itu penting untuk diketahui jenis media tanam yang tepat dan sesuai untuk pertumbuhan bibit. Media tanam berfungsi sebagai tempat akar melekat, mempertahankan kelembaban dan sebagai sumber makanan. Media yang baik dapat menyimpan air untuk kemudian dapat dilepaskan sedikit demi sedikit dan dimanfaatkan oleh tanaman.
Perlakuan media tanam dapat memberikan pengaruh  yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cladophyl, tunas baru, jumlah cabang, diameter batang,bobot basah akar, bobot basah tajuk, dan bobot kering  tajuk. Agar pertumbuhan bibit dapat baik, media tanam diharapkan mempunyai sifat-sifat sebagai:
• Media hendaknya gembur agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan akar dapat leluas menembus.
• Kelembaban media harus cukup dan ini dapat diatasi dengan penyiraman, karena air sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
• Media hendaknya bersifat sarang sehingga oksigen dapat masuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
• Media hendaknya bebas dari gulma, nematoda dan berbagai penyakit.
• Sebaiknya kadar salinitas rendah.
• Media hendaknya mengandung hara yang diperlukan bagi tanaman.
Sebelum melakukan penanaman, maka ada beberapa cara penting dalam memilih media tanam, yaitu :
a.       Mengenal jenis dan sifat
Ada banyak jenis media tanam yang bisa dibeli. Tiap jenis memiliki bentuk, ukuran dan sifat yang berlainan. Media tanam berbentuk serpihan mampu menyimpan air lebih lama dan dalam jumlah banyak. Contohnya humus bambu. Sebaliknya, media tanam berbentuk silindris dan bulat bersifat mudah melepas air, semisal akar pakis dan coco fiber . Sedangkan media tanam berbentuk bulat diantaranya adalah pasir malang dan tanah. Ukuran butiran juga menentukan kemampuan benda tersebut menyimpan air. Semakin kecil diameternya, kian besar kemampuannya menyimpan air.
b.      Sesuaikan dengan jenis tanaman
Tiap jenis tanaman butuh jenis media tanam berlainan. Tanaman penghuni daerah kering seperti Kaktus , Adenium , Euphorbia , dan Pachipodium sebaiknya ditanam menggunakan media tanam yang bersifat porus dan mudah membuang air. Tanaman seperti itu dicirikan oleh jumlah daun sedikit dan berukuran kecil. Sebaliknya, jenis tanaman penyuka kondisi lembap harus ditanam menggunakan media tanam yang mampu menyimpan air secara baik. Flora ini dicirikan oleh ukuran daunnya yang lebar. Semisal Aglaonema , Philodendron , dan Anthurium .
c.       Perhatikan kondisi lingkungan
Pemilihan media tanam juga harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Bila cuaca di tempat Anda berhawa panas dan kering, disarankan memilih jenis media tanam yang memiliki kemampuan menyimpan air yang kuat. Sebaliknya, bila kondisi cuaca tempat tinggal sering berkabut dan lembap, disarankan agar memilih media tanam yang porus. Media tanam seperti ini mudah mengaliirkan air. Sehingga membuat sistem perakaran tidak terlalu lembap dan menjadi busuk.
d.      Kenali pertumbuhan tanaman
Umumnya, tanaman muda yang masih dalam persemaian belum butuh pasokan hara dari luar karena masih memiliki cadangan makanan. Pada saat itu, Anda cukup menggunakan pasir malang, akar pakis atau coco peat sebagai media tanam. Media tanam dengan campuran pupuk yang kaya zat hara baru disuguhkan setelah daun lembaga telah gugur. Atau setelah daun asli yang pertama telah tumbuh.
e.       Indoor vs outdoor
Tanaman yang ditaruh di luar ruangan butuh pasokan air lebih banyak dari pada tanaman yang ditaruh di dalam ruangan. Sebab, tanaman di luar ruangan melangsungkan proses fotosintasa lebih cepat dibandingkan dengan tanaman yang berada di dalam ruangan. Selain itu, tiupan angin dan intensitas matahari di luar ruangan membuat laju penguapan lebih cepat dibandingkan dengan di dalam ruangan. Dengan demikian, tanaman yang ditaruh di luar ruangan sebaiknya di tanam memakai media tanam yang mampu menyimpan air dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama.
f.       Sesuai dengan jenis pot
Pot berbahan plastik memiliki pori-pori lebih sedikit dibandingkan dengan pot gerabah. Sehingga pot plastik mampu menahan kelembapan media tanam lebih baik dibandingkan dengan pot gerabah. Namun, jumlah pori-pori sedikit itu membuat aerasi di dalam pot plastik tidak sebaik aerasi dalam pot gerabah. Bila Anda memilih pot plastik, disarankan agar media tanam yang digunakan adalah jenis yang mudah mengalirkan air dan porus. Sementara media tanam untuk pot gerabah dipilih yang memiliki kemampuan menyimpan air dalam waktu lama.
g.      Pertimbangkan potensi penyakit
Media tanam yang telah dicampur dengan pupuk kandang atau mengandung hara biasanya lebih mudah mengundang bibit penyakit. Campuran media tanam dengan pupuk kandang paling rawan mengundang bibit penyakit penyebab busuk akar. Media tanam tersebut cocok digunakan untuk menanam jenis tanaman yang menyukai kondisi kering. Misal Adenium , Pachipodium , dan Euphorbia .
h.      Usia pakai
Jangan lupa pertimbangkan pula usia pakainya. Media tanam bertekstur lunak dan mengandung hara biasanya lebih mudah melapuk dan terurai. Sedangkan media tanam bertekstur keras umumnya bersifat awet. Contoh media tanam berusia pendek adalah humus bambu, humus kaliandra dan coco peat. Sedangkan media tanam berusia panjang diantaranya akar pakis dan sekam padi. Bila Anda menggunakan media tanam berumur pendek, Anda harus lebih rajin melakukan repotting dibandingkan dengan memakai media tanam berumur panjang.
Jenis media tanam yang dipakai pada praktikum kali ini antara lain :
1.    Tanah
Tanah sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman, tegak­ tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara. Jika dilihat dari sifat kimiawi, maka tanah berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi tanaman baik berupa senyawa organik, anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, CI, dan lain-lain. Secara biologis tanah berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi ­aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh) bagi tanaman, yang secara terpadu mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, kehutanan dan lain-lain. Sebagai media tumbuh, tanah mempunyai empat fungsi utama, yaitu sebagai:
1.    Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman yang mem­punyai dua peran utama, yaitu penyokong tegak-tumbuhnya batang tanaman, dan sebagai penyerap zat-zat yang dibutuhkan.
2.    Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolismenya, baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi, meliputi air, udara dan unsur-unsur hara.
3.                   Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya agar dapat tumbuh optimum, meliputi zat-zat aditif yang diproduksi oleh biota terutama mikroflora tanah seperti;
a)      Zat-zat pemacu tumbuh (hormon, vitamin dan asam-asam organik tertentu);
b)      Antibiotik dan toksin yang berfungsi sebagai anti hama dan penyakit  tanaman di dalam tanah; dan
c)      Senyawa-senyawa atau enzim yang berfungsi dalam penyediaan kebutuhan unsur primer atau transformasi zat-zat toksik seperti pestisida dan limbah.
4.                  Habitat makhluk hidup tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tidak langsung dalam penyediaan kebu­tuhan primer dan sekunder, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tana­man.
Fungsi tanah yang sedemikian pentingnya dalam penye­diaan bahan pangan, papan dan sandang bagi manusia (juga bagi hewan), membawa konsekuensi bahwa manusia sebagai pengelola tanah, tidak saja dituntut untuk berpengetahuan tentang: (1) tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, (2) fungsi tanah sebagai pelindung tanaman dari serangan hama-penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri berbahaya.
2.    Kompos
Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut dikenal 2 peranan kompos yakni soil conditioner (peranan kompos dalam memperbaiki struktur tanah, terutama tanah kering) dan soil ameliorator (berfungsi dalam memperbaiki kemampuan tukar kation pada tanah). Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu Yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.
            Adapun beberapa kekurangan dari kompos itu sendiri yang membuat kita harus menambahkannya dalam jumlah banyak, diantaranya yaitu :
a.    Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik.
b.    Karena jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya.
c.    Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah-tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik yang membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani. Sementara itu reaksi atau respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak se-spektakuler pemberian pupuk buatan.
Selain itu terdapat pula kelebihan – kelebihan dari pupuk kompos itu sendiri, diantaranya adalah :
a.    Kompos mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik).
b.    Kompos mengandung asam - asam organik, antara lain asam humic, asam fulfic, hormon dan enzym yang tidak terdapat dalam pupuk buatan yang sangat berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan mikroorganisme.
c.    Kompos mengandung makro dan mikro organisme tanah yang mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan terutama sifat biologis tanah.
d.   Memperbaiki dan menjaga struktur tanah.
e.    Menjadi penyangga pH tanah.
f.     Menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan.
g.    Membantu menjaga kelembaban tanah
h.    Aman dipakai dalam jumlah besar dan berlebih sekalipun
i.      Tidak merusak lingkungan.
3.    Arang sekam
Arang sekam memiliki peranan penting sebagai media tanam pengganti tanah. Arang sekam bersifat porous, ringan, tidak kotor dan cukup dapat menahan air. Penggunaan arang sekam cukup meluas dalam budidaya tanaman hias maaupun sayuran (terutama budidaya secara hidroponik). Media ini sering digunakan karena memiliki aerasi yang cukup baik, dan memiliki unsur N dan K. Sekam padi dapat dimanfaatkan untuk media tanam dalam bentuk mentah dan dalam bentuk arang. Arang sekam yang lazim disebut sekam bakar ini memiliki porousitas yang bagus, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa sekam bakar sebenarnya mudah hancur dan mengendap, pada akhirnya cenderung menahan air
4.    Cocopeat
            Sabut kelapa atau coco peat merupakan bahan organik alternatif yang dapat digunakan sebagai media tanam. Sabut kelapa untuk media tanam berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat. Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sebaiknya dilakukan di daerah yang bercurah hujan rendah. Air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan media tanam ini mudah lapuk. Selain itu, tanaman pun menjadi cepat membusuk sehingga bisa menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi pembusukan, sabut kelapa perlu direndam terlebih dahulu di dalam larutan fungisida. Jika dibandingkan dengan media lain, pemberian fungisida pada media sabut kelapa harus lebih sering dilakukan karena
sifatya yang cepat lapuk sehingga mudah ditumbuhi jamur.
Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai untuk daerah panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).
5.    Pupuk kandang
Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.
Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan sebelum diaplikasikan sebagai media tanam. Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.
6.      NPK
Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah keasaman tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman.
Kelebihan pupuk anorganik:
a.    unsur yang terkandung cepat terurai  dan cepat terserap oleh tanaman sehingga Hasil cepat terlihat pada tanaman
b.    Kandungan unsure hara  jelas
c.    Mudah pengaplikasian
d.   Tidak bau
e.    Pengangkutan mudah
Kekurangan pupuk anorganik :
a.    Karena cepat terurai di alam, sehingga untuk mendapatkan efisiensi pemupukan yang optimal harus dengan dosis yang tepat
b.    Waktu pemupukan harus sering karena pupuk tidak tersimpan lama dalam media tanam
c.    Ketersediaan pupuk tergantung pihak lain, misal pabrik dan distributor
d.   Harga relatif tinggi
e.    Dapat menyebabkan ketidak seimbangan unsur hara dalam tanah karena pemupukan yang tidak berimbang
f.     Dalam pemakaian jangka panjang dapat menurunkan pH tanah
Transplanting adalah proses pemindahan tanaman bibit dari tempat pembibitan ke pot individu. Transplanting memiliki berbagai aplikasi, termasuk:
memperpanjang musim tanam dengan memulai tanaman di dalam ruangan, sebelum kondisi luar menguntungkan melindungi tanaman muda dari penyakit dan hama sampai mereka cukup mapan perkecambahan menghindari masalah dengan menetapkan keluar bukan langsung bibit penyemaian. Berbeda spesies dan varietas tanaman bereaksi secara berbeda terhadap transplanting
. Kerusakan perakaran akibat pencabutan yang tidak hati-hati akan menyebabkan semai menjadi kering. Penyapihan atau pemindahan yang kurang hati-hati akan menyebabkan kematian. Salah satu cara untuk mengatasi kerusakan atau kematian pada saat transportasi bibit adalah bibit yang dipindahkan dibungkus jadi satu yang diusahakan akar tertutup rapat dan bagian atas terbuka.
Penyapihan dilakukan setelah bibit tumbuh setinggi 5-10 cm untuk tanaman berbiji kecil dan 15-20 cm untuk tanaman berbiji besar. Sebelum dipindahkan, lakukan penyeleksian bibit terlebih dahulu. Hanya bibit yang tumbuh subur dan kekar dengan perakaran lurus yang dipindahkan. Sementara itu, bibit yang tumbuh lambat, kerdil, tidak sehat dan perakarannya bengkok sebaiknya dibuang. Pemindahan dilakukan dengan mengangkat bibit secara hati-hati dari persemaian beserta media yang ada di sekitar perakarannya. Usahakan tidak ada akar bibit yang putus atau rusak agar kondisinya tetap baik saat ditanam di media sapih. Untuk bibit yang tumbuh di bedeng semai tidak perlu dipindahkan semuanya, hanya untuk penjarangan. Sementara itu, sisanya tetap dibiarkan tumbuh di bedeng semai dan disampih sampai cukup besar untuk disambung, diokulasi, atau ditanam di lahan. Bibit yang tumbuh secara individual di dalam polibag tidak perlu dipindahkan sampai siap tanam di lahan.
Perbedaan antara transpalnting pada bibit sosis dengan transplanting bibit sebaran yaitu pada peletakan bibit. Dimana untuk transpalnting bibit sosis proses dilakukan peletakan  hanya 1 sampai 2. Sedangkan untuk trnasplanting bibit sebaran proses dilakukan sebarannya lebih dari 1. Maksud dari sebaran bibit yaitu peletakan bibit ke tempat lain. Kemudian untuk perbedaannya yaitu kualitas bibit tersebut. Dimana untuk bibit transplanting sosis lebih baik karena proses perawatan bibitnya terjamin seperti pemberian pupuk,kemudian penyiraman dan lain-lain. Berbeda dengan transplanting bibit sebaran yaitu hanya perawatannya apa adaya. Tergantung dari manusian tersebut dirawat atau tidak.
Hidup tumbuhan ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Daya  toleransi setiap jenis terhadap berbagai faktor eksternal berbeda-beda. Hukum  toleransi Shelford menyatakan bahwa tumbuhan yang  memiliki toleransi luas terhadap berbagai faktor cenderung tersebar luas atau memiliki kawasan habitat yang luas, dan sebaliknya.
Pertumbuhan merupakan proses pertambahan substansi biomassa atau materi biologi yang dihasilkan dari proses-proses biosintesis di dalam  sel yang bersifat endergonik dan bersifat  irreverseble. Gejala pertumbuhan dapat tampak melalui pertambahan berat, volum atau tinggi tanaman. Untuk pertumbuhannya, tumbuhan membutuhkan  bermacam-macam hara, baik hara makro seperti C, H, O, N, S, P, Ca dan Mg, maupun hara mikro seperti Mn, Cu, Mo, Zn, dan Fe. Biasanya unsur makro dan mikro smua terdapat dipupuk. Yang mana pupuk dapat diberikan langsung ke tanamantersebut. Bentuk dari pupuk sendiri bisa berebntuk organik maupun anorganik. Biasanya untuk pupuk organik contohnya yaitu pupuk kandang dan kompos. Untuk pupuk anorganik akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan, mengakibatkan penurunan kandungan C organik tanah dan disinyalir saat ini kandungan C organik tanah kurang 1 %, (lahan miskin). Konsekuensi logisnya adalah lahan miskin bahan organik, bila dilakukan pemupukan anorganik dosis berapapun produksinya tidak akan meningkat, karena bahan organik tanah menjadi limiting faktor atau sebagai faktor pembatas pertumbuhan dan hasil tanaman.
            Bahan organik, pupuk kandang atau kompos merupakan bagian penting  dalam sistem tanah. Peran utama kompos adalah  sebagai “conditioner” tanah-tanah kritis, memperbaiki sifat fisik dan biologik  tanah dan menambah unsur hara. Bahan organik memiliki peran penting di  tanah karena : 1) membantu menahan air, sehingga  ketersediaan air tanah lebih terjaga, 2) membantu memegang ion sehingga  meningkatkan kapasitas tukar ion atau ketersediaan hara. 3) menambah hara  terutama N, P, dan K setelah bahan organik terdekomposisi sempurna, 4)  membantu granulasi tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur atau remah,  yang akan memperbaiki aerasi tanah dean perkembangan sistem perakaran,  serta 5) memacu pertumbuhan mikroba dan hewan tanah lainnya yang sangat  membantu proses dekomposisi bahan organik tanah. Sehingga dengan bahan organik yang banyak diharapkan produk dari tanaman tersebut juga naik atau tinggi.
Pada praktikum rekayasa media tanam kali ini, kelompok 1 menggunakan media tanah, kompos, dan arang sekam. Praktikum kali ini menggunakan 6 kali ulangan dengan 3 perlakuan komposisi media yang berbeda. U1P0 dan U1P1 menggunakan media tanah seluruhnya, untuk U2P0 dan U2P1 menggunakan komposisi media tanam kompos dan tanah dengan perbandingan komposisi 1 : 1. Sedangkan untuk perlakuan U3P0 dan U3P1 menggunakan komposisi media tanah, kompos dan arang sekam dengan perbandingan masing-masing 1:1:1.
Dari hasil praktikum, diketahui bahwa tekstur media tanam sawi  kelompok 4 sebelum pencampuran diketahui U1P0 memiliki tekstur pasir halus, U2P0 bertekstur halus, U3P0 bertekstur pasir halus, U1P1 bertekstur pasir halus, U2P1 bertekstur pasir halus, dan U3P1 juga memiliki tekstur pasir halus. Setelah adanya pencampuran, pada ulangan U1P0 memiliki tekstur pasir halus dan U1P1 memiliki tekstur pasir halus, pada ulangan U2P0 memiliki tekstur pasir halus dan U2P1 memiliki tekstur pasir halus, sedangkan pada ulangan U3P0 juga memiliki tekstur sama yaitu pasir halus dan U3P1 juga bertekstur pasir halus. Saat ada tanaman masing-masing media tersebut memiliki tekstur sebagai berikut : pada ulangan U1P0 dan U1P1 bertektur lempung, untuk U2P0 dan U2P1 memiliki tekstur pasir halus, sedangkan untuk U3P0 dan U3P1 memiliki tekstur pasir halus. Setelah pemanenan tanaman, sifat fisik dari masing – masing media tersebut yaitu : pada U1P0 dan U1P1 memiliki tekstur lempung, untuk U2P0 dan U2P1 memiliki tekstur pasir halus, sedangkan untuk U3P0 dan U3P1 bertekstur pasir halus.
Pengamatan sifat fisik media tanam yang dilakukan yaitu terhadap WHC, kapilaritas, perkolasi, kapasitas absorbsi, plastisitas, temperatur dan aerasi. Sifat fisik media tanam sebelum pencampuran diketahui bahwa WHC pada seluruh media tanam yaitu sedang, sifat kapilaritas pada seluruh medai tanam diketahui rendah, perkolasi seluruh media tanam diketahui cepat, kapasitas absorbsi seluruh media rendah, plastisitas seluruh media sedang, temperatur keseluruhan media yang digunakan menunjukkan agak hangat dan aerasi pada seluruh media menunjukkan agak baik. Setelah terjadi pencampuran, WHC U1 dan U2 yaitu sedang, untuk U3 WHCnya sangat rendah, kapilaritas U1 dan U2 yaitu rendah, sedangkan U3 menunjukkan sangat cepat. Sifat perkolasi untu U1 dan U2 yaitu cepat, sedangkan untuk U3 sangat cepat. Sifat kapasitas absorbsi untuk U1 dan U2 yaitu rendah, sedangkan U3 memiliki kapasitas absorbsi sangat rendah. Sifat kapilaritas untuk U1 dan U2 rendah, sedangkan untuk U3 memiliki sifat tidak plastis. Temperatur pada media U1 dan U2 yaitu agak hangat, sedangkan untuk U3 hangat. Aerasi yang ditunjukkan media tanam U1 dan U2 yaitu agak baik, sedangkan U3 menunjukkan aerasi yang sangat baik.
Saat setelah pemanenan tanaman, sifat WHC media tanam U1P0 yaitu tinggi, U2P0 sedang, U3P0 sangat rendah, U1P1 sedang, U2P1 sedang dan U3P1 sangat rendah. Kapilaritas yang ditunjukkan oleh media U1P0 yaitu tinggi, U2P0 rendah, U3P0 sangat cepat, U1P1 rendah, U2P1 rendah dan U3P1 sangat cepat. Perkolasi media tanam yang ditunjukkan oleh U1P0 yaitu rendah, U2P0 cepat, U3P0 sangat cepat, U1P1 cepat, U2P1 cepat dan U3P1 sangat cepat. Kapasitas absorbsi yang ditunjukkan pada masing-masing media percobaan yaitu U1P0 tinggi, U2P0 rendah, U3P0 sangat rendah, U1P1 rendah, U2P1 rendah, U3P1 sangat rendah. Plastisitas media yang diketahui untuk U1P0 yaitu tinggi, U2P0 rendah, U3P0 tidak ada, U1P1 rendah, U2P1 rendah, U3P1 tidak ada. Temperatur media tanam percobaan masing-masing media untuk U1P0 dingin, U2P0 agak hangat, U3P0 hangat, U1P1 agak hangat, U2P1 agak hangat, U3P1 hangat. Sedangkan untuk aerasi pada masing-masing media diketahui U1P0 buruk, U2P0 agak baik, U3P0 sangat baik, U1P1 buruk, U2P1 agak baik dan U3P1 sangat baik.


DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. 2003. Teknik dan Strategi Budi Daya Sawi Hijau. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusantara.

Djajadi, Dkk. 2010. Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Sifat Fisik, Kimia Dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri 16 (2) : 64 – 69.

Fatimah, Siti, Dkk. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata, Nees). Embriyo 5 (2) :

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta : Depdiknas.

Haryanto, Eko, Dkk. 2008. Sawi Dan Selada. Jakarta : Penebar Swadaya.

Nurwandani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. Jakarta : Depdiknas.

Nusifera, Sosiawan. 2001. Respon Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.) Terhadap Pupuk Daun Nutra-Phos N Dengan Konsentrasi Bervariasi. Jurnal Agronomi 8 (1) : 27-29.

Setiawan, Eko. 2009. Pengaruh Empat Macam Pupuk Organic Terhadap Pertumbuhan Sawi(Brassica Juncea L).  Embryo 6 (2) :

Suhardi, 1990. Dasar- Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta : Kanisius.

Sutedjo. M. M, 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta.



0 komentar:

Posting Komentar