Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Sabtu, 16 Januari 2016

PENGARUH PERLAKUAN PRIMING PADA BENIH YANG TELAH MENGALAMI KEMUNDURAN

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam tanaman yang tersebar luas diseluruh penjuru kota dan memiliki berakena ragam jenis tanaman mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hias dan obat-obatan, sehingga penting dan perlunya untuk dilestarikan. Pelestarian dapat dilakukan degan penggunaan benih yang bermutu dan tersertifikasi dan pemanfaatan teknologi dalam menghasilkan benih baru yang berkulalitas dan bermutu,  Benih yaitu symbol dari suatu permulaan. Di Dalam benih tersimpan sumber kehidupan Yang misterius sebuah tanaman mini. Benih Merupakan inti dari kehidupan di alam karena Kegunaannya sebagai penerus dari generasi tanaman 
Benih merupakan kebutuhan dalam dunia pertanian tanpa adanya benih pertanian tidak akan berjalan dengan baik. Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode untukmemperbaiki serta mempertahankan sifatsifat genetik dan fisik benih. Ini meliputi kegiatan pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengelolaan benih, penyimpanan benih, pengujian benih serta sertifikasi benih. Benih dibutuhkan untuk menghasilkan tanaman yang baik dengan produksi yang tinggi. Untuk itu diperlukan benih yang bermutu tinggi. Benih yang bermutu dapat dilihat dari benih yang utuh, bersih, vigornya tinggi dan tidak terserang hama dan penyakit. Benih yang bermutu dapat dihasilkan dengan cara melakukan pengujian. Pengujian berguna untuk mengetahui tingkat viabilitas pada benih. Kepastian mutu suatu kelompok benih yang diedarkan dan digunakan untuk penanaman sangat diperlukan untuk menjamin baik pengguna, pengedar, maupun pengada.
            Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-anngsur dan kumulatif serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisisologis yang disebabkan oleh faktor dalam. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan (field emergence), terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman.
Salah satu cara untuk mengatasi kemunduran benih adalah priming. Priming adalah suatu perlakuan pendahuluan pada benih dengan larutan osmotikum (disebut osmotik-priming atau osmotik-kondisioning), atau dengan bahan padatan lembab (disebut matriks-priming atau matrikskondisioning). Teknik tersebut merupakan suatu cara meningkatkan perkecambahan dan performansi/vigor dalam spektrum yang luas yang juga efektif untuk kondisi tercekam.

1.2    Tujuan
                  Mengetahui pengaruh beberapa perlakuan priming terhadap viabilitas benih yang telah mengalami kemunduran dengan cara pengusangan.


















BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Benih
Benih merupakan input yang penting dalam proses produksi tanaman. Kualitas benih sangat berpengaruh terhadap penampilan dan hasil tanaman. Benih merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan usaha tani sehingga harus ditangani secara sungguh-sungguh agar dapat tersedia dengan baik dan terjangkau oleh petani. Selanjutnya pengertian benih dijelaskan oleh Pitojo (2003), benih merupakan biji yang digunakan untuk perbanyakan tanaman. Benih yang akan digunakan untuk perbanyakan tanaman harus memiliki fisik yang baik yakni biji yang utuh memiliki lembaga, endosperm, cadangan makanan, dan kulit biji.  Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul sangat menentukan keberhasilan peningkatan produksi (Lesilolo,2012).
Kadar air benih karena keadaan yang higroskopisitu tergantung pada kelembaban relatif dan suhu udara lingkungansekitarnya (Aak, 1983). Hal ini sejalan dengan Rinaldi (2009), bahwa benih bersifat higroskopis dan kadar airnya selalu berkeseimbangan dengan kelembaban nisbi di sekitarnya. Sebelum benih diedarkan ke masyarakat diperlukan analisis benih dengan membawa benih ke laboratorium untuk mengetahui kekeuatan benih dan daya kecambah benih sehingga benih dapat diedarkan dan dimanfaatkan oleh petani. Apabila benih tidak ditunjang dengan kemurnian dan mutu yang tinggi maka gagal panen dapat dimungkingkan akan terjadi. Sehingga penggunaan benih diharapkan dari benih yang tersertifikasi.
Kualitas benih sangatlah penting dan harus diperhatikan karena hal ini akan berkaitan dengan kemurnian benih. Penanaman benih hibrida yang berkualitas genetik yang tidak benar akan penurunan produktivitas. Menurut Hipi (2013), bahwa menanam benih hibrida yang berkualitas genetik yang tidak benar akan penurunan produktivitas.  Penentuan kualitas benih dan kelangsungan hidup menunjukkan apa yang banyak benih dapat ditempatkan ke pasar, dan untuk alasan bahwa sangat penting untuk memiliki metode yang handal dan tes untuk menjadi digunakan untuk kualitas benih dan bibit pengujian vigor (Milosevic, 2010).

2.2 Mutu Benih
Benih yang bermutu ditentukan oleh kondisi benih dan asal benih. Asal benih berhubungan dengan faktor genetik dan karakteristik tempat tumbuh populasi benih (Nugroho, 2011). Menurut Milich (2012), menyatakan bahwa viabilitas benih juga dipengaruhi oleh adanya temperature yang sesuai sehingga benih mampu berkecambah dengan baik. Menurut Ali (2011), menyatakan bahwa benih dorman merupakan properti benih bawaan yang mendefinisikan kondisi lingkungan di mana benih sebenarnya mampu berkecambah, namun karena beberapa penyebab penghambat benih tidak dapat berkecambah akibat masa dormansi benih tersebut.
Mutu benih diuji untuk mengetahui daya kecambah benih yang akan dijual sehingga dapat diketahui masa simpan yang baik untuk benih.  Andriani (2013), menyatakan bahw mutu benih mencakup empat hal yaitu mutu fisik, fisiologis, genetis, dan patologis. Mutu fisik dan fisiologis benih dipengaruhi oleh tingkat kemasakan benih. Benih mencapai masak fisiologis pada saat benih (embrio) mencapai berat kering maksimum dan saat disemai menunjukkan vigor dan viabilitas yang tinggi. Hartawan (2012), juga menyebutkan bahwa penurunan daya hidup yang cepat serta umur simpan yang pendek dari benih menimbulkan kesulitan jika benih harus diangkut ke tempat yang jauh dan memerlukan banyak waktu.
Untuk itu diperlukan teknik khusus agar semua faktor yang mempengaruhi daya hidup dan umur simpan diatus sedemikian rupa sehingga didapatkan keadaan yang optimum untuk mempertahankan viabilitas dan vigor benih dalam penyimpanan. Perlakuan benih akan efektif apabila diketahui dengan tepat faktor utama  yang mempengaruhinya dalam penyimpanan. Sejalan dengan masa penyimpanan terjadi penurunan kualitas benih yang didindikatorkan dengan perubahan fisik, fisiokimia, biokimia, dan fisiologis. Milich (2012), menyatakan bahwa viabilitas benih juga dipengaruhi oleh adanya temperature yang sesuai sehingga benih mampu berkecambah dengan baik.

2.3 Kemunduran Benih
Kemunduran benih ini bersifat irreversible yakni tidak dapat kembali pada keadaan yang semula. Kemunduran benih merupakan proses mundurnya mutu fisiologis benih yang menimbulkan perubahan yang menyeluruh dalam benih baik secara fisik, fisiologis maupun biokimia yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih. Benih yang telah mengalami kemunduran dapat ditingkatkan perkecambahannya salah satunya dengan menggunakan perlakuan benih sebelum tanam yang disebut dengan osmoconditioning (Putih, 2009).  Proses kemunduran benih berlangsung terus dengan makin lamanya benih disimpan sampai akhirnya semua benih mati.
Komponen benih bermutu yakni daya kecambah, kecepatan kecambah, kadar air, lama penyimpanan serta kemurnian benih. Kadar air benih akan mempengaruhi daya kecambah benih sebab kemunduran daya kecambah disebabkan oleh lamanya periode penyimpanan yang menimbulkan kadar air tinggi sehingga viabilitasnya rendah. Kadar air yang terkandung didalam benih akan mempengaruhi viabilitas benih tersebut untuk dapat berkecambah secara optimal sehingga dalam hal ini kadar air benih juga memerlukan perhatian khusus dan di jaga dalam keadaan optimal, agar benih dapat bertahan lama pada saat masa penyimpanannya.
Pengukuran kadar air benih dilakukan untuk dapat mengetahui seberapa besar kadar air dalam benih sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat. apabila kadar air terlalu tinggi hal tersebut akan dapat menyebabkan benih rentan terserangnya penyakit akibat bakteri ataupun jamur, sebaliknya apabila kadar air benih terlalu rendah sehingga dapat menghambat perkecambahan benih karena benih dalam berkecambah salah satu hal yang dibutuhkan yakni kadar air yang cukup.
Dalam penyimpanan benih, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah tempat penyimpanannya, karena tempat penyimpanan akan mempengaruhi mutu benih selama penyimpanan. Tempat penyimpanan yang baik dapat menekan proses respirasi benih serta dapat melindungi benih dari serangan hama dan penyakit, sehingga mutu benih dapat di-pertahankan (Rinaldi, 2009). Proses kemunduran benih berlangsung terus dengan semakin lamanya benih disimpan sampai akhirnya semua benih mati.

2.4  Proses Priming pada Kemunduran Benih
Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih, dapat dilakukan dengan melakukan teknik invigorasi. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah mengalami kemunduran mutu (Pitojo, 2004).Berbagai cara dapat dilakukan sehubungan dengan perlakuan invigorasi benih sebelum tanam yaitu osmoconditioning, priming, moisturizing, hardening, humidification, solid matrix priming, matriconditioning dan hydropriming. Pengaruh yang sangat nyata menunjukkan bahwa invigorasi mampu untuk meningkatkan performansi benih yang telah menurun performansinya. . Perlakuan invigorasi merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi mutu benih yang rendah yaitu dengan cara memperlakukan benih sebelum tanam untuk mengaktifkan kegiatan metabolisme benih sehingga benih siap memasuki fase perkecambahan.
Priming adalah suatu perlakuan pendahuluan pada benih dengan larutan osmotikum (disebut osmotik-priming atau osmotik-kondisioning), atau dengan bahan padatan lembab (disebut matriks-priming atau matrikskondisioning). Teknik tersebut merupakan suatu cara meningkatkan perkecambahan dan performansi/vigor dalam spektrum yang luas yang juga efektif untuk kondisi tercekam. Priming membuat perkecambahan lebih dari sekedar imbibisi, yakni sedekat mungkin pada fase ketiga yakni fase pemanjangan akar pada perkecambahan. Selama priming, keragaman dalam tingkat penyerapan awal dapat diatasi. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan priming, antara lain: jenis benih baik umur maupun spesiesnya.

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Pada praktikum Teknologi Benih dengan judul Pengaruh Perlakuan Priming pada Benih yang Telah Mengalami Kemunduran” dilakukan pada hari Selasa, tanggal 15 April 2014, pukul 15.00 WIB sampai dengan selesai, bertempat di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.        Benih jagung
2.        Benih kedelai
3.        Urin kambing

3.2.2 Alat
1.        Substrat kertas merang
2.        Alat pengecambah benih
3.        Pinset

3.3 Cara Kerja
1.        Menyiapkan benih kedelai atau jagung
2.        Mengusangkan benih dalam incubator pada suhu 40-420 C selama 7-14 hari yang disebut dengan RAM ,
3.        Menyiapkan urin kambing yang telah disimpan selama 1 minggu. Membuat larutan urin kambing dengan konsentrasi 300 ppm. Menurut Prawoto dan Suprijadi (1992), urin kambing mmengandung GA 938 PPM dan Auxin 356 ppm. Urin kambing dapat digantikan dengan larutan GA3 dan NAA masing – masing konsentrasi 100 ppm dan 50 ppm
4.        Melakukan perlakuan priming pada benih yang tanpa dan telah diusangkan dengan cara :
a.       Benih tanpa perlakuan priming (control)
b.      Merendam benih dalam air selama 3 jam
c.       Merendam benih dalam larutan urin kambing selama 2 jam, jika menggunakan GA3 dan NAA direndam selama 3 jam.
5.        Mencuci benih dengan air dan mengeringanginkan sampai kesap kecuali kontrol
6.        Menanam benih masing – masing sebanyak 25 butir dalamsubstrat kertas merang dengan metode UKDdp yang telah dibasahi air
7.        Meletakkan substrat tersebut dengan cara mendirikan dalam alat pengecambah dan menjaga agar substrat tidak kering.






















DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Kanisius: Yogyakarta.

Ali, H. H., et all. 2011. Methods to Break Seed Dormancy of Rhynchosia Capitata, a Summer Annual Weed. Agricultural Research, 71(3): 483-487.

Andriani, A., dkk. 2013. Studi Poliembrioni dan Penentuan Tingkat Kemasakan Fisiologis Benih Japansche Citroen Berdasarkan Warna Kulit Buah. Hort, 23(3): 195-202.

Hipi, A., et all. 2013. Seed Genetic Purity Assessment of Maize Hybrid Using Microsatellite Markers (SSR). Applied Science and Technology, 3(5): 66-71.

Lesilolo,M,K.,dkk.2012. Penggunaan Desikan Abu dan Lama Simpan Terhadap Kualitas Benih Jagung (Zea Mays L.) Pada Penyimpanan Ruang Terbuka. Agrologia,1(1) :51-59

Milich, K. L., Et All. 2012. Seed Viability And Fire-Related Temperature Treatmentsin Serotinouscalifornia Native Hesperocyparis Species. Fire Ecology, 8(2): 107-124.

Nugroho, A. W., dkk. 2010. Pengaruh Naungan dan Asal Benih Terhadap Daya Hidup dan Pertumbuhan Ulin (Eusideroxylon Zwagery T. Et B.). Penelitian Hutan Tanaman, 8(5): 279-286.

Pitojo, S. 2003. Benih Cabai. Kanisius: Yogyakarta.

Pitojo, S. 2004. Benih Buncis. Kanisius: Yogyakarta

Putih, R., A. Anwar., dan Y. Marleni. 2009. Pengaruh Osmoconditioning dengan Peg (Polyethylene Glycol) Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Padi Lokal Ladang Merah. Jerami 2(2): 242-248.


Rinaldi. 2009. Pengaruh Metoda Penyimpanan Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kedelai. Agronomi, 8(2): 95-98.

0 komentar:

Posting Komentar