Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

pembibitan kelapa sawit

BAB.1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius dan Amsterdam lalu ditanam di kebun Raya Bogor.Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Bididaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha.
Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak  masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel) dan berbagai jenis  turunannya seperti minyak alkohol, margarin, lilin, sabun, industri kosmetika,  industri baja, kawat, radio, kulit, dan industri farmasi. Sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan campuran pakan ternak
Minyak sawit merupakan sumber karotenoid alami yang paling besar.  Kadar karotenoid dalam minyak sawit yang belum dimurnikan berkisar antara  500-700 ppm dan lebih dari 80%-nya adalah α dan β karoten. Dilihat dari kadar  aktivitas provitamin A, kadar karotenoid minyak sawit mempunyai aktivitas 10 kali lebih besar dibanding wortel dan 300 kali lebih besar dibanding tomat
   Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang pesat pada tahun 1969. Pada saat itu luas areal perkebunan kelapa sawit adalah 119.500 hektar dengan total produksi minyak sawit mentah(CPO dan KPO) 189 .000 ton per tahun.pada tahun 1988 luas areal perkebunan kelapa sawit bertambah menjadi 862.859 hektar dengan produksi CPO sebanyak 1.713.000 ton,pada tahun 1995 luas nya mencapai 2.025 juta hektar,terdiri dari 656 ribu hektar perkebunan rakyat (33%),404 ribu hektar perkebunan negara/PTPN(20%),dan 962 ribu hektar perkebunan besar swasta Nasional(47%),dengan total produksi minyak kelapa sawit 4.480.000 ton.angka ini di perkirakan akan terus meningkat seiring semakin banyak nya investor yang menanamkan modal secara besar-besaran pada perkebunan kelapa sawit di Riau, Jambi, Bengkulu, Kalimantan,dan kawasan tengah maupun Timur Indonesia.
Kebutuhan akan ketersediaan bibit kelapa sawit berkualitas dengan  kuantitas yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan  penduduk dunia akan minyak sawit. Perawatan bibit yang baik di pembibitan awal  dan pembibitan utama melalui dosis pemupukan yang tepat merupakan salah satu upaya untuk mencapai hasil yang optimal dalam pengembangan budidaya kelapa  sawit

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui teknik pemeliharaan pembibitan main nursery pada kelapa sawit.
2. Untuk mengetahui teknik pemindahan kelapa sawit dari main nursery ke lapang.
















BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
           Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai menjadi tanaman minyak yang paling penting di dunia.  Produksi minyak sawit terutama didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di Malaysia dan Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak sawit (Frank,2013).  Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. Masa umur ekonomis kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu perolehan manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang ikut menentukan bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011).
bahan tanam utama biasanya pada kelapa sawit adalah Tenera, ia memiliki banyak varietas. Hal ini bisa terjadi karena Pisifera dan dura. Jenis mungkin asal yang berbeda, genetik dan kriteria seleksi. Itu berbagai jenis dura dan Pisifera dapat mempengaruhi varietas Tenera selama proses hibrida (Hazir,2011). Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya

2.2 Syarat Tumbuh
            Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. Minyak sawit ditanam sebagai industri tanaman perkebunan, sering (terutama di Indonesia) pada hutan hujan baru dibersihkan atau hutan rawa gambut bukan pada lahan yang sudah terdegradasi atau bekas lahan pertanian (Mukherjee,2009).

2.3 Pembibitan Kelapa Sawit
Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan bertujuan untuk mempersiapkan bibit saiap tanam. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan agara bibit yang di tanam memenuhi syarat baik umur maupun ukurannya (Setyamidjaja,2006). Pemilihan bibit sangat penting. Perusahaan harus memilih bibit unggul agar produktivitas dan kualitas tanaman kelapa sawit tinggi (Pardamean,2008). Pembibitan tanaman kelapa sawit dilakukan dengan sistem dua tahap yaitu pembibitan awal (Prenursery) dan pembibitan utama (Main nursery) (Sastrosayono, 2010).
·         Pembibitan Awal (Pre nursery)
      Persiapan pembibitan akan menentukan sistem pembibitan yang aka dipakai dengan melihat keuntungan dan kerugian komprehensif (Pahan, 2008).  Membuat  naungan dengan tinggi + 1,8 – 2 m. Setelah itu bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m dan lebar 1,2 m, sedangkan jarak antar bedengan adalah 0,5 m. Dalam 1 bedengan bisa memuat polybag sebanyak 1200 polybag. Kemudian, polybag kecil yang berukuran 15 x 20 cm dengan tebal 0,07 mm disiapkan. Lalu media tanah disiapkan dengan pupuk yang digunakan.
 Pengisian tanah dilakukan 1 bulan sebelum kecambah ditanam. Semua polybag yang sudah diisi kemudian disusun ke dalam bedengan. Kemudian benih ditanam satu persatu ke dalam polybag dengan sebelumnya benih di seleksi dan polybag disiram terlebih dahulu. Benih ditanam dengan posisi radikula pada bagian bawah dan plumula pada bagian atas. Lahan pre nursery ini harus dipelihara selama 3 bulan agar bibit menjadi sehat dan subur. Setelah ditanam, polybag diberi mulsa tangkos (sabut buah kelapa sawit) dengan tujuan agar air siraman atau air hujan tidak langsung mengenai permukaan tanah dalam polybag serta untuk menjaga kelembapan tanah (Kasno,2011). Pemeliharaan pada tahap ini adalah penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan seleksi bibit.
1. Perlakuan Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan 2 kali sehari dengan volume siraman 150 cc/polybag. Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Namun, apabila turun hujan pada hari itu juga dan curah hujan mencapai diatas 8 mm, maka keesokan harinya tidak dilakukan penyiraman selama 1 hari penuh dan apabila curah hujannya hanya mencapai 4 mm maka penyiraman dilakukan sekali saja pada pagi hari atau sore hari. Peranan air pada tanaman sebagai pelarut berbagai senyawa molekul organik (unsur hara) dari dalam tanah kedalam tanaman, transportasi fotosintat dari sumber (source) ke limbung (sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan membukanya stomata, sebagai penyusun utama dari protoplasma serta pengatur suhu bagi tanaman (Maryani, 2012).
Penyiangan yaitu membersihkan gulma – gulma yang ada di dalam polybag dan diluar polybag dengan cara manual, yaitu dengan rotasi kerja 2 kali dalam 1 bulan.
2. Perlakuan Pemupukan
Respon tanaman terhadap pemberian pupuk tergantung pada keadaan tanaman dan ketersediaan hara di dalam tanah, Semakin besar respon tanaman, semakin banyak unsur hara dalam tanah (pupuk) yang dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi (Arsyad,2012). Penggunaan pupuk anorganik di pembibitan sangat dianjurkan pada pembibitan tanaman tahunan seperti kelapa sawit, dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan mutu bibit kelapa sawit (Jannah, 2012). Selama tiga bulan di prenursery biasanya bibit tidak dipupuk. Namun, jika tampak gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning, bibit perlu dipupuk menggunakan pupuk N dalam bentuk cair. Konsentrasi pupuk urea atau pupuk majemuk sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan melalui daun dengan cara disemprot pada bibit berumur lebih dari satu bulan atau telah memiliki tiga helai daun.
Frekuensi pemupukan dilakukan seminggu sekali. Pemberian pupuk pada tanaman kelapa sawit pasca genangan sangat diperlukan, mengingat berkurangnya ketersediaan unsur hara akibat genangan tersebut. Pemberian pupuk biasanya dirancang untuk mengoptimumkan efisiensi penggunaan pupuk (Dewi, 2009).
3. Perlakuan Proteksi dan Seleksi
Serangan hama dan penyakit selama di prenursery  biasanya belum ada. Jika ada, dapat diberantas dengan diambil  menggunakan tangan (hand picking). Serangan penyakit yang berasal dari sejenis jamur dapat dikendalikan dengan fungisida dengan dosis sesuai yang dianjurkan.  Penyakit saat ini yang paling lazim dan menghancurkan penyakit dalam budidaya kelapa sawit (Azahar, 2010).   Kemudian seleksi atau thinning out (TO) bibit disini adalah membuang bibit yang mati atau tidak normal atau juga terserang hama dan penyakit sehingga tidak menular ke bibit yang lain. Sekaligus dilakukan sebelum transplanting bibit main nursery.
4. Pengangkutan Bibit
Pengangkutan atau pengiriman bibit dari dari prenursery ke main nursery dengan memasukkan babybag ke dalam peti kayu berukuran 66,5 x 42 x 27,5 cm. Setiap peti kayu dapat memuat 35 bibit. Pengangkutan harus berhati-hati dan bibit harus segera ditanam dimain nursery.
·         Pembibitan Main Nursery
Pemilihan lokasi main nursery merupakan faktor yang sangat penting. Lokasi yang tepat akan memudahkan pekerjaan di pembibitan dalam menghasilkan bibit yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas. Kriteria lokasi pembibitan main nursey  yaitu letak pre nursery dekat dengan main nursery, areal harus rata, dekat dengan sumber air dan bebas dari hama penyakit.
Setelah lokasi pembibitan diperoleh, maka bahan – bahan untuk media tanam harus disiapkan, yaitu penyiapan tanah yang berasal dari lapisan top soil. Kemudian tanah diayak menggunakan ayakan dari kawat agar tanah bersih dari kotoran seperti batu atau bekas akar. Lalu tanah dicampur dengan pupuk RP sebanyak 5 kg/ton tanah.
Kemudian polybag berukuran 45 x 50 cm dan tebal 0,2 mm disediakan dan dilubangi sebanyak 60 – 80 lubang. Polybag lalu diisi tanah tadi hingga setengah polybag, dipadatkan dan setelah itu diisi hingga penuh dan sisakan + 2 cm dari bibir polybag. Setelah itu, areal sebelumnya harus telah dipancang menggunakan jarak tanam 90 x 90 x 90 cm atau segitiga sama sisi. Jarak antar barisan 0.867 x 90 cm = 77,9 cm (78 cm) atau menyesuaikan dengan luas areal. Pancang lurus ke semua arah, bertujuan untuk keseimbangan pertumbuhan dan kemudahan pemeliharaan. Tiap petak disusun 5 baris polybag dan per barisnya 40 atau 50 bibit. Antara 2 petak dipisah dengan membuang barisan ke 6 dan kelipatannya.
Pemindahan bibit dari pre nursery ke main nursery dilakukan saat bibit berumur antara bulan yaitu pada saat bibit berdaun 2 – 3 helai. Bibit yang dipindah lebih dahulu diseleksi. Pengangkutan bibit menggunakan kotak papan yang memuat 30 – 35 polybag. Sehari sebelum dipindahkan (transplanting) ke polybag besar, bibit daripre nursey harus disiram terlebih dahulu. Pembibitan di main nursery ini juga membutuhkan pemeliharaan yang meliputi sebagai berikut.
1. Perlakuan Penyiraman dan Penyiangan
            Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah yang cukup. Jika musim kemarau, siram bibit dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Kebutuhan air penyiramann sebanyak 2 liter air/bibit/hari. Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh dalam polibag, sekaligus menggemburkan tanah dengan cara menusukkan sepotong kayu. Penyiangan lahan pembibitan(diluar polibag) dilaksanakan secaraclean weeding, yakni menggunakan garuk. Rotasi penyiangan 20-30 hari, tergantung dari pertumbuhan gulma.
2. Perlakuan Pemupukan
Biaya pupuk dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara intensif sekitar 50-70% dari biaya pemeliharaan dan 25% dari seluruh biaya produksi (Kasno,2011). Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit. Dimain nursery, lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk mejemuk N-P-K-Mg dengan komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2, serta ditambah Kieserite (pupuk yang mengandung unsur Ca dan Mg). 
3. Pemberian Mulsa
              Pemberian mulsa adalah pemberian penutup tanah pada polybag. Pemberian mulsa ini brfungsi untuk mengurangi penguapan, menekan pertumbuhan gulma dan mencegah terkikisnya tanah pada polybag akibat percikan air saat penyiraman ataupun air hujan. Mulsa berupa tandan kosong sawit dan setiap polybag membutuhkan 500 gr mulsa yang diletakkan di sekeliling permukaan polybag.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
            Hama yang sering menyerang di pembibitan main nursery adalah hama ulat, seperti ulat kantong. Pengendalian menggunakan Sevin 85 ES dengan konsentrasi 2 gr/liter air. Sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah penyakit bercak daun dan dikendalikan dengan menggunakan Dithane M 45 dengan konsentrasi 1 gr/liter air dengan rotasi 2 kali sebulan.
5. Perlakuan Seleksi
Seleksi atau Thinning Out (TO) dilakukan berdasarkan ukuran pertumbuhan dan kondisi tanamannya. Pada kegiatan seleksi bibit, ciri-ciri bibit yang jelek adalah bibit kerdil, daun bergulung, anak daun rapat dan pendek karena teserang hama atau penyakit. Bibit seperti inilah yang harus di buang
6. Pengangkutan Bibit

Pengangkutan bibit harus dapat menjamin bibit tidak rusak dan tidak layu karena terkena panas atau angin kencang. Proses pengangkutan bibit dari lokasi pembibitan main nursery ke lokasi penanaman dapat berjalan efisien melalui pembagian tugas. Pekerjaan berikut ini seharusnya dibebankan kepada tenaga kerja yang terpisah.

1 komentar:

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar