Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

pembibitan dan penyadapan karet

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang terdapat didaerah jember. Bagian tanaman karet yang memiliki harga jual yang tinggi adalah bagian lateksnya atau bagian getah dari tanaman karet. Karet adalah salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara Indonesia, hal ini dikarenakan pada saat ini alat yang paling populer digunakan oleh manusia dalam mempermudah melakukan aktivitasnya yaitu menggunakan kendaraan yang mana kendaraan tersebut salah satu bagiannya adalah terbuat dari karet (latek).
Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Guna mendukung keberhasilan pengembangan karet, perlu disusun teknis budidaya tanaman karet digunakan sebagai acuan bagi pihak-pihak yang terkait pengolahan komoditi tersebut.
Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber).
Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir. Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta samasama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat.
Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.

1.2 Tujuan
1.        Memberikan wahana aplikasi keilmuan bagi mahasiswa.
2.        Memberikan pengalaman dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menganalisa intensifikasi teknologi budidaya karet dan pengolahan hasil tanaman karet.


BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Tanaman Karet    
Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu produktivitas, serta kualitas produk yang masih rendah (Ekpete, 2011).
Anwar (2006) dalam Benny (2013), menjelaskan bahwa saat ini, karet telah meluas di berbagai wilayah dunia termasuk telah dikembangkan di Asia Tenggara karena faktor lingkungan yang memiliki syarat tumbuh yang memadai. Untuk tanaman karet memiliki morfologi yang lengkap. . Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak dikembangkan pertama kalinya, luas areal perkebunan karet di Indonesia telah men-capai 3.262.291 hektar. Dari total area perkebunan di Indonesia tersebut 84,5% milik perkebunan rakyat, 8,4% milik swasta, dan hanya 7,1% merupakan milik negara (Nasaruddin dan Maulana, D, 2009).
Untuk morfologi tiap bagian akan dijelaskan sebagai berikut. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Untuk bagian daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3-20cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar.
Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. Sistem perakaran yang bercabang pada setiap akar utamanya. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnaya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Bunga pada tajuk dengan membentuk mahkota bunga pada setiap bagian bunga yang tumbuh. Bunga berwarna putih, rontok bila sudah membuahi, beserta tangkainya. Bunga terdiri dari serbuk sari dan putik.
Tanaman karet bersifat uniseksual (berkelamin satu) dan monoceous (berumah satu). Bunga betina dan bunga jantan terdapat dalam satu karangan bunga (inflorescentia) yang sama. Berdasarkan letak kedua bunga tersebut dapat dijadikan bahwa pada ujung-ujung sumbu yang lebih dekat dengan jalan saluran makanan pada umumnya duduk bunga betina, karena energi yang dibutuhkan untuk pembentukan bunga betina lebih besar daripada bunga jantan. Bunga betina ukurannya lebih besar dari bunga jantan, tetapi jumlahnya lebih sedikit (Sinegar, 2000). Tanaman karet (Havea brasiliensis) merupakan salah satu komoditas perkebunan. Susunan taksonomi sebegai berikut:
Divisi              : Spermatophyta
Sub Divisi       : Dicotyledonae
Kelas               : Euphorbiales
SUku               : Euphorbiaceae
Marga              : Havea
Jenis                 : Havea brailiensis

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Karet
a. Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat. Suhu yang dibutuhkan untuk tanaman karet 25° C sampai 35 ° C dengan suhu optimal rata-rata 28° C. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan intensitas matahari yang cukup antara 5 sampai 7 jam sesuai dengan jenis varietas karet yang di tanam.
b. Curah Hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang.
c. Ketinggi Tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet.
d. Angin
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang dapat mengakibatkan kerusakan tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu dalam berbagai jenis tanah, baik pada tanah latosol, podsolik merah kuning, vulkanis bahkan pada tanah gambut sekalipun. Selain itu angin menyebabkan kelembaban udara di sekitar tanaman menipis. Dengan keadaan demikian akan memperlemah turgor tanaman. Tekanan turgor yang lemah berpengaruh terhadap keluarnya lateks pada waktu sadap, walaupun tidak berpengaruh nyata, tetapi angin akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang diperoleh (Setyamidjaja,2000).
e. Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 – pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan > pH 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :
·      Solum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
·      Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
·      Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
·      Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
·      Reaksi tanah dengan pH 4,5 – pH 6,5
·      Kemiringan tanah < 16% dan
·      Permukaan air tanah < 100 cm.

2.3 Budidaya Tanaman
a. Bahan Tanah
Syarat kebun sumber biji untuk batang bawah yaitu: Terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih; Kemurnian klon minimal 95%. - Umur tanaman 10-25 tahun.
b. Penanaman
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari.  Pemilihan batang bawah yang sesuai untuk batang atas pada tanaman karet sangat penting untuk diperhatikan karena sering kali terjadi ketidaksesuaian antara klon batang bawah dan batang atas. Akibatnya, kombinasi tersebut tidak mampu menampilkan potensi produksi dan karakter unggul lainnya secara maksimal (Boerhendhy, 2011).
Dalam menunjang keberhasilan peningkatan produktivitas perkebunan karet, khususnya untuk peremajaan dan perluasan tanaman karet rakyat perlu diupayakan pengadaan klon unggul bibit karet (Kasman,2009). Menurut Setyamidjaja, N (2000) bibit karet unggul dihasilkan dengan teknik okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari biji-biji karet pilihan. Okulasi dilakukan untuk mendapatkan bibit karet berkualitas tinggi. Batang atas dianjurkan berasal dari karet klon PB260, IRR118, RRIC100 dan batang bawah dapat menggunakan bibit dari biji karet klon PB20, GT1, dan RRIC100 yang diambil dari pohon berumur lebih dari 10 tahun dengan morfologi dan fisiologis yang baik.
c. Pemeliharaan
Perawatan tanaman karet sebelum  berproduksi terdiri atas : penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan serta pemeliharaan tanaman penutup tanah (Hamidah, 2008). Untuk membantu meningkatkan daya saing karet alam terhadap karet sintesis adalah dengan meningkatkan produktivitas karet, penurunan biaya produksi, peningkatan mutu dan penyajian promosi yang tepat, serta memperbaiki sistem sadap (Okoma, et al, 2011).
d. Program Pemupukan
Program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl.
e. Pemberantasan Penyakit
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Lebih 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. 
f. Pemanenan/ Penyadapan
Karakterisasi lateks pekat dilakukan untuk mengetahui kondisi lateks pekat, karena sebagai bahan alam, komposisi hidrokarbon karet dan bahan-bahan lain dalam lateks pekat selalu mengalami perubahan tergantung musim, cuaca, kondisi penyadapan, kondisi tanah, dan tanaman. Lateks pekat yang dihasilkan dari pemusingan lateks kebun (Palupi, dkk, 2008).
Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6 tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap dipanen.
Lateks mengandung beragam jenis protein karena lateks adalah cairan sitiplasma, protein ini termasuk enzim-enzim yang berperan dalam sintesis molekul karet. Sebagian protein hilang sewaktu pemekatan lateks yaitu karena pengendapan yang terbuang dalam lateks skim. Protein yang tersisa dalam lateks pekat kurang lebih adalah 1% terhadap berat lateks dan terdistribusi pada permukaan karet (60%) dan sisanya sebesar 40% terlarut dalam serum lateks pekat tersebut (Alhasan, et al. 2010).
Penentuan frekuensi penyadapan berkaiatan dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan dimana panjang irisan : ½ S dan frekuensi penyadapan 2 tahun pertama 3 hari sekali, tahun selanjutnya 2 hari sekali. Panjang irisan dan frekuensi penyadapan bebas. Waktu penyadapan sebaiknya dilakukan jam 5.00 – 7.30 pagi (Siregar, T, 2002).


DAFTAR PUSTAKA


Alhasan, et al. 2010. Combined Effect of Nitric Acid and Sodium Hydroxide Pretreatn Enzymatic Saccharification of Rubber Wood (Heavea Brasiliensis). Chemical Technology 2 (1): 12-20.

Benny, dkk. 2013. Uji Dosis dan Cara Aplikasi Biofungisida Bacillus Sp. Terhadap Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus Lignosus) pada Tanaman Karet di Pembibitan. Agroekoteknologi 1 (2) : 58-66.

Boerhendhy, I., dan Amypalupy, K. 2011. Optimalisasi Produktivitas Karet melalui Penggunaan Bahan Tanam, Pemeliharaan, Sistem Eksploitasi, dan Peremajaan Tanaman. Litbang Pertanian 30 (1) : 23-30.

Ekpete, et all. 2011. Fixed Bed Adsorption of Chlorophenol on to Fluted Pumpkin and Commercial Activated Carbon. Basic and Applied Sciences 5 (11): 1149-1155.

Hamidah. 2008. Pengaruh Pengendalian Gulma dan Pemberian Pupuk NPK Phonska Terhadap Pertumbuhan Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell Arg.) Klon Pb 260. Pengaruh Pengendalian Gulma tanaman Karet 1 (2): 1-10.

Kasman. 2009. Pengembangan Perkebunan Karet dalam Usaha Peningkatan Ekonomi       Daerah dan Pendapatan Petani di Provinsi Aceh. Ekonomi Pembangunan 10 (2) : 250-266.

Nasaruddin dan Maulana, D. 2009. Produksi Tanaman Karet pada Pemberian        Stimulan Etephon. Agrisistem 5 (2) : 89-101.

Okoma, et all. 2011. Seasonal Variation of Tapping Panel Dryness Expression in    Rubber Tree Hevea brasiliensis muell. arg. in Cote D’ivoire. Agriculture and Biology 2 (3) : 559 – 569.

Palupi, dkk. 2008. Karakterisasi Perekat Siklo Karet Alam. Teknologi Pertanian 4 (1) : 19-24.

Setyamidjaja, N. 2000. Seri Budi Daya Karet. Yogyakarta : Kanisius.


Siregar, T. 2002. Teknik Penyadapan Karet. Yogyakarta : Kanisius. 

1 komentar:

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar