Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 21 Januari 2014

TEKNOLOGI PRODUKSI BUDIDAYA PADI

BAB.1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman padi (Oryza sativa) merupakan komoditas yang strategis di  Indonesia karena pada umumnya penggunaan beras sebagai bahan konsumsi makanan pokok bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang terus pesat dengan cepat, maka akan berdampak pada kebutuhan masyarakat terhadap pangan semakin besar juga salah satunya pada padi. Karena masyarakat Indonesia sering mengonsumsi beras yang mengandung sumber karbohidrat sangat besar yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari sumbe Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah penduduk Indonesia tahun 2011 sekarang mencapai 241 juta jiwa dan kebutuhan beras mencapai 34 juta ton per tahun. Untuk produksi padi pada tahun 2011 di Indonesia mencapai 68.06 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 38.2 juta  ton beras. Sedangkan untuk kebutuhan beras pada tahun 2025 diprediksi akan mencapai 48.5 juta ton  atau setara dengan 70 juta ton GKG.
Untuk memenuhi kebutuhan beras yang sangat besar dibandingkan produksinya dibutuhkan usaha peningkatan produksi dan produktivitas padi di Indonesia. Apa lagi pada tahun mendatang, upaya peningkatan produksi beras akan mendapat suatu permaslahan besar salah satunya perubahan fungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian dan degradasi kesuburan lahan. Dengan permaslahan yang komplek seperti ini maka di adakan suatu inovasi dan teknologi untuk menunjang produksi dari padi di Indonesia. Dalam pengembangan teknologi dan inovasi dalam bidang pertanian sangat dibutuhkan sekarang sebagai pembantu dalam mengelolah lahan maupun hasil-hasil pertanian.
Kemudian dalam pengembangan teknologi dan inovasi juga dibutuhkan sebagai pembaruan dari usaha tani tradisional guna lebih meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Usaha yang telah dilakukan dalam mengembangkan usaha tani mempunyai peran sangat penting karena dengan pengembangan teknologi dalam bidang usaha pertanian bertujuan untuk membantu para petani dalam mendapatkan keuntungan dalam proses budidaya salah satunya budidaya  padi.
            Dalam meningkatkan produksi padi faktor utama yang harus digunakan adalah penggunaan varietas unggul padi agar produksi tinggi dan teknologi budidaya padi yang hemat air tetapi produktivitasnya tinggi. Budidaya padi cara SRI merupakan salah satu alternatif jawaban dari permasalahan meningkatnya kebutuhan pangan yang ada. Prinsip dasar metode SRI adalah bertani secara ramah lingkungan, rendah asupan luar (low external input), menerapkan kearifan lokal (indigenous knowledge), membatasi penggunaan bahan kimia baik pestisida maupun pupuk.

1.2 Tujuan
Pada acara Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Pangan dan Perkebunan mengenai Teknologi Produksi Budidaya Padi terdapat beberapa tujuan yang ingim dicapai antara lain :
1. Untuk mrmahami dan menerapkan prinsip teknik produksi padi.
2. Untuk melatih keterampilan dalam menganalisa komponen teknologi produksi padi.
BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diskripsi Tanaman Padi
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan rumput berumpun (Marlina,2012). Tanaman padi merupakan tanaman semusim. Untuk jenis padi di bedakan menjadi  yaitu padi sawah dan padi gogo (Purnomo,2007). Pada padi sawah biasanya tanpa olah tanah yang merupakan salah satu alternatif yang patut dikaji (Prasetiyo,2002). Batang pada tanaman padi  beruas-ruas yang di dalamnya berongga (kosong). biasanya tinggi 1-1,5 meter. Pada tiap-tiap buku batang padi terdapat daun disekitar, yang berbentuk pita dan berpelepah. Pelepah pada padi membalut sekeliling seluruh bagian batang. Pada waktu memungkinkan untuk berbunga pada tiap-tiap batang keluar bunga. Bunga tanaman padi yaitu bunga majemuk dan terdapat 2 helai sekam kelopak dan 2 helai sekam mahkota. Sebutir padi berisi biji sebutir buah yang mana bisaanya disebut beras. Kemudian buah padi mempunyai selaput. Untuk klasifikasi pada tanaman padi sebagai berikut :
Regnum : Plantae
Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonea
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa

2.2 Pengertian Sistem SRI
Pengertian System of Rice Intensification (SRI) yaitu salah satu pendekatan praktek budidaya padi yang menekankan pada aspek manajemen pengolahan tanah, tanaman dan irigasi melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal setempat yang berbasis pada ramah lingkungan(Nurlaili,2011). Metode SRI mengutamakan metode hemat air disertai metode pengelolaan tanaman yang baik dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi hingga 30-100% bila dibandingkan dengan metode irigasi konvensional  (tergenang kontinyu) di daerah lainnya (Huda,2012). Metode SRI diterapkan dengan tujuan yaitu untuk  memperbaiki perakaran padi dengan cara pengaturan pengairan, menerapkan tanam tunggal, waktu tanam dini, dan memperbaiki kualitas tanah (Syamsudin,2009). Saat ini untuk petani masih kesulitan dalam mengadopsi SRI, dimana metode ini menjelaskan manajemen membutuhkan sumber daya terampil yang membutuhkan presisi tinggi dalam penanganan sumber daya pertanian (Rao,2011).

2.3 Sejarah Metode System of Rice Intensification (SRI)
Pengertian SRI menurut orang Jawa adalah seorang “Dewi” atau “sesuatu yang memberi kemakmuran bagi manusia” yang memberikan berkah kesuburan bagi tanah Jawa. Namun SRI yang dimaksudkan adalah serangkaian metode dalam budidaya tanaman padi. Pengertian SRI adalah System of Rice Intensification.
Sistem SRI (System of Rice Intensification) pertama kali diperkenalkan oleh seorang petani miskin di Madagaskar, Afrika Selatan pada tahun 1997. Pengetahuan petani didapatkan dari pengamatan terhadap tanaman padi yang tumbuh di pematang sawah. Oleh petani tersebut, tanaman padi diamati dan dibandingkan dengan tanaman lain yang ada di lahan. Dan hasilnya bahwa pada fase pertumbuhan tanaman padi yang ada dipematang itu tumbuh dengan lebat jika dibandingkan dengan tanaman yang ada dilahan.
Informasi lainnya bahwa System of Rice Intensification (SRI) ditemukan oleh Henri de Laulanie, pastur Jesuit asal Perancis yang tinggal di Madagaskar. Pada 1961 Henry yang berimigrasi ke negara di seberang timur di Benua Afrika itu berusaha mencari metode bertani untuk mendongkrak produktifitas padi guna meningkatkan kesejateraan petani. Pada tahun 1981 dia mendirikan sekolah pertanian di Antsirabe. Di sekolah ini menemukan metode SRI pada 1983. Melalui metode SRI, cara penanaman padi dilakukan dengan merubah total caranya. Pada intensifikasi (SRI) yang dikembangkan di Madagaskar dan diperluas untuk banyak negara lain yang mulai menganut metode SRI melalui kerjasama dengan Cornell International Lembaga Pengkajian Pangan, Pertanian dan Pembangunan (CIIFAD) (Hameed,2011).

2.4 Prinsip Sistem System of Rice Intensification  (SRI)
Terdapat enam prinsip SRI yang berpengaruh. Prinsip SRI pada intinya yaitu penanaman bibit muda dan tunggal, jarak tanam lebar, tidak digenangi dan menggunakan pupuk organik. Revolusi  pada metode SRI akhirnya memberikan hasil bahwaprinsip SRI dapat meningkatkan produksi padi secara signifikan (Saleh,2012). Oleh sebab itu maka prinsip dari System of Rice Intensification (SRI) akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Bibit Umur Muda
Pada umumnya petani terbiasa menggunakan bibit relatif tua sekitar 25 – 30 hari. Hal ini didasari pada keyakinan dari kebanyakan petani bahwa dengan menanam bibit tua akan menghasilkan tanaman yang tahan terhadap hama dan lebih kuat mudah menanamnya disamping itu pilihan pada bibit yang berumur tua.Akan tetapi dengan penggunaan bibit tua tidak maksimal. Oleh sebab itu maka menggunakan bibit cukup umur yang menanam bibit padi yang berumur 5–15 hari menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih cepat karena akar tercabut semua daya jelajah akar lebih jauh perkembangan akar menjadi maksimal pada akhirnya kebutuhan nutrisi tanaman tercukupi.
2. Tanam Tunggal
Dalam sistem tanam dengan menggunakan cara System of Rice Intensification (SRI) adalah jenis bercocok tanam dengan sistem satu lubang dalam satu batang bibit padi. Model tanam padi seperti ini sangat intensif dan efisien mengutamakan sistem perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air, dengan tetap menjaga produktifitas dan mengedepankan nilai ekologis sehingga produksi padi menjadi meningkat (Marlina,2012).
3. Jarak Tanam Lebar
Jarak tanam dalam metode SRI adalah jarak tanam lebar yaitu 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 40 cm. Semakin lebar jarak tanam, semakin meningkat jumlah anakan produktif yang dihasilkan oleh tanaman padi. dengan pengaturan jarak tanam antar tanaman padi  yang tepat diharapkan cahaya yang sampai ke tanaman maupun tanah akan optimal sehingga diharapkan tanaman padi akan mampu meningkatkan produktivitasnya dan memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani (Nurlaili,2011).
4. Penggunaan Pupuk Organik
Tanaman akan dapat tumbuh dengan baik, jika berada dalam lahan memiliki kualitas baik. Lahan yang berkualitas baik adalah lahan yang memiliki unsur hara mencukupi bagi tanaman dan memberikan kelayakan bagi tanaman. Pengertian pupuk organik merupakan proses akhir dari peruraian bagian-bagian atau sisa-sisa (serasah) tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, guano, tepung tulang dan lain sebagainya. Fungsi dari pupuk organik mampu menggemburkan lapisan permukaan tanah (top soil), meningkatkan jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, sehingga kesuburan tanah meningkat. Pupuk organik juga mempunyai kelebihan yaitu mempunyai kandungan hara yang rendah dan dipergunakan terutama untuk kesuburan fisik tanah supaya gembur(Marlina,2012).
5. Pengaturan Air
Tanaman padi membutuhkan air pada sebagian tahap kehidupannya. Sehingga banyak orang tahu bahwa tanamn padi harus slalu di aliri. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek sebagai syarat tumbuh. Pada budidaya SRI, kondisi ketersediaan air di lahan diatur agar lahan cukup kering namun tetap mencukupi kebutuhan air tanaman padi yang dibudidaya (Huda,2012).
6. Pengendalian hama dan gulma dengan metode organik
Pengendalian hama dalam metode SRI harus menerapkan cara organik dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu PHT yaitu dengan tujuan yaitu menjaga kesehatan tanam memgendalikan hama agar tidak terjadi kekebalan hama, pengendalian gulma secara manual.

2.5 Budidaya Metode System of Rice Intensification (SRI).
Ada beberapa prinsip budidaya dengan System of Rice Intensification (SRI) adalah sebagai berikut:
1.      Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan sesuai anjuran pada sistem konvensional. Syarat utamanya dengan diberikan pupuk kandang / kompos / pupuk hijau saat pembajakan tanah. Di sekeliling petakan dibuat parit sedalam 30 – 50cm untuk membantu saat periode pengeringan. Sehingg diharapkan lahan menjadi optimal.
2.      Pembibitan
Pembibitan dalam SRI sangat dianjurkan dilakukan dalam kontainer platik, kayu, anyaman bambu yang dilapisi daun pisang dan lain-lain. Hal ini untuk mempermudah saat pindah tanam. Media tanah untuk pembibitan mengandung bhana organik yang baik dengan ketebalan 4-5 cm. Bidang SRI akan tampak terlihat selama satu bulan atau lebih setelah tanam, karena tanaman sangat tipis dan kecil dan luas spasi. Pada bulan pertama tanaman padi yang akan ditanam mempersiapkan untuk anakan, selama bulan kedua, dan akan tumbuh anakan dimulai. Pada bulan ketiga, tumbuh tunas dan tanaman padi menjadi produksi banyak (Veeremani,2012).
3.      Pindah Tanam
Sebelum pindah tanam padi sebaiknya  pada lahan telah betul-betul rata dan kemudian dibuat garis tanam dengan menggunakan caplak agar pertanaman teratur dengan jarak tanam seragam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 30 x 30 cm, 35 x 35 cm, atau pada tanah yang subur dapat diperjarang sampai 50 x 50 cm.
4.      Pemupukan.
Pemupukan pada SRI ataupun pada umumnya dilakukan sesuai anjuran setempat, baik dosis maupun teknis pemberian. Substansi pemberian input yaitu pupuk disesuaikan dengan kandungan media tanamnya berdasarkan pemikiran-pemikiran yang tepat guna, mudah dan murah mudah dilakukan bagi petani.Oleh sebab itu sebuah paket teknologi yang bernuasa konservasi dalam pemakaian pupuk kandang, kapur, urea, TSP, dan KCl sesuai dengan kondisi setempat (Manalu,2012).
5.      Penyiangan / Pengendalian Gulma.
Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sebanyak sekurangnya 3 kali selama masa tanam sesuai dengan kondisi di lapangan. Pengendalian gulma yang baik sebaiknya menggunakan alat yang tidak merusak tanaman pokoknya.
6.      Pengairan
Pengairan pada metode SRI dilakukan secara kontinyu atau terputus-putus. Pada awal penanaman, pemberian air dilakukan sampai kondisi minimal macak-macak atau maksimal sekitar 2 cm. Kemudian dibiarkan mengering pada lahan  sampai kondisi tanah mulai terbelah-belah dan mulai lagi dengan pemberian air maksimal, begitu seterusnya. Kondisi tanah yang kering terbelah mempunyai tujuan yaitu memberikan kesempatan oksigen lebih banyak masuk dalam pori-pori tanah sehingga akan memperbaiki proses respirasi (pernapasan) pada perakaran padi. Faktor yang mempengaruhi pemberian air irigasi ke petak sawah antara lain adalah hujan efektif, kebutuhan konsumtif, perkolasi dan efisiensi irigasi (Rohma, 2006).
7.      Pengendalian Hama dan Penyakit.
Salah satu cara untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi baik pada metode umum maupun SRI yaitu dengan pemberian pestisida, khususnya pestisida organik. Pestisida organik didigolongkan menjadi dua jenis, yaitu pestisida nabati dan pestisida hewani yang mana semuanya memiliki tujuan agar tidak membahayakan tanaman padi (Marlina,2012).
8.      Panen
Biasanya pada System Of Rice Intensification (SRI) mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara,dengan berhasil hasil dari produktifitas padi sebesar 50 %, bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 % (Nurmayulis,2011). Untuk panen pada metode pada umumnya dilakukan setelah tanaman menua dengan ditandai dengan menguningnya semua bulir secara merata. Bila bulir padi digigit tidak sampai mengeluarkan air. Dari pengalaman di lapangan, dengan pemasakan bulir metode dengan SRI lebih cepat terjadi sehingga umur panen lebih cepat dan bulir padi lebih banyak dan lebih padat. Itulah keunggulan dari metode SRI.

DAFTAR PUSTAKA
Hameed, K. A. 2011. Application of System of Rice Intensification (SRI) Methods on Productivity of Jasmine Rice Variety in Southern Iraq. Jordan Journal of Agricultural Sciences, 7 (3): 474-481.

Huda, M. N. dkk. 2012. Kajian Sistem Pemberian Air Irigasi Sebagai Dasar Penyusunan Jadwal Rotasi Pada Daerah Irigasi Tumpang Kabupaten Malang. Teknik Pengairan,3(2): 221-229.

Manalu, F. dkk.2012. Pengujian Paket Teknologi Budidaya Padi (Oryza sativa L.). Agroekoteknologi Tropika, 1(2): 92-97.

Marlina, N. dkk.2012. Respons Tanaman Padi (Oryza sativa L.) terhadap Takaran PupukOrganik Plus dan Jenis Pestisida Organik dengan System of Rice Intensification(SRI) di Lahan Pasang Surut. Lahan Suboptimal, 1(2): 138-148.

Nurlaili. 2011. Optimalisasi Cahaya Matahari Pada Pertanaman Padi (Oryza sativa L.) System of Rice Intensification (SRI) Melalui Pendekatan Pengaturan Jarak Tanam. Agronobis, 3(5): 22-27.

Nurmayulis. dkk. 2011. Respons Nitrogen dan Azolla terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi Varietas Mira I dengan Metode SRI. Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, (1): 115-130.

Purnomo. H. P. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan. Jakarta: Penebar Swadaya.


Prasetyo. Y. T. 2002. Budi Daya Padi Sawah Tanpa Olah Tanah. Yogyakarta: Kanisisus.


Rao, R. 2011. Estimation of Efficiency, Sustainability and Constraints in SRI (System of Rice Intensification) vis-a-vis Traditional Methods of Paddy Cultivation in North Coastal Zone of Andhra Pradesh. Agricultural Economics Research Review(24): 325-331.

Rohma, N. 2006. Menyelamatkan Pangan Dengan Irigasi Hemat Air. Jakarta: IMPULSE.


Saleh, E. dkk. 2012. Budidaya Padi Di Dalam Polibeg Dengan Irigasi Bertekanan Untlik Antisipasi Pesatnya Perubahan Fungsi Lahan Sawah. Teknotan 6(1): 692-699.

Syamsudin, T. S., dan Aktaviyani, S. 2009. Penerapan Pemupukan Pada Pertanian Padi Organik Dengan Metode System Of Rice Intensification (Sri) Di Desa Sukakarsa Kabupaten Tasikmalaya. Agroland 16 (1): 1 – 8.

Veeramani, P., et all. 2012. Study of Phyllochron - System of Rice Intensification (SRI) Technique. Agricultural Science Research Journal 2(6): 329-334.



2 komentar:

Raja Benih Sayuran mengatakan...

postingan yang bagus banget...semoga bermanfaat, ditunggu postingan selanjutnya. salam kenal dari:Jual Benih Sayuran

master togel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar